Apa Saja Ciri-ciri Bangunan yang Tahan terhadap Gempa?

3 Min Read
Dome-shaped modern house with arched openings and a carport beneath, on a grassy hill with a driveway and patio seating outside.
Ilustrasi rumah tahan gempa yang disebut sebagai "Eye of the Storm" (Mata Badai), yang berlokasi di South Carolina, Amerika Serikat (Foto: qhomemart.com)

Mabur.co – Bangunan anti atau tahan terhadap gempa menjadi sebuah keniscayaan yang harus dimiliki oleh setiap bangunan atau rumah masa kini. Apalagi mengingat Indonesia merupakan negara yang terletak antara pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, dan dilalui oleh jalur Cincin Api Pasifik.

Dengan memiliki desain bangunan anti-gempa, dampak kerusakan yang ditimbulkan bisa diminimalisir sekecil mungkin. Kehidupan sehari-hari pun tetap mampu dijalankan sebagaimana mestinya, tanpa perlu terlalu banyak mengorbankan biaya, waktu, tenaga, dan sebagainya.

Namun, masih banyak orang yang belum sepenuhnya memahami, seperti apa desain bangunan anti-gempa tersebut, dan apa yang membedakannya dengan bangunan biasa pada umumnya (yang bukan anti-gempa).

Meskipun tidak mempunyai perbedaan signifikan dari segi bentuk secara kasat mata, namun bangunan anti-gempa dan bangunan biasa tetap memiliki sejumlah perbedaan mendasar, yang mungkin hanya bisa dipahami oleh konstruktor bangunannya itu sendiri, atau orang-orang yang ahli dalam bidang kegempaan atau mitigasi bencana, dan seterusnya.

Dilansir dari laman Dekoruma, Selasa (23/6/2026), berikut adalah sejumlah ciri khas bangunan anti-gempa, sekaligus perbedaannya dengan bangunan biasa pada umumnya.

1. Denah Simetris dan Sederhana

Bentuk bangunan yang simetris (seperti bujur sangkar atau lingkaran) dan sederhana dapat mendistribusikan beban guncangan gempa secara merata ke seluruh struktur, sehingga meminimalisir risiko puntiran atau retak parah pada sudut bangunan tertentu.

2. Struktur Bangunan Monolit

Bangunan anti-gempa memiliki elemen struktur bangunan yang menyatu satu sama lain, mulai dari kolom, balok, hingga pelat lantai, semuanya harus dicor dalam satu-kesatuan (monolit), agar bangunan bergerak sebagai satu unit yang kokoh saat terjadi guncangan.

3. Beton Bertulang yang Berkualitas

Rangka utama yang paling umum digunakan adalah beton bertulang, karena rangka jenis ini memiliki sifat yang kuat, namun tetap memiliki tingkat kelenturan (ductility) tertentu untuk menyerap energi gempa.

4. Material Atap dan Dinding Ringan

Beban yang berat pada bagian atas bangunan dapat memperbesar gaya inersia saat terjadi gempa. Maka, penggunaan material yang lebih ringan (misalnya atap baja ringan dan dinding bata ringan) dapat mengurangi dampak getaran tersebut.

Masih terkait dengan poin nomor dua, di mana seluruh sambungan antara dinding, kolom, dan atap haruslah diikat dengan kuat menggunakan angkur dan tulangan besi yang presisi. Dengan begitu, setiap elemen tidak mudah terlepas atau porak-poranda, saat menerima beban lateral dari guncangan gempa.

***

Mencegah lebih baik daripada memperbaiki (yang sudah rusak). Meskipun belakangan ini tidak banyak terjadi gempa di beberapa daerah di Indonesia, namun ancaman terjadinya gempa tetap selalu ada kapan saja. Sehingga kita harus bisa mempersiapkan diri (dan pengetahuan) dengan sebaik mungkin, agar tidak kaget dan selalu siap dengan segala situasi yang bisa saja terjadi di kemudian hari. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment