Mabur.co– Ketua Umum Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Kabupaten Bantul, Heri Sujoko, SE.AK, mengatakan, penghayat kepercayaan sering disebut agama lokal.
Senantiasa mengajarkan berbuat baik kepada sesama kemudian hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk, menghargai, menghormati keberadaan dari kelompok maupun penganut agama lain yang berbeda.
“Nilai-nilai luhur ini sangat penting, untuk menopang pembangunan karakter bangsa melalui benteng budaya, melawan ancaman tantangan global dalam penguatan ritual budaya yang bisa dilakukan bersama,” ujarnya saat diwawancarai mabur.co via telepon, Rabu (20/5/2026).

Heri mengatakan, penghayat kepercayaan ini terhimpun dalam wadah, baik organisasi perguruan, paguyuban.
Untuk Kabupaten Bantul ada 19 paguyuban yang telah memiliki nomor inventarisasi di Kementerian Kebudayaan Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat.
”Di dalam Penghayat kepercayaan mengajarkan ajaran-ajaran yang mengandung nilai religi yaitu ajaran tentang Ketuhanan yang Maha Esa, kewajiban manusia kepada Tuhan yang Maha Esa,” ujarnya.
Heri mengatakan pula, dalam ajaran ini mengandung nilai moral yaitu tentang hubungan manusia dengan manusia, dengan diri sendiri, kemudian dengan alam.
Di Kabupaten Bantul untuk menguatkan ini melalui nilai-nilai religi yang dilaksanakan baik bersifat rutin yang dilaksanakan yaitu misalnya melaksanakan semedi atau meditasi yang setiap hari dilakukan.
Kemudian juga membuat semacam bentuk syukur kepada Gusti Pangeran ingkang Murbo Ing Dumadi, melalui ritual, kemudian melalui sesaji dan lain sebagainya.
“Untuk ritual ini di Yogyakarta sekarang keberadaannya sudah punah, tetapi untuk di Kabupaten Bantul, tidak. Karena MLKI Kabupaten Bantul, setiap malam Sabtu Suro mengadakan ruwatan, baik itu ruwatan sukerto maupun ruwatan bumi. Ini kita lakukan dalam menyembah kepada Tuhan,“ ujarnya.
Heri mengatakan lagi, nilai-nilai religi budaya kita dulu ada banyak dalam setahun. Sebelum abad ke empat, agama Hindu masuk dan agama Buddha masuk, serta agama Islam masuk saat abad 16, kemudian Nasrani masuk juga.
Dalam masyarakat Jawa khususnya, sudah dilaksanakan hal-hal seperti melaksanakan sesaji. Salah satunya adalah di Sumarah Purbo ini, ada yang namanya seratan Winadi.
Jadi di situ di dalam seratan Winadi ini, ada sesaji yang wujudnya jenang ponco warna kemudian ada memakai kendi pertolo.
Ini merupakan simbol bahwa masyarakat Jawa khususnya Ngayogyakarta Hadiningrat sangat dekat dengan Tuhan yang dilakukan dengan simbol-simbol. Saya kira sangat hebat, sangat hebat, karena sudah ada dari abad-abad yang lalu,” katanya.
Salah satu penganut kepercayaan, Sri Endang Sulistyowati mengatakan, untuk penghayat prinsipnya adalah penerapan ajaran tentang memayu hayuning bawana.
Yaitu membuat ketenteraman, kesejahteraan dan merawat alam seisinya. Bentuknya bisa bermacam macam, misalnya dengan ritual ruwatan.
“Ruwatan tujuannya untuk membersihkan diri dari segala macam sukerta atau sesuatu yang membuat kesengsaraan dan keangkaramurkaan,” katanya.




