Mabur.co- Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menggelar acara ‘Gerebek Ikan Sapu-sapu’ di Rawa Kalibayem, Ngestiharjo, Kasihan, Kabupaten Bantul.
Ratusan kilogram ikan sapu-sapu berhasil ditangkap. Langkah ini dilakukan untuk menekan populasi ikan predator yang dinilai mengancam kelestarian ikan lokal di perairan DIY, khususnya Kabupaten Bantul.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, R. Hery Sulistio Hermawan menjelaskan, ikan yang berasal dari Sungai Amazon, Amerika Selatan diimpor ke Indonesia di era tahun 70-an sebagai ikan hias karena kemampuannya memakan lumut.
“Seiring waktu kemudian ikan ini dilepas ke perairan umum, sehingga dengan sifatnya yang invasif dan tidak punya predator alami, ikan ini berkembang biak dengan cepat, lalu mendominasi perairan dan menggeser populasi ikan lokal,” ujarnya saat ditemui mabur.co di lokasi, Kamis (7/5/2026).

Hery mengatakan, kegiatan tersebut menjadi langkah awal pengendalian ikan sapu-sapu yang diharapkan dapat diperluas ke sejumlah titik perairan lainnya di DIY.
Dinas Kelautan dan Perikanan DKP DIY, berkolaborasi dengan Danlanal, Dirpol Air, PSDKP KKP RI, Badan Karantina Hewan dan Tumbuhan DIY, Fakultas Biologi UGM, dan Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM serta juga elemen warga masyarakat.
“Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk memastikan keberadaan ikan invasif tidak semakin merusak keseimbangan ekosistem perairan dan mengancam populasi ikan lokal,” ucapnya.
Hery menuturkan, dalam kegiatan tersebut, total ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap mencapai 131 kilogram. Ia menilai jumlah tersebut sudah cukup membantu menekan populasi meskipun pengendalian masih berada pada tahap awal.
“Ada sebanyak 131 kg yang ditangkap. Ini sudah bisa menurunkan populasi yang ada, meskipun baru tahap awal. Kapal dari Lanal dan Polairud juga masih ditinggal. Rencana akan dilanjutkan oleh masyarakat dalam beberapa hari ke depan,” sambungnya.
Hery menjelaskan, sebagian sampel ikan sapu-sapu yang ditangkap akan diteliti oleh Fakultas Biologi UGM untuk mengetahui kandungan nutrisi dan tingkat keamanannya apabila dimanfaatkan sebagai bahan konsumsi maupun kebutuhan lain.
Sementara ikan hasil tangkapan lainnya langsung dikubur oleh petugas di lokasi kegiatan. Hasil penelitian nantinya akan menentukan kemungkinan pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan pakan ternak atau tepung ikan untuk kebutuhan budidaya perikanan.
“Untuk pengujian mungkin ikan itu nanti bisa digunakan sebagai pakan atau tepung ikan yang bisa disiapkan untuk kegiatan budidaya ikan kita, dibuat pakan pelet, kemudian bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Hery menilai, keberadaan ikan sapu-sapu yang tidak terkendali dapat menyebabkan populasi ikan lokal terus menyusut.
Oleh sebab itu, dibutuhkan gerakan berkelanjutan antara pemerintah dan masyarakat untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan di Bantul maupun wilayah DIY lainnya.
“Pekerjaan rumah kita ke depan adalah bagaimana mengurangi populasi ikan invasif yang ada di perairan Kalibayem ini serta menjaga dan mengawal ikan-ikan lokal agar tetap bisa lestari,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa gerebek ikan sapu-sapu ini sebagai momentum untuk menangkap, mengurangi populasinya sekaligus memanfaatkannya setelah menganalisa kandungan nutrisi, kandungan bakteri e-coli dan juga kandungan logam beratnya.
Dari data yang dihasilkan, Hery mengatakan, akan bisa dilihat ikan-sapu-sapu yang hidup di Jogja dalam hal ini yang hidup di Rawa Kalibayem kondisinya seperti apa.
“Kalau berbahaya, maka tidak boleh kita konsumsi. Tapi kalau ini aman dan layak kita konsumsi, tentunya akan kita sampaikan kepada masyarakat agar bisa dimanfaatkan, diolah menjadi nutrisi. Tapi bila diperlukan penanganan khusus, kami melibatkan perguruan tinggi yang akan ikut mengawal posisi ikan ini,” jelasnya.
Pengajar di Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM, Prof. Alim Isnansetio, memberikan apresiasi dan sambut positif kegiatan gerebek ikan sapu-sapu ini.
“Saya berharap kegiatan ini dapat berkesinambungan dan terintegrasi,” ucapnya.

Prof. Alim mengatakan, agar populasinya tidak meledak kembali diperlukan penjadwalan penangkapan secara rutin dan diikuti dengan perbaikan kualitas air ekosistem ekologi di perairan tersebut.
Karena apabila kualitas perairannya jelek maka ikan-ikan asli juga tidak dapat berkembang dengan baik.
Setelah perbaikan lingkungan perairan benih ikan lokal akan ditebarkan yang diiringi dengan imbauan kepada masyarakat agar tidak lagi melepaskan ikan sapu-sapu, dan selalu menangkap ikan sapu-sapu secara rutin agar populasinya bisa dikendalikan.
Dengan cara-cara tersebut populasi ikan sapu-sapu bisa dikontrol dengan baik.
“Di beberapa tempat seperti di Sulawesi Selatan, ikan ini kerap dikonsumsi ataupun dijadikan sebagai bahan pembuat pakan. Namun demikian, di lebih banyak tempat ikan ini dianggap sebagai hama, sehingga pemerintah melalui BRIN dan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengklasifikasikan ikan ini sebagai jenis invasif yang dapat merusak ekosistem (Permen KP No. 19 tahun 2020),” ucapnya.
Sementara itu, Pengawas Perikanan Ahli Muda DKP Bantul, Irawan Waluyo Jati, menyebut penyebaran ikan sapu-sapu di sejumlah perairan darat Bantul saat ini semakin mengkhawatirkan.
Spesies tersebut dikenal memiliki daya tahan tinggi dan berkembang biak dengan cepat sehingga sulit dikendalikan.
“Ikan sapu-sapu ini termasuk spesies invasif yang mengganggu keseimbangan ekosistem. Populasinya sangat cepat meningkat dan membuat ikan lokal semakin terdesak,” katanya.
Irawan mengatakan, kegiatan pembasmian ikan sapu-sapu yang melibatkan DKP DIY, masyarakat, aparat keamanan, dan perguruan tinggi menjadi langkah awal yang dinilai efektif untuk menekan populasi ikan predator tersebut.
“Kegiatan serupa juga direncanakan dilakukan secara berkala di sejumlah titik perairan lain di Kabupaten Bantul,” ucapnya.



