Lilik Purtiyati, Dari Anak Tukang Jamu Gendong Jadi Pengusaha Produk Herbal Modern

Mabur.co – Di sebuah rumah sederhana tengah desa tepatnya padukuhan Cerme, Panjatan, Kulon Progo, beragam produk olahan rempah-rempah tersaji setiap hari. Di tempat itulah Lilik Purtiyati (36) merintis usaha olahan herbal berbasis tanaman empon-empon dan rempah lokal Indonesia.

Lilik bukan pendatang baru di dunia jamu. Ia adalah anak seorang penjual jamu gendong. Usaha yang ia rintis berawal dari keresahan yang ia rasakan melihat orang tuanya. Setiap hari, jamu dagangan sang ibu kerap tidak habis terjual. Sisa jamu pun tidak bisa disimpan lama karena mudah basi.

Kondisi itulah yang mendorong Lilik mencari cara agar jamu bisa lebih tahan lama dan praktis dikonsumsi.

“Proses pembuatan herbal dimulai dari situ. Kami memproses jamu agar awet dan tahan lama. Salah satunya kami kristalkan,” kata Lilik kepada Mabur.co.

Menurut Lilik, inovasi tersebut bertujuan mempermudah konsumen yang memiliki aktivitas padat.

“Ini sangat mempermudah para pecinta jamu yang sibuk tapi tetap bisa minum jamu kapan pun. Tinggal diseduh, tidak ribet, dan tangannya tidak kotor,” ujarnya.

Melalui merek Ngiras Nyawiji, Lilik bersama lima orang pekerja mengolah hampir seluruh bagian tanaman herbal. Akar, daun, batang, kulit, biji, bunga, buah, hingga umbi dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi. Bahan baku diperoleh dari petani lokal Kulon Progo.

Berbagai produk herbal yang dihasilkan Ngiras Nyawiji Foto JH Kusmargana

Hingga kini, Ngiras Nyawiji telah menghasilkan 16 jenis produk, mulai dari simplisia, jamu instan cair, serbuk jamu kristal, hingga minyak pijat herbal. Seluruh produk masih diproses secara tradisional dengan standar kebersihan yang dijaga secara ketat.

Produk herbal Ngiras Nyawiji berkhasiat untuk menjaga kesehatan tubuh sekaligus membantu proses regenerasi sel sehingga badan terasa lebih bugar.

“Kita lebih untuk menstabilkan, karena herbal itu membantu memperbaiki metabolisme. Jadi meregenerasi sel bukan mengobati. Ketika regenerasi sel itu ada, otomatis tubuh akan lebih fit dan prima. Karena dia mengobati dirinya sendiri,” kata Lilik.

Produk-produk tersebut dipasarkan melalui toko oleh-oleh dan sejumlah gerai di Kulon Progo. Ia juga memiliki gerai di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Sementara melalui penjualan daring, produk Ngiras Nyawiji telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, dari Pulau Jawa, Sumatra, hingga Papua.

Meski diproduksi dalam skala rumah tangga, Lilik tidak merasa minder bersaing dengan produk herbal pabrikan. Menurutnya, keunggulan produknya terletak pada bahan alami tanpa campuran kimia serta proses pengolahan yang mempertahankan kualitas rasa dan khasiat.

Tempat produksi olahan jamu herbal milik Lilik Purtiyati Foto JH Kusmargana

Namun, proses produksi tidak selalu berjalan mulus. Musim penghujan seperti saat ini selalu menjadi tantangan tersendiri. Penjemuran bahan baku yang masih mengandalkan sinar matahari membuat waktu produksi menjadi lebih panjang.

“Kalau hujan terus, proses pengeringan bisa dua kali lebih lama,” ujarnya.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Lilik memilih menyimpan stok bahan baku lebih banyak saat musim kemarau. Langkah ini dilakukan agar produksi tetap berjalan stabil sepanjang tahun.

Bagi Lilik, usahanya bukan semata soal bisnis. Ia ingin tanaman herbal Indonesia tetap dikenal dan dimanfaatkan generasi muda. Ia percaya, kekayaan alam Nusantara memiliki potensi besar jika dikelola secara serius.

Dari rumah sederhana di Kulon Progo, Lilik Purtiyati membuktikan bahwa tradisi bisa berjalan seiring dengan inovasi. Jamu tidak lagi sekadar warisan masa lalu, melainkan peluang masa depan yang terus ia rawat melalui Ngiras Nyawiji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *