Perjanjian Roem Royen, Tonggak Sejarah Indonesia dan Belanda - Mabur.co

Perjanjian Roem Royen, Tonggak Sejarah Indonesia dan Belanda

Mabur.co-Salah satu peringatan yang jatuh pada 7 Mei adalah Hari Perjanjian Roem Royen.

Peringatan nasional tersebut untuk memperingati lahirnya Perjanjian Roem Royen dalam mempertahankan kedaulatan NKRI.

Perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan melalui pertempuran bersenjata, tetapi juga lewat jalur diplomasi.

Salah satu perundingan penting yang menjadi tonggak sejarah bangsa adalah Perjanjian Roem Royen yang berlangsung pada 7 Mei 1949 antara Indonesia dan Belanda.

Perjanjian ini menjadi langkah besar menuju pengakuan kedaulatan Indonesia setelah Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II dan menahan sejumlah pemimpin Republik Indonesia

Dilansir dari laman idsejarah.net, Kamis (7/5/2026), perjanjian Roem Royen dilatarbelakangi situasi politik dan militer yang memanas setelah Belanda menyerang Yogyakarta pada Agresi Militer Belanda II.

Saat itu Belanda mengklaim Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah hancur dan Republik Indonesia sudah tidak lagi memiliki kekuatan.

Namun propaganda tersebut justru memicu kecaman dunia internasional, terutama dari Amerika Serikat, Inggris, dan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Tekanan internasional membuat PBB turun tangan melalui perubahan Komisi Tiga Negara (KTN) menjadi UNCI atau United Nations Commission for Indonesia.

UNCI dipimpin Merle Cochran dari Amerika Serikat dengan anggota Critchley dari Australia dan Harremans dari Belgia.

Lembaga inilah yang kemudian menjadi penengah dalam upaya mempertemukan Indonesia dan Belanda di meja perundingan.

Perundingan Roem Royen dimulai pada 14 April 1949 hingga mencapai kesepakatan pada 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta.

Delegasi Indonesia dipimpin Mohammad Roem dengan anggota seperti Ali Sastroamidjojo, Dr. Leimena, Ir. Juanda, Prof. Supomo, dan Latuharhary.

Sementara pihak Belanda dipimpin Herman van Royen bersama sejumlah anggota delegasi lainnya.

Jalannya perundingan berlangsung alot karena kedua pihak memiliki kepentingan yang berbeda.

Dalam kesepakatan tersebut, terdapat beberapa poin penting yang disetujui kedua pihak.

Indonesia setuju menghentikan aktivitas gerilya dan bersedia menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB).

Sementara itu Belanda sepakat menghentikan operasi militer, membebaskan tahanan politik, serta mengembalikan pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta.

Selain itu, Belanda juga menyetujui penyerahan kedaulatan kepada Indonesia tanpa syarat.

Kesepakatan ini menjadi langkah awal menuju pengakuan resmi kedaulatan Indonesia oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *