Mabur.co – Sebagai wilayah Indonesia di bagian paling Timur, Papua dikenal memiliki tradisi yang terbilang unik, dan tidak dimiliki oleh wilayah-wilayah lainnya di seluruh Indonesia.
Salah satu tradisi unik tersebut adalah “bakar batu”.
“Bakar batu” bukan berarti kegiatan membakar batu untuk membuang sial atau semacamnya, melainkan sebuah kegiatan memasak dan makan bersama yang dilakukan berbagai suku adat di Papua.
Adapun batu yang dimaksud adalah alat yang digunakan untuk memasak, seperti memasak umbi-umbian (petatas atau ubi jalar), dan berbagai jenis daging, ayam, ikan, sayuran, dan tentu saja sagu, sebagai makanan khas Papua.
Tahapan Melakukan Tradisi “Bakar Batu”
Dilansir dari laman KPU, Rabu (17/6/2026), tradisi ini dimulai dengan sekelompok warga dari berbagai suku melakukan gotong royong mencari kayu bakar dan batu kali khusus yang tahan panas.
Kemudian kaum pria menyiapkan galian lubang di tanah, untuk menaruh tumpukan batu dan makanan yang sudah dicari sebelumnya. Sementara kaum perempuan menyiapkan bahan-bahan makanan yang diperlukan, seperti daging, umbi-umbian (ubi, keladi), dan sayuran.
Setelah semua bahan dan peralatan disiapkan, masyarakat pun mulai membakar kayu-kayu di sekitar batu, agar menjadi panas dan berwarna kemerahan.
Batu yang sudah merah membara pun dipindahkan dengan capit kayu tradisional, untuk dimasukkan ke dalam lubang yang telah disiapkan. Lapisan batu panas di dasar lubang pun ditutupi dengan dedaunan atau alang-alang, untuk melindungi makanan dari efek panas langsung dari sumbernya.
Setelah itu, bahan makanan pun disusun rapi di atas lapisan daun tersebut, untuk kemudian ditimpa lagi dengan batu panas, dan diberi dedaunan kembali.
Seluruh tumpukan makanan dan batu pun ditutup rapat menggunakan rumput, daun pisang, dan batu panas di bagian paling atas, untuk menjaga suhu panasnya tetap terjaga. Seluruh makanan dibiarkan matang secara alami oleh uap panas selama beberapa jam.
Setelah matang, penutup dibuka perlahan dan makanan pun diangkat. Seluruh makanan pun dikeluarkan dan dipotong-potong sesuai bagian. Dalam proses ini, kepala suku akan membagikan makanan secara adil kepada seluruh warga yang telah hadir dari berbagai suku.
Seluruh warga pun dipersilakan untuk berkumpul secara melingkar, dan memakan hidangan bersama-sama, sebagai wujud rasa syukur dan kebersamaan.
Dengan melakukan kegiatan “bakar batu” ini, masyarakat Papua dapat memupuk semangat persaudaraan, persatuan, sekaligus penghormatan terhadap leluhur.
Selain itu, tradisi ini juga menjadi wujud rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, menyambut kebahagiaan atas hasil panen, serta meredakan konflik antar-suku, yang selama ini kerap mewarnai kehidupan bermasyarakat di wilayah Papua. (*)

