Mabur.co– Kasus dugaan penganiayaan anak yang terjadi di Daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, kini tengah diselidiki kepolisian, memunculkan perhatian serius dari kalangan akademisi terkait dampak psikologis jangka panjang pada anak usia dini.
Psikolog Shintia Meriana Agustin, menyatakan, pengalaman traumatis di masa golden age berpotensi meninggalkan jejak emosional yang tidak selalu terlihat, namun dapat memengaruhi perkembangan perilaku dan kesehatan mental anak di kemudian hari.
“Anak-anak yang dititipkan di Daycare merupakan anak usia dini yang mengalami kekerasan berisiko mengalami trauma psikologis seperti kecemasan, ketakutan berlebihan, penarikan diri sosial. Bahkan bisa sampai gangguan stres pascatrauma (PTSD), depresi, juga gangguan tidur,” ucapnya, saat dikonfirmasi, Minggu (26/4/2026).
Shintia Meriana Agustin, menuturkan, anak yang dititipkan di Daycare dengan tindakan diskriminasi dan kekerasan tersebut akan mengalami trauma yang berdampak pada kondisi emosional, sosial, dan dapat mengganggu perkembangan otak.
Khususnya sistem regulasi emosi dan respons stres karena anak usia dini masih belum bisa membedakan/melihat tindakan/perbuatan negatif dari orang dewasa.
“Mereka akan susah menilai dan mencontoh tindakan tersebut atau malah menarik diri dan takut ke orang lain,” ujarnya.

Shintia Meriana Agustin menjelaskan, perilaku yang kelihatan/muncul pada anak nanti, mereka akan memperlihatkan perubahan yang signifikan sebagai hasil proses pembelajaran sosial. Dalam lingkungan sosial ia bisa jadi agresif.
Dampaknya, anak akan berpotensi merusak hubungan, kelekatan lingkungan sosialnya rusak. Bisa saja menganggap memukul itu boleh atau bisa sebaliknya anak jadi takut. Menarik diri, susah berkomunikasi karena bisa diancam.
Anak pun bisa hilang kepercayaan, baik ke guru, orang tua, dan lingkungan keluarga juga sekolah. Anak bakal tidak percaya diri, anak bakal merasa kesulitan membangun kepercayaan dan relasi sosial di masa selanjutnya. Seperti di SD, SMP, SMA.
“Kalau dilihat dari perilaku pengasuhnya, bisa jadi mereka stres karena kelelahan dalam mengasuh atau membawa masalah pribadi ke tempat bekerja di daycare. Bisa juga pengasuhnya nggak pernah dikasih pelatihan yang berisikan materi terkait tumbuh kembang anak, psikologi anak usia dini,” ucapnya.
Sementara itu, Dosen Departemen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Arumi Savitri Fatimaningrum menilai, masa awal kehidupan atau yang kerap disebut sebagai golden age merupakan periode penting dalam pembentukan dasar kepercayaan anak terhadap lingkungan sekitarnya.
Pada fase ini, anak sangat bergantung pada orang dewasa, baik orang tua maupun pengasuh, dalam memenuhi kebutuhan dasar sekaligus membangun rasa aman.
“Anak mungkin tidak ingat peristiwanya, tapi emosi yang dia rasakan itu bisa tersimpan dan muncul di kemudian hari. Ini yang berpotensi menjadi dampak jangka panjang,” ujarnya, saat dikonfirmasi mabur.co, Minggu (26/4/2026).

(Foto: Dokumentasi Pribadi)
Arumi menjelaskan, ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, atau bahkan digantikan dengan pengalaman negatif, hal ini berisiko mengganggu proses pembentukan rasa percaya yang menjadi fondasi utama dalam interaksi sosial anak di masa depan.
“Dampak yang muncul tidak selalu bersifat langsung dan kasat mata. Banyak kasus menunjukkan bahwa gangguan psikologis pada anak justru baru terlihat setelah mereka memasuki fase perkembangan berikutnya. Selain itu, ia menekankan pentingnya kepekaan orang tua dalam mengenali perubahan perilaku anak sebagai salah satu indikator awal adanya tekanan psikologis,” ucapnya.
Arumi menuturkan, perubahan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari perubahan emosi hingga gangguan fisik.
“Perubahan perilaku dan emosi yang drastis perlu diwaspadai. Misalnya anak sebelumnya ceria jadi pendiam, muncul agresivitas, atau mengalami gangguan tidur seperti mimpi buruk, itu bisa jadi indikator ada tekanan psikologis,” jelasnya. ***



