Mabur.co – Indonesia negara yang kaya keberagaman adat seni dan budaya. Di tiap-tiap pelosok daerah memiliki keunikan dan identitas seni yang dimiliki.
Dilansir dari disbudparekraf.jateng, Rabu (17/6/2026) Tari Buto Gedruk merupakan tarian yang memiliki ciri khas memakai topeng. Topeng tersebut menyeramkan, menggambarkan raksasa atau buto.
Kesenian Gedruk atau Tari Rampak Buta atau Tari Rampak Gedruk Buto adalah genre seni pertunjukan tari tradisional kerakyatan yang berbentuk komposisi tari kelompok.
Gedruk secara etimologis memiliki arti hentakan kaki. Gedruk berarti satu kaki berdiri pada ujung telapak, tepat di belakang tumit kaki yang lain.
Biasanya tari tersebut dibawakan selama 45 menit dan memiliki ciri khas gerakan tersendiri. Tak terlalu rumit.
Kemarahan Raksasa
Hentakan kaki dan ayunan tangan yang kompak menggambarkan kemarahan raksasa yang berkuasa. Pada kaki para penari terpasang puluhan lonceng yang gemerincing berirama senada dengan irama kendang serta gamelan yang mengiringi.
Kostum para penari menggunakan topeng dengan wujud yang menyeramkan. Topeng yang digunakan biasanya berbahan kayu dengan ukiran mata yang melotot tajam, serta gigi taring yang panjang.
Pakaian yang digunakan memiliki warna yang mencolok seperti merah, kuning, biru, dan hijau. Selain itu juga dilengkapi untaian kain sampur atau selendang serta rambut sang raksasa.
Tari Buto Gedruk atau biasa disebut Tari Rampak Buto ini juga merupakan tarian yang menggambarkan kemurkaan raksasa karena ulah manusia yang semakin hari semakin merusak bumi seisinya.
Tari Buto Gedruk atau Tari Rampak Buto berkembang di sejumlah daerah di Jawa Tengah seperti Semarang dan Yogyakarta. ***

