Mabur.co- Hari keanekaragaman hayati internasional selalu menjadi hari penting yang diperingati di tanggal 22 setiap tahunnya. Hari Keanekaragaman Hayati Internasional atau International Day for Biological Diversity (IDB) adalah peringatan tahunan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya keanekaragaman hayati.
Keanekaragaman hayati atau biodiversity mencakup semua bentuk kehidupan di bumi, dari tanaman, hewan, jamur, hingga mikroorganisme. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Walter G. Rosen pada tahun 1985 dan didefinisikan sebagai keragaman kehidupan di bumi beserta pola-pola alami yang dibentuknya.
Dekan Fakultas Biologi UGM, dari Caretaker Pusat Studi Sumber Daya dan Teknologi Kelautan UGM, Prof Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., Ph.D, mengatakan, strategi konservasi di laut yang dipakai saat ini yaitu yang pertama adalah konservasi in situ dengan melindungi organisme atau makhluk hidup di habitat aslinya, maka diperlukan untuk memperluas Taman Nasional, Suaka Margasatwa, Cagar Alam, termasuk juga memperluas Cagar Alam ataupun Taman Nasional yang ada di laut.

Prof Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., Ph.D . (Foto: Dok. Pribadi)
Strategi yang kedua yang berikutnya adalah konservasi secara eksitu yakni kita bisa melindungi organisme itu di luar habitatnya. Bisa melakukan penangkaran, kalau tanaman kebun botani, bank benih sangat penting sekali, meskipun konservasi, kadang-kadang perlu biaya yang agak mahal.
Restorasi Ekosistem
Berikutnya, bisa melaksanakan kalau itu ada ekosistem yang sudah rusak atau kurang baik, bisa melakukan restorasi ekosistem.
Misalnya kalau di daratan lahan-lahan bekas tambang, hutan yang rusak dengan menggunakan konsep nature based solution, artinya pakai lahan basah alami untuk menjaga. Misalnya supaya kawasan tersebut dikurangi polusinya, kemudian stok karbonnya juga meningkat, maka restorasi ekosistem juga bisa dilakukan.
“Yang keempat, saya kira ini karena sekarang sudah dunia modern, maka juga perlu dikembangkan teknologi dan data baru. Misalnya di tempat kami di Fakultas Biologi itu kita melakukan DNA barcoding, baik itu dari semua organisme yang kira-kira akan sangat berperan di dalam penyembuhan ataupun penguatan ekosistem,” katanya saat diwawancarai mabur.co via telepon, Jumat (22/5/2026).
Budi Setiadi Daryono mengatakan, langkah-langkah yang perlu didorong maka akan didukung. Yang pertama, sebaiknya di dalam konservasi kita mendukung penguatan kawasan konservasi serta pemanfaatan satwa oleh masyarakat-masyarakat lokal. Yang kedua juga kita hendaknya mengurangi produk-produk yang merusak habitat.
“Saya berharap jangan diadakan lagi pembukaan hutan ilegal untuk perkebunan-perkebunan seperti perkebunan sawit lagi, ini sudah cukup 16 juta hektar,” katanya.
Budi Setiadi Daryono mengatakan lagi, sebaiknya kita mendukung ekowisata berkelanjutan yang biasanya dikelola oleh masyarakat supaya masyarakat mendapatkan keuntungan dari alam sehingga mereka akan menjaganya.
“Kalau ada aktivitas-aktivitas ilegal sebaiknya kita koordinasi dan laporan kepada para petugas penegak hukum,” katanya.
Budi Setiadi Daryono pun menjelaskan, untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan pencegahan kepunahan spesies secara tradisional, zaman dahulu tidak dikenal istilah konservasi baik in situ maupun ex situ.
“Orang-orang zaman dahulu biasanya melakukan jika ada kawasan tertentu, misalnya hutan larangan atau hutan yang dianggap suci. Kemudian juga biasanya aturannya ketat, ada sanksi sosialnya, dan juga ada kepercayaan pamali atau kualat. Pengetahuan ini biasanya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui tutur bahasa. Kemudian juga biasanya secara tradisional sudah mengenal sistem kawasan lindung serta aturan adat tentang pemanfaatan sumber daya supaya tidak berlebihan,” katanya.
Kubangan Air dan Tradisi Kerajaan
Budi Setiadi Daryono memaparkan, terkait tentang tradisi kerajaan dulu biasanya dibuat kubangan air.
“Jika di Yogyakarta seperti di Tamansari. Memang dibangun kubangan air itu sebagai tempat untuk pesanggrahan atau rekreasi. Khususnya untuk kalangan kerajaan Sultan Ngayogyakarta maupun keluarganya. Yang kedua juga untuk ke pengembangan sistem pertahanan. Kadang-kadang parit-parit atau pun jaringan itu dibuat untuk menghubungkan satu tempat dengan tempat yang lain yang nanti bisa menghubungkan sampai ke keraton.
Kemudian fungsi yang lainnya biasanya ada filosofi di mana kolam dan taman itu melambangkan kesenangan duniawi. Sumur gemuling dan mihrab itu melambangkan spiritualitas untuk beriman, melaksanakan ibadah dan sebagainya sehingga diharapkan ini filosofinya, menjadi harmoni antara kepentingan dunia dan kepentingan di akhirat,” katanya. ***




