Adrem, Kuliner Tradisional Khas Bantul, Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 

3 Min Read
Golden brown fried dough twists on a white plate with a brown rim, crispy exterior.
Kue Adrem (Foto: Istimewa)

Mqbur.co – Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal memiliki kekayaan ragam kuliner yang luar biasa. Salah satunya adalah makanan tradisional bernama Adrem. 

Makanan khas Kabupaten Bantul ini bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan RI tahun 2024 lalu.

Lalu apa yang membuat Adrem begitu istimewa?

Dari namanya saja adrem memiliki keunikan tersendiri. Dikutip laman resmi Pemprov DIY, Minggu (24/5/2026), nama “adrem” disebut berkaitan dengan kata “adhem” atau tenang. 

Filosofinya, dengan memakan Adrem, setiap orang diharapkan dapat memiliki kehidupan yang damai, tenteram, dan penuh pengayoman.

Di masyarakat, kue Adrem juga dikenal dengan sebutan Tolpit atau Kontol Kejepit singkatan dari kata yang artinya penis terjepit. 

Meski sekilas terdengar jorok dan tidak lazim, sebutan ini diberikan dengan makna budaya luar biasa. 

Dimana masyarakat tempo dulu kerap menjadikan Adrem sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen sekaligus bentuk penghormatan kepada Dewi Sri, yang dipercaya sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran.

Lalu dari sisi bentuk dan rasanya, Adrem juga sangat unik. Bentuknya menyerupai kuncup bunga dengan warna coklat ke kuningan.

Dibuat dari campuran tepung beras dan gula jawa, adrem memiliki cita rasa manis berpadu sedikit gurih. Sekilas, rasanya mirip dengan kue cucur, namun dengan tekstur pulang dan sedikit lengket.

Jika digigit, adrem terasa renyag atau garing di bagian luar, namun legit, kenyal, dan lembut di bagian dalam. 

Sejarah Adrem

Dari sisi sejarahnya Adrem tak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat di Kabupaten Bantul. Dahulu, adrem kerap disajikan saat musim panen padi tiba.

Para penjual biasanya berkeliling dari sawah ke sawah dan menukarkan adrem dengan gabah hasil panen warga.

Kue yang cukup menyenyangkan ini biasa di dapat menjadi pengganjal perut petani atau pekerja yang lapar namun waktu makan belum tiba.

Di Bantul sendiri Adrem banyak ditemukan di Bantul sisi Selatan. Seperti salah satunya Desa Murtigading, Kecamatan Sanden.

Di kawasan ini masih ada beberapa pengrajin Adrem yang mempertahankan cara pembuatan tradisional, salah satunya adalah usaha milik Adha Dewi Prihantini atau yang akrab disapa Mbak Dewi.

Ia menjelaskan dalam proses pembuatannya, adrem dibuat dengan campuran adonan dari tepung beras, tepung terigu, gula jawa, gula pasir, garam, air, serta parutan kelapa. 

Adonan lalu digoreng hingga mengembang di dalam minyak panas. Bentuk khas adrem yang menyerupai bunga dibuat dengan cara menjepit adonan bagian tengah menggunakan sumpit saat proses penggorengan berlangsung.

Meski termasuk kue tradisional, adrem masih cukup banyak ditemui hingga saat ini. Selain sebagai oleh-oleh adrem juga kerap disajikan sebagai camilan, atau sajian saat acara hajatan.

Cara pembuatannya yang mudah dan harganya yang murah tak membuat adrem kehilangan nilainya sebagai warisan budaya masyarakat Yogyakarta. 

Bagaimana anda pernah mencoba adrem?

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Leave a Comment