Wajik, Kuliner Ikonik Identitas Masyarakat Jawa - Mabur.co

Wajik, Kuliner Ikonik Identitas Masyarakat Jawa

Mabur.co – Siapa tak kenal wajik, kuliner tradisional yang dibuat dengan bahan sederhana ini begitu dikenal dan telah menjadi identitas penting bagi masyarakat di Pulau Jawa. 

Disebut dalam naskah Serat Centhini, konon wajik juga merupakan salah satu kuliner tertua yang ada di Jawa dan sudah ada sejak era Kerajaan Majapahit. 

Tak sekadar camilan biasa, wajik yang merupakan jajan pasar ini ternyata juga memiliki nilai filosofi mendalam dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa sampai saat ini.

Baik itu sebagai makanan camilan sehari-hari, acara hajatan, upacara adat, ritual keagamaan, hingga perayaan penting kerajaan. 

Penamaan wajik sendiri diperkirakan diambil dari bentuknya berupa kotak persegi atau wajik dalam bahasa Jawa. Bentuk inilah yang kemudian menjadi ciri khas kuliner tradisional ini sampai saat ini. 

Terbuat dari beras ketan, gula jawa, santan, dan kelapa, wajik dikenal memiliki cita rasa yang manis serta memiliki tekstur yang legit dan lengket.

Dikutip dari laman Museum Sonobudoyo, Minggu (3/5/2026), cita rasa, bentuk, dan teksur itulah, yang kemudian mendasari filosofi mendalam wajik.

Lengketnya wajik melambangkan persatuan, kekompakan, dan kebersamaan, yang sudah menjadi ciri khas masyarakat Jawa. 

Begitu pula rasa manis dan legit wajik yang mengingatkan akan ciri masyarakat Jawa yang selalu ingin hidup penuh kebahagiaan, keberkahan, dan kesejahteraan. 

Pada masa Kerajaan Mataram Islam, wajik semakin mendapat tempat istimewa dalam tradisi keraton. Hal itu terlihat dalam penggunaan wajik sebagai bagian penting upacara Garebeg di Keraton Yogyakarta. 

Wajik digunakan sebagai salah satu bahan baku utama dalam pembuatan gunungan. Prosesi sakral pembuatan gunungan dengan memanfaatkan wajik ini bahkan harus dipimpin langsung oleh permaisuri atau anak kandung Sultan dan dikenal dengan istilah “Nampan Wajik”.

Dalam tradisi tersebut, wajik menjadi perekat berbagai hasil bumi yang disusun menjadi gunungan. Setelah seluruh rangkaian ritual selesai, wajik ini kemudian akan diperebutkan oleh masyarakat karena dipercaya membawa berkah dan keberuntungan.

Namun terlepas dari semua itu, wajik tetaplah masakan tradisional yang bisa dibuat dan dinikmati siapa saja. Proses perbuatannya pun sangat mudah dan sederhana.

Untuk membuat wajik yang perlu disiapkan bahan-bahannya seperti beras ketan, gula jawa, gula pasir, santan, kelapa, serta daun pandan.

Cara memasaknya juga sederhana. Kukus beras ketan hingga matang. Setelah itu, campur dengan santan dan kelapa parut. Lalu didiamkan dan dikukus kembali sampai matang.

Selanjutnya, gula merah, gula pasir, dan daun pandan dimasak hingga menjadi larutan kental. Ketan matang kemudian dimasukkan ke dalam larutan gula dan diaduk terus hingga meresap sempurna.

Setelah itu, adonan dituangkan ke dalam loyang beralas daun pisang, diratakan, dipadatkan, dan didinginkan sebelum dipotong sesuai selera. Wajik pun siap dihidangkan. *** 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *