Di Balik Tradisi Suran Ki Demang Cakradikrama

2 Min Read
Nighttime street procession: three people carry large framed portraits adorned with garlands, walking barefoot or in traditional clothing.
Warga sedang membawa foto Ki Demang Cakradikrama, seorang demang yang menjadi sosok pemimpin dan pengayom di wilayah sekitar Kali Bedog dan Kali Bayem. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co– Kebudayaan adalah warisan sosial yang dimiliki oleh masyarakat pendukungnya dengan jalan mempelajari. Salah satu bentuk kebudayaan adalah berupa tradisi.

Seperti tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Modinan, Kalurahan Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, yaitu upacara tradisi Suran Mbah Demang. Upacara ini dilaksanakan pada Bulan Suro. 

Carik Banyuraden, Hendy Indra mengatakan, Ki Demang Cakradikrama adalah seorang demang yang menjadi sosok pemimpin dan pengayom di wilayah sekitar Kali Bedog dan Kali Bayem (wilayah Kalurahan Banyuraden saat ini yang meliputi wilayah sekitar Dowangan, Modinan, Sukunan dan Demak Ijo). Pada masa belianya, Ki Demang Cakradikrama dikenal sebagai Asrah, putra dari Bekel Cakrajaya.

Bekel Cakrajaya kemudian menitipkan Asrah kepada Demang Dowangan untuk dididik secara fisik, mental, dan spiritual.

”Dalam perjalanan waktu, Asrah kemudian dikenal sebagai seorang yang dermawan, bijak, tangkas, fisik prima, piawai dan memiliki jiwa kepemimpinan yang unggul. Di bawah asuhan Demang Dowangan, Asrah mulai belajar hidup disiplin. Ia ditugaskan menggembala itik dan mencari kayu bakar sepulang sekolah,” katanya, Rabu (24/6/2026).

A nighttime street procession with people in traditional batik clothing; some carry framed black-and-white portraits draped with garlands while others hold ceremonial staffs and ceremonial garments nearby.
Upacara tradisi Suran Mbah Demang. Upacara ini dilaksanakan pada Bulan Suro. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Hendy mengatakan pula, seiring beranjak dewasa, Demang Dowangan memberikan titah agar Asrah menjalani pertapaan selama sebulan penuh.

Bertapa

”Konon, selama bertapa itulah Asrah memperoleh sebuah kitab yang membuatnya dikenal sakti,” ucapnya.

Hendy mengatakan lagi, Asrah diangkat menjadi mandor di perkebunan tebu dan kemudian dipercaya menjadi demang pabrik gula di kawasan Demak Ijo.

Sejak saat itu pula, Asrah berganti nama menjadi Demang Cakradikromo, nama yang masih harum diingat warga Banyuraden hingga kini.

Semasa hidupnya Ki Demang Cakradikromo menjalani laku prihatin yang cukup berat. Ia menahan diri untuk tidak makan garam, melakukan tapa bisu dengan mengelilingi rumahnya, serta hanya mandi sekali setahun, tepat pada malam 7 Suro.

“Ki Demang juga terkenal ramah pada siapa pun yang datang bertamu,” ucapnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment