Sarung, Tak Sekadar Busana Santai yang Dikenakan di Rumah

4 Min Read
Smiling woman wearing a hijab pulls a plaid blanket toward the camera.
Bagi sejumlah orang, sarung bahkan acapkali jadi busana santai yang nyaman untuk dikenakan di rumah atau sekadar untuk menghangatkan diri dari udara malam. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co- Sarung, kain dengan jahitan sederhana ini, sangat populer di Indonesia. Rasanya, hampir semua rumah di Indonesia punya setidaknya satu sarung untuk berbagai kebutuhan. Jika laki-laki muslim ingin salat, sarung menjadi atribut yang kerap dikenakan. Tak hanya untuk beribadah, sarung juga sering dikenakan untuk upacara pernikahan dan acara adat. 

Bagi sejumlah orang, sarung bahkan acapkali jadi busana santai yang nyaman untuk dikenakan di rumah atau sekadar untuk menghangatkan diri dari udara malam (kerebongan-Betawi), saat ngobrol bersama tetangga di pos ronda, dan sebagainya.

Dilansir dari Diktisaintek, Minggu (21/6/2026), secara denotatif, sarung adalah lembaran kain dalam ukuran panjang dan lebar tertentu yang sisi ujungnya dijahit sehingga membentuk seperti tabung, tidak ada ujungnya.

Makna Sarung

Meski demikian tidak semua kain secara otomatis dapat dijadikan sarung, karena dalam konteks tradisional setiap kain memiliki makna filosofi tersendiri.

Hal yang membedakan dari setiap sarung selain ukuran adalah material yang digunakan, motif, dan warnanya. Di luar bentuk fisiknya, sarung tentu memiliki  makna tertentu bagi masyarakat yang menempatkannya sebagai wahana spiritual.

Sarung masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad XIV seiring masuknya pengaruh Islam. Meski demikian hal ini harus dikaji kembali karena sebelum kedatangan Islam,  kebudayaan bersarung kemungkinan sudah ada di berbagai suku di Indonesia. Beberapa daerah yang mewariskan peradaban sarung ini masih bisa dilihat, misalnya Suku Bugis di Sulawesi Selatan, masyarakat NTB, dan Bali.

Secara umum orang menempatkan sarung sebagai sarung, yakni benda (fashion) yang memiliki fungsi utama sebagai penutup tubuh tertentu  tanpa dibebani makna apapun.  Fungsi sarung di sini seperti halnya orang memakai handuk  selepas mandi, tidak ada  makna apapun kecuali untuk keperluan menghilangkan air yang masih melekat di tubuh.

Hal yang sama juga ketika sarung digunakan sebagai selimut tubuh untuk mengusir dingin, atau sarung yang telah rusak digunakan untuk menyarungi buah nangka agar tidak diserang hama.

Pemakaian sarung bisa saja bermakna simbolik. Sarung bisa sebagai penanda penjahat, misalnya ketika seorang anak perempuan yang memainkan peran sebagai pencuri menggunakan sarung sebagai penutup wajah.

Sarung juga bisa dimodifikasi menjadi beragam simbol, seperti penanda kaum muslim dengan para santrinya (pelajar muslim di pesantren) serta simbol dan identitas suatu kota (Samarinda). Tentu saja pemaknaan ini sangat tergantung siapa yang mengonstruksi makna, dan tujuan pemaknaan tersebut.

Salah satu masyarakat yang menempatkan sarung sebagai sarana ritual adalah suku Bugis. Mulai dari upacara  kelahiran, pernikahan, hingga kematian, masyarakat Bugis tidak lepas dari kain sarung.

Bahkan untuk proses ritual hubungan intim suami ada sarungnya sendiri, dan tidak boleh dipakai oleh siapa pun kecuali pasangan tersebut.

Oleh karenanya, jenis sarung ini dijadikan hadiah bagi pengantin baru. Tidak hanya itu,  proses penenunan sarung sampai saat ini juga masih mempertahankan tradisi, yakni melalui serangkaian kegiatan yang disertai doa.

Makna sarung yang terkait dengan nilai-nilai kearifan lokal sudah barang tentu akan lenyap jika generasi penerusnya tidak mampu menjaga warisan leluhurnya. Sudah saatnya, anak muda menjaga warisan peradaban bangsanya sesuai dengan kreativitas dan keilmuan yang dimilikinya tanpa meninggalkan nilai-nilai yang ada di dalamnya.

Dalam ranah fesyen, sarung bisa diekspresikan dalam bentuk apa pun, namun harus cerdas dalam memilih jenis sarung yang digunakan terkait dengan material, motif, dan maknanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar