Mabur.co – Sejumlah daerah memiliki tradisi unik dalam menyambut momen pergantian Tahun Baru Islam atau malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa.
Di Kabupaten Kulon Progo tepatnya di Padukuhan Bendungan Lor, Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates, sejumlah warga punya cara tersendiri untuk memperingati malam 1 Suro.
Yakni melakukan tradisi berupa ritual tapa bisu mengelilingi kampung atau padukuhan seperti layaknya tradisi tapa bisu yang digelar Keraton Yogyakarta.

Dalam tradisi yang telah menjadi agenda rutin tahunan ini, warga akan berjalan kaki mengelilingi batas kampung tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai bentuk muhasabah diri dalam menyambut tahun yang baru.
Ritual Laku Bisu
Tepat pukul 00.00 WIB, sekitar 300 warga dari empat RT dan dua RW nampak mulai bergerak menyusuri jalan-jalan kampung. Mereka terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia.
Dengan berjalan kaki menempuh jarak lebih dari dua kilometer selama sekitar satu setengah jam, mereka mengelilingi wilayah padukuhan sambil melantunkan doa, zikir, dan ayat-ayat suci Alquran di dalam hati maupun secara bersama-sama pada titik-titik tertentu.
Dalam ritual ini setiap warga diwajibkan menjaga keheningan dan tidak boleh melakukan percakapan sepanjang perjalanan. Karena itulah tradisi ini dikenal dengan istilah laku bisu, yang berarti melakukan sesuatu dengan tanpa berbicara.

Dukuh Bendungan Lor, Putra Dwi Agus Purnomo, menjelaskan bahwa tradisi turun temurun ini lahir dari gagasan para tokoh kampung pendahulu. Yakni dengan mengadakan kegiatan tapa bisu di momen malam pergantian tahun.
Lewat kegiatan sederhana ini warga diajak melakukan perenungan dan introspeksi atas perjalanan hidup masing-masing. Yakni melalui musabahah atau evaluasi diri atas segala perbuatan yang telah dilakukan selama setahun terakhir.
“Tradisi ini mengajak warga untuk merenungkan perjalanan hidupnya, mengingat kesalahan yang pernah dilakukan, lalu bertekad memperbaiki diri di tahun yang baru. Dikemas sederhana, namun memiliki makna mendalam,” ujarnya.
Sebelum ritual laku bisu dimulai, warga terlebih dahulu menggelar doa bersama, tahlil, dan muhasabah yang dipimpin para sesepuh kampung. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan kembul bujono atau makan bersama.

Warga akan nampak membawa nasi ingkung dan berbagai hidangan hasil swadaya masing-masing keluarga sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki dan nikmat yang telah diberikan Tuhan selama setahun terakhir.
Suasana kebersamaan tampak begitu kental. Saat makanan yang dibawa warga tersebut kemudian disantap bersama tanpa membedakan status sosial maupun usia.
Tradisi ini sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga dan memperkuat semangat gotong royong yang masih terjaga di tengah kehidupan modern.

Dalam perjalanan mengelilingi kampung, rombongan juga akan berhenti di sejumlah titik perbatasan dusun. Di lokasi ini warga melantunkan azan, iqamah, zikir, dan doa bersama sebelum melanjutkan perjalanan.
Ritual ini dimaknai sebagai permohonan agar kampung mereka senantiasa diberikan keselamatan, dijauhkan dari berbagai bencana dan marabahaya, serta dilimpahi keberkahan dan rezeki pada tahun mendatang.
Salah seorang warga, Suko Kristianto, menilai tradisi laku bisu memiliki nilai positif yang perlu terus dilestarikan. Selain memperkuat spiritualitas masyarakat, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.
“Anak-anak dan remaja bisa belajar tentang kebersamaan, rasa syukur, dan pentingnya menjaga tradisi leluhur. Harapannya tradisi seperti ini bisa diteruskan oleh generasi berikutnya,” katanya.

