Ritual ‘Laku Bisu’ Malam 1 Suro Ada Juga di Kulon Progo 

4 Min Read
Sejumlah warga Bendungan Lor, Wates, Kulon Progo melakukan ritual laku bisu keliling kampung guna memperingati malam 1 Suro. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co –  Sejumlah daerah memiliki tradisi unik dalam menyambut momen pergantian Tahun Baru Islam atau malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa.

Di Kabupaten Kulon Progo tepatnya di Padukuhan Bendungan Lor, Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates, sejumlah warga punya cara tersendiri untuk memperingati malam 1 Suro. 

Yakni melakukan tradisi berupa ritual tapa bisu mengelilingi kampung atau padukuhan seperti layaknya tradisi tapa bisu yang digelar Keraton Yogyakarta. 

People walk in a line at night toward a brightly lit food stall or kiosk along a dark path, with foliage to the left and a railing to the right.
Sejumlah Warga Bendungan Lor, Wates, Kulon Progo, melakukan ritual laku bisu keliling kampung guna memperingati malam 1 Suro. (Foto: JH Kusmargana)

Dalam tradisi yang telah menjadi agenda rutin tahunan ini, warga akan berjalan kaki mengelilingi batas kampung tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai bentuk muhasabah diri dalam menyambut tahun yang baru.

Ritual Laku Bisu

Tepat pukul 00.00 WIB, sekitar 300 warga dari empat RT dan dua RW nampak mulai bergerak menyusuri jalan-jalan kampung. Mereka terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia. 

Dengan berjalan kaki menempuh jarak lebih dari dua kilometer selama sekitar satu setengah jam, mereka mengelilingi wilayah padukuhan sambil melantunkan doa, zikir, dan ayat-ayat suci Alquran di dalam hati maupun secara bersama-sama pada titik-titik tertentu.

Dalam ritual ini setiap warga diwajibkan menjaga keheningan dan tidak boleh melakukan percakapan sepanjang perjalanan. Karena itulah tradisi ini dikenal dengan istilah laku bisu, yang berarti melakukan sesuatu dengan tanpa berbicara.

Line of people walking single file along a grassy path at night, lit by a distant flashlight beam on the ground
Sejumlah Warga Bendungan Lor, Wates, Kulon progo saat melakukan ritual laku bisu (foto: JH Kusmargana)

Dukuh Bendungan Lor, Putra Dwi Agus Purnomo, menjelaskan bahwa tradisi turun temurun ini lahir dari gagasan para tokoh kampung pendahulu. Yakni dengan mengadakan kegiatan tapa bisu di momen malam pergantian tahun.

Lewat kegiatan sederhana ini warga diajak melakukan perenungan dan introspeksi atas perjalanan hidup masing-masing. Yakni melalui musabahah atau evaluasi diri atas segala perbuatan yang telah dilakukan selama setahun terakhir.

“Tradisi ini mengajak warga untuk merenungkan perjalanan hidupnya, mengingat kesalahan yang pernah dilakukan, lalu bertekad memperbaiki diri di tahun yang baru. Dikemas sederhana, namun memiliki makna mendalam,” ujarnya.

Sebelum ritual laku bisu dimulai, warga terlebih dahulu menggelar doa bersama, tahlil, dan muhasabah yang dipimpin para sesepuh kampung. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan kembul bujono atau makan bersama. 

Group of men in traditional clothing and a soldier sit on a mat at night, surrounding baskets of ceremonial food offerings.
Sejumlah Warga Bendungan Lor, Wates, Kulon Progo melakukan kenduri. (Foto: JH Kusmargana)

Warga akan nampak membawa nasi ingkung dan berbagai hidangan hasil swadaya masing-masing keluarga sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki dan nikmat yang telah diberikan Tuhan selama setahun terakhir.

Suasana kebersamaan tampak begitu kental. Saat makanan yang dibawa warga tersebut kemudian disantap bersama tanpa membedakan status sosial maupun usia. 

Tradisi ini sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga dan memperkuat semangat gotong royong yang masih terjaga di tengah kehidupan modern.

Man in a light khaki uniform and black hat outdoors at night, smiling with trees in the background.
Dukuh Bendungan Lor Putra Dwi Agus Purnomo (foto: JH Kusmargana)

Dalam perjalanan mengelilingi kampung, rombongan juga akan berhenti di sejumlah titik perbatasan dusun. Di lokasi ini warga melantunkan azan, iqamah, zikir, dan doa bersama sebelum melanjutkan perjalanan. 

Ritual ini dimaknai sebagai permohonan agar kampung mereka senantiasa diberikan keselamatan, dijauhkan dari berbagai bencana dan marabahaya, serta dilimpahi keberkahan dan rezeki pada tahun mendatang.

Salah seorang warga, Suko Kristianto, menilai tradisi laku bisu memiliki nilai positif yang perlu terus dilestarikan. Selain memperkuat spiritualitas masyarakat, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.

“Anak-anak dan remaja bisa belajar tentang kebersamaan, rasa syukur, dan pentingnya menjaga tradisi leluhur. Harapannya tradisi seperti ini bisa diteruskan oleh generasi berikutnya,” katanya.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment