Mabur.co – Indonesia disebut-sebut sebagai negara paling pemalas atau mager (malas gerak) di dunia. Pasalnya, rata-rata jumlah langkah kaki masyarakat Indonesia per hari berada di posisi paling rendah.
Hal itu didapatkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan Stanford University pada 2017 lalu. Dalam penelitian itu, Hong Kong disebut menempati urutan pertama dengan rata-rata 6.880 langkah kaki per hari. Sementara Indonesia berada di posisi paling buncit dengan rata-rata 3.513 langkah per hari.
Pertanyaannya, kenapa orang Indonesia seolah memiliki gen pemalas? Ternyata semua itu ada alasannya.
Di banyak negara dengan empat musim, waktu selalu menjadi acuan utama untuk mengatur kehidupan manusia. Jam kerja ditentukan secara ketat, aktivitas harian berjalan seragam, dan ritme hidup cenderung mengikuti sistem industri.
Namun di Indonesia, yang beriklim tropis, masyarakat menjalani pola kehidupan yang berbeda. Tanpa disadari, keseharian masyarakat Indonesia ini berjalan mengikuti apa yang dapat disebut sebagai jam biologis tropis.
Jam biologis tropis bukan istilah ilmiah baku dalam kajian biologi atau medis, melainkan istilah deskriptif yang digunakan untuk menjelaskan pola adaptasi manusia terhadap lingkungan tropis yang panas dan lembab.
Pola ini terbentuk dari pengalaman panjang masyarakat dalam berinteraksi dengan alam dan masih bertahan hingga kini, meski jarang disadari sebagai sebuah kearifan tersendiri.
Salah satu bentuk paling nyata terlihat dari kebiasaan orang Indonesia yang suka bermalas-malasan saat matahari sedang berada tepat di atas kepala. Antara pukul 11.00 hingga 14.00, ritme aktivitas masyarakat cenderung melambat. Aktivitas fisik dikurangi, sebagian masyarakat memilih berteduh atau tidur sejenak.
Meski begitu, di banyak daerah di Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan, aktivitas masyarakat sudah dimulai sejak pagi. Pasar tradisional ramai sebelum matahari terbit, petani berangkat ke sawah ketika udara masih sejuk.
Pola ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan bentuk penyesuaian terhadap kondisi iklim tropis yang menyebabkan suhu udara meningkat tajam pada siang hari.
Dalam sudut pandang masyarakat Barat, kebiasaan ini kerap dianggap tidak efisien. Namun secara ekologis dan fisiologis, pola tersebut justru membantu menjaga daya tahan tubuh.
Antropolog Clifford Geertz mencatat fenomena ini umum terjadi dalam masyarakat Jawa. Dalam bukunya The Interpretation of Cultures dan esainya tentang kehidupan sosial di Jawa, Geertz menjelaskan bahwa pembagian waktu tidak hanya mengikuti jam.
Tetapi juga kondisi alam dan struktur sosial. Waktu siang yang panas dipandang kurang ideal untuk aktivitas berat, sementara sore dan malam hari menjadi ruang sosial yang lebih hidup.

Sejarawan Asia Tenggara Anthony Reid dalam bukunya Southeast Asia in the Age of Commerce 1450–1680 juga menguraikan bahwa masyarakat tropis sejak berabad-abad lalu telah mengatur ritme kerja dan istirahat berdasarkan iklim.
Reid menunjukkan bahwa sebelum konsep jam kerja modern dikenal, masyarakat Asia Tenggara telah memiliki sistem waktu sendiri yang selaras dengan alam.
Pola jam biologis tropis juga terlihat dalam pembagian waktu sosial masyarakat Indonesia. Banyak kegiatan, seperti pertemuan, hajatan, hingga kegiatan keagamaan dan budaya, justru dilakukan pada sore atau malam hari.
Waktu ini dianggap lebih nyaman dan memungkinkan menghadirkan lebih banyak orang. Di sinilah ruang sosial masyarakat dapat berkembang di berbagai tempat.
Antropolog Koentjaraningrat, dalam bukunya Pengantar Ilmu Antropologi dan sejumlah tulisannya tentang kebudayaan Jawa, menekankan bahwa kebudayaan Indonesia terbentuk melalui proses adaptasi terhadap lingkungan alam.
Pola hidup yang mengikuti siklus alam ini tidak hanya memengaruhi cara bekerja, tetapi juga membentuk nilai kebersamaan, gotong royong, dan fleksibilitas sosial.
Dalam kajian sejarah budaya Jawa, Denys Lombard melalui trilogi Nusa Jawa: Silang Budaya, turut menegaskan bahwa iklim tropis memainkan peran penting dalam membentuk karakter masyarakat, termasuk cara mengatur waktu, ritme kerja, dan kehidupan sosial. Lombard melihat pola ini sebagai hasil pertemuan panjang antara alam, sejarah, dan budaya.
Dari sisi kesehatan, pola jam biologis tropis juga sejalan dengan kajian ilmiah modern. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam sejumlah publikasi mengenai heat stress dan kesehatan kerja menyebutkan bahwa aktivitas fisik berlebihan pada suhu tinggi meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa suhu udara di Indonesia relatif tinggi dan stabil sepanjang tahun, sehingga adaptasi waktu aktivitas menjadi kebutuhan nyata.
Meski demikian, jam biologis tropis jarang disadari sebagai sebuah pengetahuan lokal oleh masyarakat Indonesia itu sendiri. Meski pola ini dijalani secara alami dan diwariskan lintas generasi.
Sayangnya di tengah tekanan globalisasi dan tuntutan gaya hidup serba cepat, pola ini mulai tergerus, terutama di kawasan perkotaan. Masyarakat yang menjalankan kearifan ini kerap dicap sebagai orang pemalas atau mager.
Terlepas dari semua itu, hingga kini jam biologis tropis masih bertahan dan menjadi bagian dari identitas keseharian masyarakat Indonesia khususnya di wilayah-wilayah pedesaan.
Hal itu menunjukkan bahwa di balik kebiasaan malas ini, terdapat pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat yang lahir dari hubungan panjang antara manusia dan alam. Sebuah kearifan hidup yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia, namun kerap luput dari perhatian.



