1 Suro, Warga Salamrejo Sentolo Gelar Siraman Jamus Kalimasada 

4 Min Read
Two men in traditional clothing lean over a table, stitching yellow fabric as spectators watch.
Upacara adat tradisi Siraman Jamus Kalimasada di Dusun Klebakan Salamrejo Sentolo Kulonprogo (foto : Kalurahan Salamrejo)

Mabur.co – Memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa, masyarakat Padukuhan Klebakan, Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo kembali menggelar tradisi Jamasan atau Siraman Jamus Kalimasada, Selasa (16/6/2026). 

Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi wujud penghormatan terhadap peninggalan leluhur sekaligus upaya menjaga warisan budaya Jawa agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Dilansir dari situs resmi Pemerintah Kalurahan Salamrejo, dalam tradisi ini, para sesepuh dan pemangku adat akan menjamas Kitab Jamus Kalimasada, yang merupakan sebuah naskah kuno berbahan daun lontar yang dipercaya berasal dari masa Kerajaan Mataram. 

Pusaka tersebut merupakan warisan yang diterima Eyang Darmo Gathi atau Wono Sosro dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan hingga kini dirawat oleh keturunan generasi keempatnya yang bermukim di Padukuhan Klebakan.

Suasana khidmat terasa sejak awal prosesi. Sebelum menyentuh kitab pusaka, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti tradisi makan jenang usik atau jenang sumsum. Sajian sederhana tersebut bukan sekadar hidangan, melainkan syarat adat yang harus dilakukan sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, sekaligus penghormatan kepada para leluhur.

Prosesi Jamasan

Prosesi jamasan kemudian dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Pada masa lampau, kitab dibersihkan menggunakan jadah sebagai bagian dari tradisi turun-temurun. Namun seiring perkembangan zaman, perawatan dilakukan menggunakan minyak kasturi, jafaron, dan alkohol agar kondisi fisik naskah tetap terjaga. 

Meski cara perawatan berubah, nilai filosofis yang terkandung di dalamnya tetap dipertahankan, yakni sebagai simbol penyucian diri dan penghormatan terhadap warisan nenek moyang.

Tradisi jamasan ini menyimpan keunikan yang selalu menjadi perhatian masyarakat. Setiap tahun, jumlah lembar daun lontar Kitab Jamus Kalimasada selalu mengalami perubahan. Pada pelaksanaan tahun ini, jumlah lembar yang dihitung mencapai 69 lembar. Jumlah tersebut bertambah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 68 lembar.

Fenomena berubahnya jumlah lembar kitab menjadi misteri yang belum dapat dijelaskan secara pasti. Sepanjang sejarah pelaksanaan tradisi, jumlah lembar terbanyak pernah mencapai 78 lembar pada tahun 1978, sedangkan jumlah paling sedikit tercatat pada tahun 2020, yakni hanya 59 lembar.

Kitab Jamus Kalimasada sendiri memiliki ukuran sekitar 40 sentimeter dengan lebar lima sentimeter. Seluruh lembarannya terbuat dari daun lontar dan ditulis menggunakan aksara Jawa kuno. Intisari kitab yang dikenal sebagai “Jamas Kalimat Syahadat” berisi petunjuk kehidupan menuju kejujuran dan nilai-nilai kebajikan.

Pada masa lalu, isi kitab tersebut dibaca sambil dilantunkan dalam bentuk kidung atau tembang pujian. Namun, seiring berjalannya waktu, kemampuan membaca aksara Jawa mulai memudar. 

Saat ini sebagian besar keturunan Eyang Darmo Gathi sudah tidak lagi mampu membaca tulisan yang terdapat di dalam naskah tersebut, padahal dahulu pembacaan isi kitab menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari prosesi jamasan.

Tradisi Siraman Jamus Kalimasada tahun ini turut dihadiri berbagai unsur pemerintah dan pegiat budaya, mulai dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Tim Monitoring dan Evaluasi Kalurahan Budaya DIY, praktisi budaya, hingga jajaran Forkopimda setempat.

Selain menjadi momentum untuk merawat pusaka peninggalan leluhur, tradisi Siraman Jamus Kalimasada ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, memperkuat ikatan persaudaraan antarwarga, serta menanamkan kecintaan terhadap budaya Jawa kepada generasi muda.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment