Heboh! UGM Minta Maaf atas Terpilihnya Prabowo-Gibran sebagai Presiden-Wakil Presiden? - Mabur.co

Heboh! UGM Minta Maaf atas Terpilihnya Prabowo-Gibran sebagai Presiden-Wakil Presiden?

Mabur.co –  Masyarakat di Yogyakarta dibuat heboh dengan munculnya sebuah spanduk bertuliskan “Surat Permohonan Maaf” yang terpasang di area gerbang utama Universitas Gadjah Mada pada Kamis (21/5) pagi. 

Kehebohan itu muncul lantaran isi spanduk tersebut yang mencuri perhatian karena memuat pernyataan permohonan maaf terkait terpilihnya Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2024–2029.

Yang lebih menarik lagi adalah surat dalam spanduk itu mengatasnamakan Universitas Gadjah Mada yang seolah merupakan pembuatnya.

“Kami yang bertanda tangan di bawah ini Nama : UNIVERSITAS GADJAH MADA Alamat : Bulaksumur, Yogyakarta, Dengan ini menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena telah Membiarkan PRABOWO-GIBRAN menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indorjesia 2024-2029”

“Demikian permohonan maaf ini kami buat sebagai bentuk PENYESALAN karena melihat betapa BOBROKNYA KEPEMIMPINAN NASIONAL hari ini yang Menjadi jalan pintas kehancuran bangsa – ditandai dengan berkuasanya orang-orgng tanpa kompetensi, nestapa politik, dan carut marutnya ekonomi,” begitu bunyi surat tersebut.

Spanduk Sudah Hilang

Meski telah hilang pada Kamis siang, gambar tentang spanduk berisi surat permohonan maaf itu pun terlanjur viral dan tersebar di media sosial. Tak sedikit warganet menanggapi kemunculan spanduk tersebut dengan berbagai pandangan.

Sementara itu dikutip CNN, Kamis (21/5/2026), juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana, menegaskan bahwa isi maupun pemasangan spanduk tersebut bukan merupakan sikap resmi institusi.

Menurutnya, pihak kampus tidak pernah memasang maupun mengeluarkan pernyataan resmi seperti yang tertulis dalam spanduk tersebut. Ia juga menyebut penggunaan nama UGM dalam spanduk itu tidak mewakili pandangan universitas.

UGM, lanjut Made Andi, tetap menghormati kebebasan berekspresi dan penyampaian pendapat di lingkungan akademik. Akan tetapi, penyampaian aspirasi di area kampus tetap harus mengikuti aturan penggunaan ruang publik dan memiliki penanggung jawab yang jelas.

Karena dinilai dipasang tidak sesuai dengan ketentuan pemanfaatan media informasi di lingkungan kampus, spanduk tersebut akhirnya diturunkan.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Ketua BEM UGM 2026, Sheron Adam Funay, mengatakan spanduk itu dipasang oleh sejumlah kelompok akar rumput di kampus sebagai bentuk keresahan terhadap kondisi sosial dan ekonomi saat ini. Ia menyebut BEM UGM mendukung aksi penyampaian aspirasi tersebut.

Menurut Sheron, situasi ekonomi yang dinilai belum stabil turut memengaruhi kehidupan mahasiswa dan masyarakat luas. Ia menilai menurunnya tingkat kepercayaan publik hingga investor menjadi salah satu indikator keresahan yang berkembang di masyarakat.

Sheron juga menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi ruang terbuka bagi kebebasan berekspresi kalangan akademisi. Meski demikian, ia berharap institusi kampus dapat mengambil sikap yang lebih tegas dalam merespons berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai menimbulkan kegelisahan publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *