Mabur.co– Dalam rangka Dies Natalis FIB UGM ke-80, Kamis (21/5/2026), diselenggarakan Gajah Mada Wayang Festival menampilkan pentas wayang dari Ki Aldy Pratama dengan lakon ‘Membuka File Bakasura’ dan lomba mewarnai wayang yang digelar di Halaman Pusaka Jawa UGM.
Ketua Panitia, Dr. Rudi Wiratama, S.IP, MA, mengatakan pameran dan bursa wayang ini merupakan bagian dari acara Gajah Mada Wayang Festival yang pertama.
Tahun ini diadakan dengan kerja sama Fakultas Ilmu Budaya UGM karena untuk memperingati Dies Natalis yang ke-80 sekaligus juga puncak kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang didanai dari EQUITY LPDP dari Kementerian Keuangan.

Pameran tahun ini memang tematik karena pengabdian kepada masyarakat di Desa Sidowarno, Klaten, maka produk-produk yang digelar di sini adalah mayoritas produk dari warga Desa Sidowarno. Atau desa di sekitarnya kanan kirinya memang sentra perajin wayang.
”Acara ini terbuka untuk umum dan wayang yang dipamerkan bisa dibeli juga oleh para pengunjung, jika memang berkenan atau berminat,” ujarnya saat ditemui mabur.co.

Rudi mengatakan, untuk tingkat minat anak muda terhadap wayang, saat ini meningkat.
Gen Z dan Gen Alpha Meminati Wayang
Gen Z dan Gen Alpha kini juga meminati wayang. Karena akses komunikasi, akses informasi mereka juga semakin bagus.
Cuma yang kurang dari semuanya, konsistensi memfasilitasi sehingga kadang-kadang setelah nanti beranjak dewasa, anak-anak itu kehilangan minat atau interest.
“Lah, ini adalah salah satu satu cara untuk memfasilitasi mereka supaya bisa secara langsung melihat, memegang, merasakan, mengapresiasi bentuk rupa wayang itu. Saya berharap untuk generasi muda pameran-pameran semacam ini, bisa menjadi sarana meningkatkan penghargaan dan apresiasi masyarakat terhadap wayang kulit sebagai seni budaya kita.
Di lain sisi untuk perajin, saya kira ini bisa untuk meningkatkan eksposur, kalau dulu orang tidak tahu siapa yang membuat wayang.
Kebanyakan yang menjual wayang di marketplace hanya penjualnya saja, tidak tahu siapa pembuatnya. Di dalam pameran ini saat pengunjung melihat pameran ini mereka bisa berinteraksi terhadap perajin, bisa mengenali wayang langsung dari tangan pertama perajinnya,” ujarnya.
Dalang Ki Aldy Pratama mengatakan, dalam pementasan tersebut, menampilkan wayang tunggal dengan lakon “Membuka File Bakasura”. Menceritakan sangkut pautnya dengan isu yang saat ini marak, yaitu Epstein Files. Jadi di kisah wayang ini ada yang merepresentasikan kisah sebagaimana di Epstein Files.

Kisah Epstein Files, seseorang yang memiliki power, dia mencoba membangun suatu kekuasaan dan hegemoni, terus dengan seenaknya mengambil anak-anak kecil, lalu memakannya.
Di Epstein mereka dieksploitasi, mereka dilecehkan, bahkan ada beberapa yang isunya dibunuh.
“Di dalam cerita itu, pada akhirnya kita sadar, oh, ternyata peradaban yang selama ini diagung-agungkan, peradaban Barat yang nanti disimbolkan dengan peradaban Bakasura ini nanti, ternyata kita ini sudah punya peradaban yang sangat maju yakni peradaban dari Nusantara, entah itu dari Jawa, suku Aceh, Papua, Makassar atau apapun semuanya memiliki kearifan lokal yang disimbolkan dengan Pandawa. Jadi nanti yang bisa mengalahkan Epstein yakni Prabu Bakasura,” ujarnya.
Pertama Belajar Wayang TK
Aldy mengatakan, pertama kali belajar wayang sejak Taman Kanak-kanak (TK) dengan menggunakan iringan kaset, kemudian Sekolah Dasar (SD), belajar kepada guru.
Awalnya diajari eyang kakung dulu lalu meningkat belajar kepada almarhum Pak Cipto Asmoro dari Wonogiri. SD dapat ilmu lumayan banyak dari beliau.
“Beliau akhirnya wafat, terus lanjut juga belajar dalang lagi ke Pak Des Karsanto. Akhirnya tunjangan wayang ini juga harus dengan karawitan. Saya tadi dalang pakai karawitan. Saya belajar karawitan dari sejak TK,” ujarnya.
Aldy mengatakan juga, kebanyakan kalau anak muda itu tidak tertarik dengan wayang mungkin karena bahasanya. Mereka tidak paham dengan bahasanya, maka perlu media bahasa yang lebih fleksibel.
Entah itu Bahasa Indonesia atau mungkin sekarang dicampur dengan Bahasa Inggris dengan tidak melulu Jawa sentris, maka ketertarikan wayang akan lebih tumbuh.
Media wayang juga bukan melulu wayang kulit bisa dari Jerami, dari Suket Mendong. Di mana boneka wayang ini bisa merepresentasikan banyak cerita, tergantung situasi.
“Ini juga bisa merepresentasikan yang sekarang terjadi di Indonesia di antaranya ada pembabatan hutan, ada kematian orang yang banyak, ada banjir bandang dan bencana alam,” katanya.
Salah satu pengunjung, Tsaqifa, mengatakan, pameran ini bisa mengenalkan wayang kepada generasi sekarang.
“Saya berharap anak-anak bisa mengenal wayang, sebagai kesenian dan kebudayaan lokal,” ujarnya.
Tsaqifa mengatakan pula, lebih menarik lagi jika dalam pameran ini bisa berjalan lurus dengan digitalisasi. Hal itu ditujukan agar anak-anak semakin senang terhadap wayang untuk mengenal tokoh-tokoh wayang.
“Jadi bisa dinikmati secara autentik dan digital oleh anak-anak generasi Z. Saat nonton You Tube juga tidak hanya konten zaman sekarang, tapi juga ada konten kesenian dan kebudayaan,” katanya. ***




