Mabur.co – Selamatan selama ini dikenal sebagai salah satu adat istiadat yang biasa dilakukan masyarakat Jawa dalam memulai atau menjalani siklus baru dalam kehidupan.
Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Selamatan juga dilakukan sebagai ungkapan doa untuk memohon keselamatan dan dijauhkan dari rintangan maupun mara bahaya.
Sayangnya di era modern saat ini, tradisi Selamatan semakin luntur di kalangan masyarakat Jawa. Tak hanya mengalami penyederhanaan, tradisi Selamatan ini bahkan juga mulai hilang dan ditinggalkan.
Selamatan Menandai Peristiwa Penting
Hal bisa dilihat dari semakin jarangnya masyarakat melakukan Selamatan dalam momen-momen keseharian seseorang. Seperti misalnya saat memperoleh pekerjaan yang diinginkan, menempati rumah baru, hingga mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Pasalnya Selamatan saat ini lebih banyak dilakukan sebatas untuk peristiwa-peristiwa penting dalam siklus kehidupan seseorang, seperti kehamilan, kelahiran, pernikahan atau kematian.
Semakin luntur dan hilangnya tradisi Selamatan dalam kehidupan keseharian ini paling banyak dirasakan di wilayah urban atau perkotaan, seperti misalnya Kota Yogyakarta.
Kuncoro, salah seorang warga Mergangsan Yogyakarta, tak menampik semakin jarangnya masyarakat melakukan tradisi Selamatan untuk menandai siklus baru dalam kehidupan keseharian mereka.
“Kalau dulu, setiap ada yang diterima pekerjaan, pindah rumah, atau bisa membeli sesuatu misalnya mobil selalu ada Selamatan. Biasanya orang itu akan mengundang warga sekitar untuk kenduri dan berdoa bersama. Tapi sekarang sudah sangat jarang,” katanya, Minggu (19/7/2026).
Biaya Mahal
Mahalnya biaya yang harus dikeluarkan seseorang untuk melakukan Selamatan, hingga anggapan bahwa tradisi tersebut sebagai bagian kebiasaan lama yang dianggap memberatkan dan tak diwajibkan dalam ajaran agama menjadi alasan.
“Sekarang orang pasti berpikir dua kali jika harus mengeluarkan banyak uang untuk sekadar melakukan tradisi Selamatan. Karena biayanya tidak sedikit. Mending untuk kebutuhan yang lain,” katanya.
Tak heran tradisi Selamatan saat ini lebih banyak dilakukan oleh masyarakat kalangan menengah ke atas yang lebih mampu diri sisi perekonomian.
Sementara masyarakat kalangan menengah ke bawah cenderung melakukan tradisi Selamatan secara terbatas hanya untuk momen-momen tertentu saja.
