Gaya Kolonial Dominasi Perkembangan Arsitektur di Indonesia

5 Min Read
White historic gate labeled VREDEBURG with four columns and a triangular pediment, opening to a tree-lined pedestrian path.
Bangunan bergaya Indische Empire Style dapat kita temukan di salah satu tempat bersejarah yaitu Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Mabur.co- Indonesia menyimpan arsitektur berupa bangunan sejarah yang hingga kini masih tetap lestari sejalan dengan pergeseran arus modernisasi. Salah satu gaya arsitektur yang masih mendapatkan pengaruh paling besar dalam perkembangan bangunan di Indonesia adalah gaya arsitektur kolonial.

Gaya arsitektur kolonial ini tidak hanya meninggalkan jejak berupa bangunan-bangunan megah di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta tetapi juga memengaruhi perkembangan arsitektur daerah-daerah lain di Indonesia.

Keberadaan bangunan-bangunan bersejarah tersebut menjadi bukti konkret dari perjumpaan antara budaya lokal dengan budaya asing yang membentuk ciri khas arsitektur Indonesia yang unik dan kaya akan warisan sejarah. 

Arsitektur Kolonial sebagai Sumber Inspirasi

Dr. Fahmi Prihantoro, S.S., M.A, dari Departemen Arkeologi FIB UGM, mengatakan, bentuk bangunan Belanda yang megah hingga sentuhan lokal yang mengakar, arsitektur kolonial terus menjadi sumber inspirasi bagi para arsitek modern dalam merancang bangunan-bangunan masa kini yang menggabungkan nilai-nilai tradisional dengan teknologi mutakhir.

Adanya bangunan bergaya arsitektur kolonial pasti tidak terlepas dari bangunan cagar budaya yang menjadi simbol pelestarian warisan sejarah.

Bangunan-bangunan tersebut menjadi penanda penting dalam merawat identitas budaya suatu daerah serta menyimpan cerita dan nilai-nilai yang telah membentuk masa lalu sebuah komunitas.

“Dengan mempertahankan dan merawat bangunan bergaya arsitektur kolonial, kita secara tidak langsung juga menjaga keaslian serta keberlanjutan sejarah yang telah membentuk bagian dari jati diri masyarakat,” ujarnya kepada mabur.co, Selasa (2/6/2026).

Professional head-and-shoulders portrait: man in black suit, white shirt, green patterned tie, neutral expression, white background.
Dr. Fahmi Prihantoro, S.S., M.A. (Foto: Dok. Pribadi)

Fahmi mengatakan pula, arsitektur kolonial di Indonesia berkembang mulai dari yang berbentuk empire dengan ciri-ciri tiang doria dan Ionia, bangunan megah dan besar, kemudian berkembang ke bangunan Indische Empire Style, percampuran arsitektur barat dan lokal.

Peran Daendels

Tidak ada tiang-tiang besar, bangunan (abad 19-20 awal) gaya Indische Empire Style diperkenalkan oleh H.W. Daendels yang saat itu ditugaskan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai gubernur jenderal pada tahun jabatan 1808-1811.

Sesuai namanya, Indische memiliki arti “Hindia”. Nama tersebut mencerminkan gaya bangunan dari Eropa, terutama Belanda.

Gaya ini merupakan perpaduan kebudayaan Eropa dengan budaya Indonesia dan beberapa dari kebudayaan Tionghoa.

“Gaya ini memiliki karakteristik tertentu yang ada di tiap ruangan dalam suatu gedung,” katanya.

Fahmi mengatakan lagi, untuk Indische Empire Style dapat ditemukan di salah satu tempat bersejarah yaitu Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Terlebih lagi, benteng ini merupakan generasi pertama yang menggunakan konsep gaya bangunan terkait.

Pada area gerbang masuk, gaya bangunan yang bernuansa Yunani-Romawi sangat mudah terlihat pada bagian tiang-tiang pilar bergaya Doria.

Setelah gerbang masuk, terdapat dua gedung “pengapit” yang juga bergaya Yunani pada masa Renaissance.

“Kita juga dapat melihat kekhasan gaya Belanda lainnya seperti jendela yang besar dan tembok yang tebal. Selain itu, pada gedung tertentu terdapat bentuk hiasan puncak atap (Nok Acroterie) seperti cerobong asap semu berukuran pendek. Diukir bentuk atapnya mayoritas bernuansa Jawa, seperti bergaya joglo, dan limasan,” katanya.

Bangunan Indis

Fahmi menuturkan, arsitektur bangunan Indis adalah sebuah fenomena historis hasil dari karya budaya yang dipengaruhi berbagai faktor lain, baik faktor politik, sosial, ekonomi, seni budaya, dan lain-lain.

Selain itu, bangunan Indis dianggap oleh sebagian banyak orang sebagai bentuk karya kreativitas suatu golongan maupun kelompok masyarakat lainnya di masa kolonial Belanda saat menghadapi berbagai situasi rumit menghadapi situasi kondisi hidup di negeri tropis.

“Gaya arsitektur Indische merupakan sebuah seni yang memiliki ciri khusus, gaya Indis lahir di saat masa sulit penjajahan oleh bangsa Eropa. Kata Indische dapat kita jadikan sebagai tonggak peringatan yang menandai adanya suatu babakan zaman pengaruh budaya Eropa di Indonesia yang hingga kini memengaruhi kebudayaan Indonesia,” katanya.

Blue-gray wooden window with two panes and white curtains, flanked by circular cutouts in the shutters against a pale-yellow wall.
Salah satu bangunan di benteng vredeburg dengan banyak jendela besar. (Foto: Istimewa)

Fahmi menjelaskan, pengaruh kolonial Belanda terhadap bentuk bangunan tempat tinggal terlihat sangat jelas, khususnya dalam pemakaian berbagai bahan bangunan, bentuk bangunan, dan ornamen yang ada.

Terhadap bangunan rumah yang terbilang mewah milik para pejabat Belanda ditunjang dengan hiasan- hiasan ornamen dalam interior bangunan rumah mewah tersebut.

Begitu pun dengan bentuk bangunannya juga berubah, adanya campuran model gaya bangunan ala Eropa dan gaya bangunan tradisional.

“Bangunan kolonial yang ada sekarang kebanyakan bangunan Indische,” ucapnya.

Fahmi memaparkan, jendela pada bangunan Indische umumnya dihiasi dengan sentuhan berlapis yang memukau. Dengan model jalusi atau krepyak pada sisi luarnya.

“Keberadaan jendela semacam ini tidak hanya berfungsi sebagai bukaan untuk sirkulasi udara saja. Melainkan juga sebagai elemen dekoratif. Kaca patri pada sisi jendela juga menambahkan kesan elegan dan memberikan privasi yang dibutuhkan penghuninya,” katanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment