Mabur.co- Yogyakarta, salah satu kota istimewa di Indonesia. Memiliki pesona yang tak hanya terpancar dari keindahan alamnya. Tetapi juga dari keragaman budaya dan budi pekerti.
Di tengah arus perubahan zaman yang semakin pesat, Yogyakarta tetap teguh mempertahankan nilai-nilai budaya, khususnya terkait dengan budi pekerti. Hal ini mencerminkan karakter kuat dan sikap luhur yang dimiliki oleh masyarakat tersebut. Budaya dan budi pekerti yang erat terkait menjadi fondasi dan identitas unik bagi warga Yogyakarta.
Suasana tenang pun terasa ketika melewati halaman pekarangan Bangsal Magangan Keraton. Tak ada deru mesin yang bikin bising kuping. Padahal jalan Patehan, Keraton, Kota Yogyakarta, terletak di pusat kota.
Adab Sopan Santun
Carik Parentah Hageng Keraton Ngayogyakarta, KRT. Wijoyopamungkas menjelaskan, budaya pengendara menuntun motor itu merupakan adab sopan santun.
Terutama pada saat melintas di halaman keraton, karena halaman keraton bukan merupakan jalan umum.
“Warga pun sudah mengetahui peraturan tersebut sedari dulu. Ketika kita melewati pekarangan keraton harus dituntun sepeda dan kendaraan bermotornya,” ujarnya saat diwawancarai via telepon, Rabu (17/6/2026).

KRT. Wijoyopamungkas juga menuturkan, tak hanya masyarakat, wisatawan domestik, dan wisatawan mancanegara saja, tetapi peraturan ini juga berlaku untuk Abdi Dalem yang sedang bertugas maupun melewatinya.
Bahkan tradisi ini sudah ada sejak keraton berdiri tahun 1755 sampai sekarang. Jauh sebelum motor akrab dipakai warga.
Di masa kini tradisi menuntun kendaraan bermotor merupakan bagian dari kesesuaian adab budaya priyayi dan warga Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Filosofi peraturan tersebut memiliki arti sebuah bentuk penghormatan terhadap keraton. Ini disebut sebagai adab dan sopan santun terhadap Keraton Yogyakarta yaitu kepada Raja Sri Sultan Hamengku Buwono X,” ujarnya.
KRT. Wijoyopamungkas juga mengatakan, konon katanya apabila memaksa tetap menyalakan dan menaiki motor, maka di pertengahan jalan motor tersebut akan mati (mogok). Apabila tetap menaiki sepeda maka juga akan tiba-tiba tidak bisa dijalankan.
“Hal ini menjadi sebuah kepercayaan masyarakat setempat dan dijadikan peraturan adat yang tidak tertulis,” pungkasnya. ***

