Tan Malaka, Sosok Penting dalam Sejarah Indonesia yang Kerap Terlupakan

4 Min Read
Black-and-white portrait of a woman facing the camera with her reflection showing a side profile in a mirror, creating dual views.
Tan Malaka merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang kerap terlupakan. (Foto: Istimewa)

Mabur.co- Tan Malaka merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang kerap terlupakan.

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 53 yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 28 Maret 1963, ia seakan-akan menghilang dari buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah pada masa Orde Baru, bahkan hingga saat ini.

Kiprah Tan Malaka dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia seolah tenggelam begitu saja. Tak hanya itu, persoalan makam Tan Malaka pun hingga saat ini masih harus diperjelas kembali.

Ibrahim atau Tan Malaka lahir pada tahun 1897 di Sumatra Barat. Ayahnya bernama H.M. Rasad, seorang pegawai pertanian dan ibunya bernama Rangkayo Sinah.

Sejak muda, Tan Malaka dikenal sebagai sosok cerdas dan memiliki minat besar terhadap ilmu pengetahuan hingga ia mendapatkan kesempatan belajar ke luar negeri di Rijkskweekschool, Haarlem, Belanda. Hal tersebut membuat dirinya mempunyai cara pandang yang luas terhadap ketidakadilan dan penjajahan.

Selepas menyelesaikan pendidikan di Kweekschool alias Sekolah Guru Negara di Bukittinggi pada tahun 1913 itulah, dia melanjutkan pendidikan ke Rijks Kwekschool di Haarlem, Belanda.

Ayahnya bernama HM Rasad, bekerja sebagai pegawai pertanian, sementara ibunya Rangkayo Sina merupakan orang yang disegani di desanya, karena berasal dari keluarga terpandang.

Saat berusia 16 tahun, ia diminta untuk menerima dua tawaran dari keluarganya, yaitu diberi gelar Datuk atau dijodohkan dengan gadis yang dipilihkan oleh keluarganya. 

Namun ia menjawab bahwa dirinya hanya menerima satu dari dua tawaran tersebut. Keluarganya akhirnya memilih untuk memberinya gelar Datuk Tan Malaka ketimbang menjodohkannya. Sejak saat itu Ibrahim dikenal dengan nama Tan Malaka. 

Pendidikan di Belanda Mengubah Cara Pandang Dunia

Di Belanda inilah ia berkenalan dengan pemikiran-pemikiran komunisme dan sosialisme lewat karya Karl Marx, Engels, hingga Lenin.

Beberapa waktu kemudian, ia bertemu dengan Henk Sneevliet salah seorang pendiri Indische Sociaal Democratische Vereeniging alias ISDV. ISDV adalah sebuah organisasi yang menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia. Di sinilah sejarah Tan Malaka dan komunis dimulai.

Tan Malaka kemudian tertarik dengan tawaran Sneevliet yang mengajaknya bergabung dengan Social Democratische-Onderwijzers Vereeniging alias Asosiasi Demokratik Sosial Guru. Setelah lulus dari SDOV, ia kemudian kembali ke desanya di Sumatera Barat.

Dilansir dari Kemendikdasmen, Selasa (2/6/2026), dahulu kala, Tan Malaka dianggap terlalu bebas dalam berpendapat dan mengkritik hingga membuat dirinya menjadi buronan oleh Belanda, Jepang, hingga Indonesia.

Bahkan saat Soekarno dan Hatta deklarasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Tan Malaka termasuk orang yang kurang puas karena menurutnya itu adalah kemerdekaan setengah hati, bukan revolusi sepenuhnya seperti yang ia inginkan.

Bukan cuma berganti bendera dan menyanyi lagu kebangsaan tapi diharapkan juga mengganti sistem supaya rakyat kecil benar-benar merdeka.

Namun perjuangan itu malah membuat dia dikejar-kejar. Sayangnya yang membunuh dia bukanlah Belanda maupun Jepang, melainkan anak bangsa sendiri, yaitu Tentara Republik Indonesia.

Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1949. Tan Malaka merupakan tokoh pergerakan yang pemikirannya melampaui zamannya.

Meski namanya lama terasingkan dari sejarah resmi, gagasan-gagasannya tentang Republik Indonesia memberi pengaruh besar terhadap pemikiran anak bangsa untuk berani memperjuangkan Indonesia.

Tan Malaka dalam melihat revolusi Indonesia tak jauh berbeda dengan para founding fathers lainnya seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir dan lain-lain.

Ia melihat revolusi Indonesia tidak berhenti pada revolusi politik semata-mata namun juga melihatnya sebagai revolusi yang lebih global sifatnya, mulai dari revolusi penghapusan feodalisme, revolusi kemerdekaan dan revolusi sosial yang isinya harapan terhadap hadirnya masyarakat adil dan makmur.

Untuk sebagian besar founding fathers kita, diartikan sebagai penolakan terhadap kapitalisme. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment