Masjid Sulthoni Wotgaleh, Pathok Negoro di Era Kerajaan Mataram Islam

4 Min Read
Temple-style building with red tiled roofs and white walls in a paved open area; a motorcycle parked on the right side.
Masjid Sulthoni Wotgaleh. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Terletak di Kalurahan Sendangtirto, Berbah, Sleman, Masjid Sulthoni Wotgaleh dikenal sebagai salah satu masjid bersejarah di Yogyakarta. Masjid ini juga disebut-sebut sebagai salah satu masjid tertua yang ada di DIY.

Arsitektur Bangunan Tradisional Jawa

Berada di dekat kompleks Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, masjid dengan gaya arsitektur khas bangunan tradisional Jawa ini bahkan diduga merupakan bagian dari masjid penyangga wilayah pada era Kerajaan Mataram Islam.

Dugaan tersebut disampaikan peneliti sekaligus dosen UIN Sunan Kalijaga, Yaser Arafat. Menurut Yaser, sejumlah jejak sejarah di sekitar Masjid Wotgaleh menunjukkan bahwa masjid ini dibangun sekitar abad ke-15 hingga ke-16.

Hal itu ditunjukkan dengan keberadaan makam-makam tua di kawasan sekitar Masjid Wotgaleh yang memiliki angka tahun 1500 hingga 1600-an. Periode tersebut sezaman dengan masa awal Panembahan Senopati membuka Alas Mentaok yang menjadi cikal-bakal Kerajaan Mataram Islam.

“Kemungkinan masjid ini sudah berdiri sejak tahun 1500 atau 1600. Hal itu dilihat dari jejak-jejak artefak pada makam-makam kuno yang ada di sekitar kawasan ini. Yang paling tua itu sekitar tahun 1500-an,” ujarnya. 

Pusat Aktivitas Masyarakat di Kawasan Masjid

Menurut Yaser pula, keberadaan makam-makam kuno itu membuktikan bahwa kawasan di sekitar Masjid Wotgaleh telah menjadi area permukiman atau tempat tinggal dan pusat aktivitas masyarakat di era Mataram Islam.

Portrait of a man wearing a brown batik headwrap and glasses at a nighttime market with colorful stalls behind him.
Dosen UIN Sunan Kalijaga, Yaser Arafat. (Foto: JH Kusmargana)

Tak hanya itu, Yaser Arafat bahkan menduga adanya kemungkinan bahwa Masjid Wotgaleh dulu merupakan Masjid Pathok Negoro, atau masjid yang berfungsi sebagai penanda wilayah sekaligus pusat pengembangan keagamaan dan sosial di era Kerajaan Mataram Islam. 

Hal itu semakin diperkuat dengan keberadaan makam seorang tokoh penting Kerajaan Mataram Islam di sekitar kompleks Masjid Wotgaleh. Yakni Pangeran Purbaya yang dikenal sebagai Senopati Mataram berjuluk “Banteng Mataram”.

“Perkiraan kami, ini bisa menjadi salah satu masjid pathok negoro pada zaman Mataram Islam, pada zaman Panembahan Senopati. Karena pada setiap zaman pasti ada pathok-pathok tertentu,” ujar Yaser.

Dalam tradisi Kasultanan Yogyakarta sendiri dikenal Masjid Pathok Negoro yakni sekumpulan masjid milik keraton yang berfungsi sebagai penanda batas wilayah kerajaan, benteng pertahanan spiritual, serta pusat peradilan agama.

Masjid-masjid ini didirikan dengan konsep filosofis Jawa kiblat papat lima pancer. Dalam konsep ini, Masjid Gedhe atau Masjid Agung bertindak sebagai pusat (pancer), dikelilingi oleh empat Masjid Pathok Negoro di tiap penjuru mata angin.

Pada Kasultanan Yogyakarta, 4 masjid tersebut masing-masing adalah Masjid Mlangi di sisi barat laut, Masjid Plosokuning di sisi timur laut, Masjid Babadan di sisi tenggara dan Masjid Dongkelan di sisi barat daya.

Sementara itu Masjid Wotgaleh sendiri diperkirakan juga merupakan Masjid Pathok Negoro di era Kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Kotagede.

Ada kemungkinan Masjid Wotgaleh ini merupakan Masjid Pathok Negoro di sisi timur laut. Sementara Masjid Wonokromo merupakan Masjid Pathok Negoro di sisi Tenggara.

Namun, Yaser menegaskan bahwa dugaan tersebut masih merupakan kajian awal yang masih harus terus diteliti dan dikembangkan.

“Ini masih perkiraan kami karena masih terus dikaji. Setiap era bisa saja memiliki pathok negoro yang berbeda. Jadi, yang kita lihat sekarang mungkin baru bagian permukaan dari kajian yang lebih luas,” katanya.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar