Mabur.co- Bangunan kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta dahulu merupakan rumah tinggal Letjen Oetip Soemoharjo (penggagas, pendiri akademi militer di Kota Yogyakarta).
Bangunan ini juga pemah menjadi titik akhir rute gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman di tahun 1949, dan pernah berfungsi sebagai kantor Departemen Luar Negeri, saat Ibukota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, S.I.P., M.Si, menjelaskan kawasan Kotabaru dulu merupakan permukiman Belanda.
Beragam fasilitas ada di sana misalnya berupa sekolah hingga gedung-gedung perkantoran, salah satunya rumah dinas Panglima TNI Jenderal Sudirman.
”Tahun 1948 ketika TKR (Tentara Keamanan Rakyat) mengumumkan (Jenderal) Sudirman menjadi panglima besar maka mendapatkan rumah di sini,” ucapnya, Selasa (16/6/2026).

Lucia mengatakan, rumah dinas tersebut berdekatan dengan salah satu objek vital yakni pangkalan militer. Kini pangkalan militer itu menjadi Museum TNI AD Dharma Wiratama.
“Dulunya pangkalan militer, perlu didukung dengan rumah-rumah dinas. Salah satunya adalah rumah dinas (Jenderal Sudirman). Selain sebagai rumah tinggal, kediaman ini sering digunakan tokoh militer pada masa itu untuk berdiskusi,” ucapnya.

Lucia menjelaskan, saat perang perang gerilya, Sudirman memulai gerilya ke timur melewati rute selatan, selama 7 bulan juga meninggalkan keluarganya di Widoro (nama jalan sebelum berganti ke Jalan Suroto) karena jelas di situ lebih aman.
Saat perang gerilya Sudirman berakhir, rumah dinas itulah yang menjadi rute terakhir dan tempat pertama yang disinggahi.
“Saat ini, rumah dinas tersebut telah ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.07/PW.007/MKP/2010. Selain itu, rumah dinas Jenderal Sudirman juga sudah beralih fungsi menjadi infrastruktur pemerintahan yaitu Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta,” katanya.

