Mabur.co – Berbicara tentang Papua rasanya tidak akan lengkap jika tidak membicarakan salah satu tarian khasnya. Ada pun salah satu tarian khas dari Papua bernama Sajojo.
Tari Sajojo adalah tarian tradisional dari Papua, khususnya dari Sorong, Papua Barat Daya, yang memiliki fungsi sebagai tari pergaulan.
Dilansir dari laman Gramedia, Rabu (17/6/2026), tarian ini mulai populer pada tahun 1990-an, sebagai pengiring lagu daerah dengan judul yang sama (Sajojo), yang memiliki lirik berbahasa Moi.
Lagu “Sajojo” sendiri diciptakan oleh mantan anggota grup band legendaris Black Brothers, David Rumagesan. Lagu ini menceritakan tentang seorang gadis desa yang cantik jelita, dan begitu dicintai oleh keluarga dan para pemuda di desanya.
Karena lagunya yang begitu enerjik, kemudian muncullah gerakan tari secara spontan dari orang-orang yang menyanyikannya, sampai akhirnya muncullah tarian khusus “Sajojo”, tak lama setelah lagu tersebut beredar luas di kalangan masyarakat.
Mengingat lagu beserta gerakannya yang begitu menyenangkan, tarian ini sering dibawakan dalam berbagai acara di Papua, mulai dari pesta adat, perayaan komunitas, hingga penyambutan tamu.
Lagu dan tarian Sajojo bisa dinyanyikan dan dilakukan oleh siapa saja, baik pria maupun wanita, tua ataupun muda, dibawakan dalam berbagai acara, atau sebagai hiburan pelepas penat.
Cara Melakukan Tarian Sajojo
Gerakan tari Sajojo bisa dibilang sangat dinamis, dan didominasi oleh gerakan kaki serta tangan. Penari bisa melakukan gerakan maju dan mundur dengan tempo cepat, menyesuaikan dengan irama lagu.
Kemudian penari juga bisa melompat, sambil mengikuti irama lagu yang sedang berjalan. Kaki pun dihentakkan ke tanah secara berirama, diiringi dengan ayunan lengan ke kanan dan kiri secara bergantian.
Sementara terkait kostum atau busana, sebenarnya tidak ada aturan yang baku ketika ingin melakukan tarian ini, khususnya jika dilakukan sebagai sarana hiburan saja, atau saat nongkrong bersama teman.
Namun untuk beberapa acara formal atau pesta adat tertentu, setiap penari diharuskan mengenakan busana tradisional khas Papua, yakni rok rumbai-rumbai, yang terbuat dari rajutan daun sagu, kulit kayu, atau serat alami lainnya yang melingkar di pinggang.
Serta asesoris tambahan berupa hiasan di kepala berbentuk bulu burung kasuari atau anyaman, kalung, gelang, dan lukisan tubuh (tato/corak khas), agar menambah kesan estetik, berani, serta lincah.
Senada dengan lagu Sajojo itu sendiri, tarian Sajojo juga melambangkan kebersamaan, kegembiraan, rasa syukur, serta semangat gotong royong dari masyarakat setempat.
Saking populernya lagu serta tarian ini, tak jarang Sajojo juga ikut dibawakan atau diputar di daerah-daerah lainnya di seluruh Indonesia, namun tetap disesuaikan dengan ciri khas atau gaya dari masing-masing individu, khususnya dalam aspek pakaian. (*)

