Tapa Pendhem, Makrifat Puisi Marjuddin Suaeb - Mabur.co

Tapa Pendhem, Makrifat Puisi Marjuddin Suaeb

Mabur.co- Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026, Komunitas Sastra-Ku menggelar Bedah Buku Puisi.

Kegiatan Bedah Buku Puisi ini di gelar di Aula Kembang Soka, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kulon Progo pada pukul 08.30 WIB. Buku Puisi yang dibedah berjudul Tapa Pendhem karya salah satu sastrawan senior Kulon Progo, Marjuddin Suaeb.

Three panelists sit on beige sofas during a discussion; the middle man speaks into a microphone while the others listen, and a woman on the right takes notes.
Dari kiri ke kanan: Marjuddin Suaeb, Marwanto, dan Yustina Eka. Foto: Dok. Sastra-Ku

Dalam bedah buku tersebut menghadirkan dua narasumber yaitu Marjuddin Suaeb selaku penulis buku dan Marwanto – salah satu sastrawan garda depan Kulon Progo – sebagai pembedah buku dan dimoderatori oleh Yustina Eka, salah satu pegiat Komunitas Sastra-Ku.

“Bedah buku puisi ini sekaligus peluncuran salah satu kegiatan dari komunitas Sastra-Ku yaitu SIKARTA (Apresiasi Karya Kita) yang perdana. Kegiatan SIKARTA ini akan digelar secara rutin 2 bulan sekali,” ungkap Tri Apriyadi selaku Ketua Komunitas Sastra-Ku, kepada mabur.co, Minggu (3/5/2026).

Man in a plaid shirt speaks into a handheld microphone on a stage with green carpet and floral decorations nearby.
Tri Apriyadi Ketua Komunitas Sastra-Ku. Foto: Dok. Sastra-Ku

Dalam acara bedah puisi tersebut, Marjuddin Suaeb mengungkapkan tentang alasan kenapa buku puisinya diberi judul Tapa Pendhem.

“Buku puisi ini yang memberi judul adalah sahabat saya, Ons Untoro, karena melihat saya yang selama kurang lebih tiga tahun ini, hampir tidak pernah ke mana-mana karena harus merawat ibu saya yang sakit. Tetapi tetap terus menulis puisi. Selain itu puisi berjudul Tapa Pendhem ada dalam buku ini pada halaman empat,” ujarnya.

Page with Indonesian poem titled 'TAPA PENDHEM'; four stanzas of verse, page 4 visible at bottom left.
Puisi Tapa Pendhem karya Marjuddin Suaeb. Foto: Dok. Sastra-Ku

Sementara itu, Marwanto, selaku pembedah buku mengungkapkan bahwa dengan buku puisi ini semakin memantapkan gaya puisi Marjuddin Suaeb.

“Dimulai dari puisinya Antologi Puisi Nyanyian Bukit Menoreh, buku puisi Teka-Teki Abadi dan Trilogi  Teka-Teki Titik Nol, dengan buku puisi Tapa Pendhem ini beliau semakin mantap dengan gaya puisinya yang khas dan unik. Gaya ungkap yang singkat, tegas tapi bermakna  Saya setuju dengan Fauzi Absal dalam pengantar buku ini bahwa puisi Marjuddin ini adalah ‘mata uang baru’,” begitu ungkap Marwanto.

Dalam acara bedah buku puisi ini, juga ada sesi tanya jawab dan pembacaan puisi yang ada dalam buku Tapa Pendhem. Tampil sebagai pembaca puisi adalah Tri Apriyadi, Siti Wahyuni, Siwi Nurdiani, Fajar R Ayuningtyas dan Ragil Prasedewo. ***       

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *