Mabur.co- Upacara adat Sadranan Gunung Gambar yang berada di Kalurahan Jurang Jero, Kapanewon Ngawen, Gunungkidul, tahun ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya.
Pada tahun ini Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Haryo (KGPAA) Mangkunegoro X atau Gusti Bhre, datang langsung untuk mengikuti ritual adat di situs bersejarah.
Upacara sadranan dimulai dengan menyiapkan sesaji yang dibentuk menjadi gunungan.
Sesaji lalu diarak ke lokasi gunung gambar. Usai di lokasi gunungan didoakan lalu diperebutkan oleh masyarakat.
Gusti Bhre menyampaikan bahwa kebudayaan adalah perwujudan dari prinsip hidup manusia yang tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk lingkungan, alam, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Kita semua berharap kolaborasi dan sinergi ini dapat memajukan kehidupan kemasyarakatan melalui pelestarian budaya,” tuturnya.

Lurah Jurang Jero, Suparno, mengatakan, masyarakat berharap agar ke depannya Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dapat memasukkan Sadranan Gunung Gambar ke dalam agenda rutin.
Hal ini penting agar para pemangku adat dan masyarakat dapat terus melestarikan situs sejarah ini dengan lebih baik.
Upacara Sadranan ini juga menjadi potret kerukunan warga.
“Saya berpesan agar masyarakat tetap bersatu dalam bingkai budaya tanpa membeda-bedakan latar belakang agama. Budaya harus dibawa, agama dijalankan, jangan sampai memecah belah karena tradisi adat ini adalah pengikat kita semua,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).
Sejarah Gunung Gambar
Pemangku adat, Podo Winarno menjelaskan, menurut sejarah gunung gambar saat abad ke-15 atau sekitar 1550, atas perintah Prabu Brawijaya Raja Majapahit kala itu, Raden Gading Mas melakukan pertapaan untuk mencari wahyu keraton bersama Raden Onggo.
Tempat pertapaan Raden Gading Mas yakni sebuah gua kecil yang dulu bernama gempol dan sekarang disebut gunung gambar.
Selain bertapa Raden Gading Mas merupakan sesepuh cikal bakal masyarakat sekitar gunung gambar.
“Dulu setiap hari Senin Legi dan Kamis Legi Ki Ageng Panutan, melakukan wejangan terhadap murid-muridnya di atas puncak gunung gambar, sehingga untuk mengenang diadakan peringatan upacara adat sadranan,” katanya.
Podo Winarno mengatakan, kehadiran pemimpin dari Mangkunegaran dan pemerintah daerah merupakan kolaborasi luar biasa yang mempererat tali silaturahmi serta diharapkan dapat menambah berkah bagi warga.
“Gunung Gambar memiliki nilai historis yang mendalam sebagai petilasan (tempat persinggahan) Pangeran Sambernyowo dalam sejarah perjuangannya. Saya berharap pentingnya menjaga tradisi ini agar tidak hilang ditelan zaman, mengingat Gunung Gambar adalah warisan leluhur yang harus tetap hidup,” ujarnya.




