Pelemahan Nilai Rupiah, Pukulan Berat Perajin Tempe di Daerah - Mabur.co

Pelemahan Nilai Rupiah, Pukulan Berat Perajin Tempe di Daerah

Mabur.co – Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh angka Rp17.600 menjadi pukulan berat bagi para perajin tempe di berbagai daerah. 

Hal itu tak lepas karena kenaikan harga dolar berdampak langsung pada melonjaknya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe.

Kondisi tersebut otomatis membuat para perajin tempe mengalami penurunan pemasukan akibat biaya operasional yang terus membengkak. 

Salah satu perajin tempe yang merasakan dampak tersebut adalah Budi Susanto, asal Dusun Pepen Kulon, Giripeni, Wates, Kabupaten Kulon Progo.

Budi mengaku mengalami penurunan pendapatan secara signifikan sejak nilai tukar rupiah terus melemah dalam beberapa waktu terakhir.

Menurutnya, kenaikan harga kedelai impor sangat memengaruhi biaya produksi tempe yang ia jalankan setiap hari.

“Harga kedelai impor yang sebelumnya sekitar Rp8 ribu per kilogram, sekarang naik menjadi Rp11 ribu per kilogram,” ujar Budi kepada mabur.co, Senin (18/5/2026).

Harga Plastik Juga Naik Tajam

Tak hanya kedelai, harga plastik untuk pembungkus tempe juga mengalami kenaikan cukup tajam.

Jika sebelumnya satu pak plastik dibeli dengan harga Rp50 ribu, kini harganya mencapai Rp100 ribu per pak.

Akibat kenaikan berbagai bahan baku tersebut, Budi mengaku mengalami penurunan pemasukan hingga 30 sampai 40 persen. 

Untuk menyiasati semakin tipisnya margin keuntungan, ia pun terpaksa memperkecil ukuran tempe yang diproduksinya.

Selain itu, Budi juga mempertimbangkan untuk menaikkan harga jual tempe sebesar Rp500 per bungkus guna menutupi mahalnya biaya produksi saat ini.

“Sementara ini ukurannya yang terpaksa diperkecil. Namun kemungkinan tetap akan menaikkan harga jika harga kedelai terus naik,” ungkapnya. 

Setiap hari, Budi sendiri mengaku membutuhkan sekitar 100 kilogram kedelai impor untuk diolah menjadi tempe.

Produk tempe buatannya dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional di wilayah Kulon Progo dan sekitarnya.

Harga jual tempe yang diproduksinya bervariasi, mulai dari Rp2 ribu per bungkus untuk ukuran kecil hingga Rp6 ribu untuk ukuran besar.

Sebagai perajin kecil, Budi berharap nilai tukar rupiah dapat segera membaik agar harga kedelai di pasaran kembali normal dan usaha para perajin tempe dapat bertahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *