Mabur.co – Mantan Kadiv Propam Polri, Ferdy Sambo, yang tengah menjalani hukuman penjara seumur hidup di Kelas IIA Cibinong, Jawa Barat, kembali menjadi sorotan publik.
Hal itu setelah ia dikabarkan berhasil menyelesaikan pendidikan pascasarjana dengan meraih dua gelar magister di bidang teologi secara sekaligus dari balik penjara.
Kabar terbaru mantan perwira tinggi Polri yang terbukti bersalah setelah menghabisi anak buahnya itu ramai beredar di media sosial.
Dimana sejumlah postingan memperlihatkan bahwa nama Ferdy Sambo ditulis dengan tambahan gelar akademik Master of Theology (M.Th) dan Master of Theological Studies (M.T.S.).
Nama itu terlihat dalam selembar kertas berupa undangan acara sumpah dokter putrinya, Trisha Eungelica Ardyadana Sambo.
Tak hanya itu, di media sosial juga beredar foto Ferdy Sambo tengah bersama sejumlah warga binaan lainnya saat mengikuti kegiatan pembinaan rohani di dalam lapas.
Dimana dalam postingan itu juga disertai dokumen jurnal akademik yang disebut ditulis oleh Sambo dengan judul “Pengaruh Entrepreneur Kristen sebagai Upaya Pencegahan Fraud Risk Management”.
Kabar keberhasilan sambo menyelesaikan kuliah hingga mendapat gelar Master itu pun langsung menarik perhatian masyarakat.
Tak sedikit netizen terkejut karena Sambo tetap dapat melanjutkan pendidikan tinggi meski sedang menjalani hukuman penjara seumur hidup.
Berdasarkan informasi yang beredar, Ferdy Sambo sendiri disebut mengikuti program magister di Sekolah Tinggi Teologi Global Glow Indonesia.
Sementara itu dikutip Tribunnews, Rabu (13/5/2026), Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) membenarkan adanya kabar tersebut.
Ia juga menjelaskan bahwa setiap warga binaan termasuk Sambo memang diperbolehkan mendapatkan pendidikan atau perkuliahan sesuai aturan yang berlaku di Indonesia.
Hak tersebut juga dijamin dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan.
Kasubdit Kerja Sama Ditjen PAS, Rika Aprianti, mengatakan seluruh warga binaan memiliki hak yang sama untuk melanjutkan pendidikan selama menjalani masa pembinaan di lapas.
Menurut Rika, program pendidikan bagi narapidana bukan hanya diberikan kepada Ferdy Sambo saja namun juga oleh sejumlah warga binaan lainnya.
Hal itu tak lepas karena sejak beberapa tahun terakhir, sejumlah lapas di Indonesia telah bekerja sama dengan institusi pendidikan untuk membuka akses perkuliahan bagi warga binaan.
“Sampai saat ini masih berjalan. Di Lapas Pemuda Tangerang misalnya, sejak tahun 2020-an sudah ada warga binaan yang melanjutkan pendidikan S1. Jadi bukan hanya tentang Ferdy Sambo saja, tetapi juga semua warga binaan,” ujarnya.




