Bangunan Bekas Singgah Perjuangan Panglima Sudirman Beralih Fungsi Jadi Infrastruktur Pemerintahan

2 Min Read
White two-story building with blue-gray trim and red-tiled roofs in a sunny courtyard, potted plants at the entrance, and a parked black SUV nearby.
Bangunan kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta dahulu merupakan rumah tinggal Letjen Oerip Soemoharjo (penggagas pendirian akademi militer di Kota Yogyakarta). (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Bangunan  kantor  Dinas  Pariwisata  Kota Yogyakarta dahulu merupakan  rumah  tinggal  Letjen Oetip Soemoharjo (penggagas, pendiri akademi militer di Kota Yogyakarta).

Bangunan ini juga pemah menjadi titik akhir rute gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman di tahun 1949, dan pernah  berfungsi  sebagai  kantor Departemen Luar Negeri, saat  Ibukota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta.  

Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, S.I.P., M.Si, menjelaskan kawasan Kotabaru dulu merupakan permukiman Belanda.

Beragam fasilitas ada di sana misalnya berupa sekolah hingga gedung-gedung perkantoran, salah satunya rumah dinas Panglima TNI Jenderal Sudirman.

”Tahun 1948 ketika TKR (Tentara Keamanan Rakyat) mengumumkan (Jenderal) Sudirman menjadi panglima besar maka mendapatkan rumah di sini,” ucapnya, Selasa (16/6/2026).

Professional woman seated at a desk in an office, wearing glasses and a patterned red‑black top with an ID badge visible on a lanyard.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, S.I.P., M.Si. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Lucia mengatakan, rumah dinas tersebut berdekatan dengan salah satu objek vital yakni pangkalan militer. Kini pangkalan militer itu menjadi Museum TNI AD Dharma Wiratama.

“Dulunya pangkalan militer, perlu didukung dengan rumah-rumah dinas. Salah satunya adalah rumah dinas (Jenderal Sudirman). Selain sebagai rumah tinggal, kediaman ini sering digunakan tokoh militer pada masa itu untuk berdiskusi,” ucapnya.

Signboards with Indonesian government notices about cultural heritage mounted on a pale wall in front of a building. Framed red windows above and decorative green metalwork visible.
Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.07/PW.007/MKP/2010 menjadikan bekas rumah dinas Jendral Sudirman menjadi cagar budaya. (Foto: Setiaky A Kusuma)


Lucia menjelaskan, saat perang perang gerilya, Sudirman memulai gerilya ke timur melewati rute selatan, selama 7 bulan juga meninggalkan keluarganya di Widoro (nama jalan sebelum berganti ke Jalan Suroto) karena jelas di situ lebih aman.

Saat perang gerilya Sudirman berakhir, rumah dinas itulah yang menjadi rute terakhir dan tempat pertama yang disinggahi.

“Saat ini, rumah dinas tersebut telah ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.07/PW.007/MKP/2010. Selain itu, rumah dinas Jenderal Sudirman juga sudah beralih fungsi menjadi infrastruktur pemerintahan yaitu Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta,” katanya.


Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment