Pendidikan Berbasis Budaya Perlu Disederhanakan dan Aplikatif bagi Anak - Mabur.co

Pendidikan Berbasis Budaya Perlu Disederhanakan dan Aplikatif bagi Anak

Mabur.co– Pendidikan berbasis budaya dinilai tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman, namun perlu disederhanakan agar lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh anak-anak.

Budaya Nusantara sejatinya menyediakan perangkat pendidikan dan pengasuhan yang komprehensif melalui seni tradisi dan praktik keseharian.

Dalam konteks budaya Jawa, nilai-nilai seperti asah, asih, asuh, andhap asor, dan ngemong rasane bocah bukan hanya ajaran normatif, tetapi juga prinsip relasional yang mendukung empati, regulasi emosi, serta keharmonisan sosial dalam keluarga.

Nilai-nilai ini memiliki potensi besar sebagai sumber daya kultural dalam membangun resiliensi berbasis budaya.

Kepala Dinas Kundha Kabudayan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S.,M.A, mengatakan, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan mengadakan Sarasehan Nasional “Resiliensi Berbasis Budaya Kesehatan Mental, Pendidikan, dan Pembentukan Karakter untuk Menjawab Tantangan Zaman”. Digelar di Taman Budaya Embung Giwangan, Kota Yogyakarta, Sabtu (2/5/2026).

Resiliensi berbasis budaya dan pendidikan serta penguatan karakter, substansinya menjadi sangat signifikan. Menjadi kebutuhan mendesak di era kondisi saat ini.

Woman wearing a light gray hijab and round glasses at a conference, standing in front of a banner with speakers’ photos and text behind her.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Di mana pendidikan karakter, bagaimana ketahanan keluarga, menjadi hal-hal yang sering sekali dibicarakan akhir-akhir ini di Yogayakarta.

“Basis budaya ini menjadi satu penguatan bagaimana nilai-nilai budaya itu kemudian mampu dieksplorasi, mampu dipresentasikan dan direalisasikan secara tepat. Bisa diterjemahkan dalam satu langkah konkret bagaimana mengasuh anak, bagaimana menguatkan keluarga,” ucapnya.

Dian mengatakan, selama ini, Resiliensi Berbasis Budaya Pendidikan, terutama dari sektor kebudayaan, sebenarnya sudah cukup erat misalnya saat berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga dan juga dengan DP3AP2 Pemberdayaan Anak dan Perlindungan Anak dan juga ibu yang terkait dengan keluarga.

“Banyak program kami yang kemudian kami desain tidak dalam cara yang konvensional. Seperti sosialisasi. Tapi yang pertama kami coba siapkan adalah satu roadmap yang kemudian bisa menerjemahkan nilai-nilai luhur masa lalu. Kalau sekarang tepatnya kayak apa, nilai-nilai maju sekarang seperti apa.

Hal ini kemudian kita gabungkan karena tidak semua nilai-nilai budaya itu tepat, sehingga kita kaji, mana nilai masa lalu yang tetap relevan, tetapi kemudian terjadi pelemahan. Itu ada distorsi, gitu. Kemudian kita sesuaikan dengan nilai-nilai budaya maju sekarang,” ucapnya.  

Dian mengatakan, akan coba satu program. Kalau di Dinas Kebudayaan disebut dengan satu pelatihan tata nilai. Tapi dengan konsep sinau bareng. Sinau bareng ini, suatu kegiatan yang sebenarnya kadang orang tidak mengerti.

“Dalam hal ini kita memiliki agen-agen budaya melalui teman-teman kami dari tenaga pendamping di Kelurahan dan Kalurahan Budaya Se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satunya juga melalui program-program permainan tradisional yang langsung praktik. Tetapi tidak kemudian hanya fisiknya saja, tapi di setiap langkah itu kemudian kita narasikan,” ucapnya.

Dian  menjelaskan, Yogyakarta  memiliki kekayaan nilai budaya yang dapat menjadi fondasi kuat dalam pendidikan karakter. Pendekatan pendidikan tidak harus selalu bertumpu pada teori baru, karena nilai-nilai lokal seperti Tut Wuri Handayani telah lama menjadi pijakan yang relevan.

“Kita tidak perlu mencari teori ke mana-mana. Kita sudah punya dasar yang kuat dari budaya kita sendiri,” ungkapnya.

Dian menekankan pentingnya penyesuaian metode agar sesuai dengan dunia anak. Anak-anak, bukanlah miniatur orang dewasa sehingga pendekatan pembelajaran harus lebih sederhana dan kontekstual.

“Perlu ada penyederhanaan pola pikir terhadap apa yang ingin disasar, supaya mudah diterima dan menjadikan anak sebagai subjek. Yang terpenting, harus aplikatif,” tegasnya.

Dian juga menyoroti proses belajar tidak selalu harus dalam bentuk pengajaran langsung.

“Dalam tradisi Jawa, nilai-nilai kehidupan justru banyak disampaikan melalui media seperti wayang, tembang, dan cerita rakyat. Orang Jawa itu menemukan cara belajar tanpa menggurui. Anak-anak itu seeing is believing, mereka belajar dari apa yang dilihat dan dirasakan,” katanya.

Dian mengingatkan pentingnya peran lingkungan, khususnya keluarga, dalam membentuk karakter anak. Lingkungan yang tidak sehat, termasuk pola asuh yang kurang tepat, dapat berdampak pada menurunnya kepercayaan diri dan semangat juang generasi muda.

Ia juga menyinggung meningkatnya keresahan terkait kesehatan mental anak dan remaja yang perlu menjadi perhatian bersama.

Pimpinan PPDK Kemuning Kembar Parama Witatama, Indria Laksmi Gamayanti (memegang mikropon) saat memberikan sambutan. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Pimpinan PPDK Kemuning Kembar Parama Witatama, Indria Laksmi Gamayanti, menyampaikan, selama ini masyarakat kerap melupakan bahwa Indonesia memiliki beragam model pendidikan dan pengasuhan berbasis tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

“Melalui sarasehan ini, kami ingin menggali kembali praktik-praktik tersebut, sekaligus mengkajinya dari perspektif psikologi perkembangan anak, khususnya dalam membangun ketahanan mental,” jelasnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *