Kampung Tahu Tuksono, Tetap Eksis di Tengah Peralihan Zaman - Mabur.co

Kampung Tahu Tuksono, Tetap Eksis di Tengah Peralihan Zaman

Mabur.co – Tiga dusun di Desa Tuksono, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo, sejak puluhan tahun lalu dikenal sebagai kampung perajin tahu. Dusun Kaliwiru, Kalisono, dan Wonobroto menjadi pusat produksi tahu rumahan yang memasok kebutuhan masyarakat Kulon Progo hingga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ketiga dusun itu berada tidak jauh dari aliran Sungai Progo yang membelah wilayah DIY. Sepanjang jalan kabupaten menuju Kecamatan Lendah, aktivitas produksi tahu tampak terlihat hampir di setiap rumah warga. Beragam aktivitas seperti merebus kedelai, menyaring sari tahu, hingga mencetak tahu sejak dini hari bisa ditemui dengan mudah di dusun ini.

“Di tiga dusun ini memang banyak sekali warga yang bekerja dengan membuat atau memproduksi tahu. Hampir setiap rumah ada yang memproduksi, meski skala usahanya kecil,” kata Gunawan, perajin tahu di Dusun Kaliwiru, Sentolo.

Dusun Kaliwiru menjadi wilayah dengan jumlah perajin terbanyak. Sekitar 50 kepala keluarga menggantungkan hidup dari usaha pengolahan kedelai. Produksi tahu dari dusun ini sebagian besar dipasarkan ke wilayah Kulon Progo Kota Yogyakarta, Bantul, dan sejumlah daerah lain di DIY.

Gunawan sedang menggoreng tahu. (Foto: JH Kusmargana)

Gunawan yang berusia sekitar 30 tahun sendiri mengaku meneruskan usaha keluarga yang telah dirintis sejak 1970-an. Menurut dia, usaha tahu di Tuksono biasanya akan diwariskan secara turun-temurun. 

Meski demikian, saat ini tak sedikit generasi muda di desa ini semakin enggan menjadi perajin tahu karena tantangan yang semakin sulit setiap tahunnya. Semakin mahalnya harga bahan baku kedelai selalu menjadi tantangan tersendiri. 

“Kalau harga kedelai naik, banyak perajin tahu merugi. Sehingga tak sedikit yang memilih gulung tikar dan memilih pekerjaan lain,” ungkapnya.

Jenis tahu yang diproduksi perajin di Tuksono sendiri cukup beragam. Selain tahu putih, terdapat pula tahu kuning, tahu isi, tahu pong, hingga tahu goreng templek. Namun, tahu putih tetap menjadi produk utama karena permintaan pasar yang stabil.

Para perajin tahu di sini biasa memasarkan tahu buatannya ke pasar-pasar tradisional di Kulon Progo, Bantul, hingga Yogyakarta. Setiap hari, beragam jenis tahu diproduksi dalam jumlah terbatas agar tetap menyesuaikan daya beli pedagang dan konsumen.

Seorang warga sedang memproduksi tahu. (Foto: JH Kusmargana)

Untuk memudahkan distribusi bahan baku dan hasil produksi, setiap musim kemarau, para perajin tahu di wilayah Tuksono ini bahkan kerap membangun sebuah jembatan sederhana di atas Sungai Progo secara swadaya. 

Jembatan tersebut menjadi akses penting bagi para perajin tahu untuk mengangkut kedelai dari wilayah seberang sungai sekaligus mendistribusikan tahu ke pasar-pasar tradisional khususnya ke arah Bantul dan Yogyakarta. Mengingat jembatan terdekat yang bisa dilalui kendaraan dari wilayah ini cukup jauh sehingga mereka harus memutar berkilo-kilometer jauhnya.

Untuk mendukung keberadaan kampung tahu Tuksono, pada 2024, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta membangun balai budaya dan kampung tradisional di desa ini. Pembangunan dilakukan menggunakan Dana Keistimewaan DIY senilai Rp 1,62 miliar. Program ini ditujukan untuk melestarikan sekaligus mengembangkan potensi budaya dan kekayaan lokal masyarakat, termasuk tahu khas Tuksono.  

Sebagai salah satu Kalurahan Mandiri Budaya di Kulon Progo, Desa Tuksono sendiri memiliki beragam tradisi dan aktivitas budaya. Selain kesenian dan adat istiadat, aktivitas ekonomi berbasis kearifan lokal, seperti produksi tahu rumahan, menjadi bagian dari identitas desa.

Pembangunan kampung tradisional diharapkan dapat memperkuat posisi Tuksono tidak hanya sebagai sentra budaya, tetapi juga sebagai ruang hidup bagi pelaku usaha kecil. Dengan penguatan identitas dan dukungan infrastruktur, eksistensi kampung perajin tahu di Tuksono diharapkan tetap terjaga di tengah perubahan zaman saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *