Mabur.co – Kadipaten Pakualaman kembali menggelar tradisi Hajad Dalem Labuhan di kawasan Pantai Glagah, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Jumat (26/06/2026) pagi.
Tradisi budaya yang telah berlangsung lebih dari satu abad ini pun mampu menarik perhatian masyarakat yang datang dari berbagai daerah.
Selain hadir untuk menyaksikan prosesi sakral yang hanya digelar setiap setahun sekali, tak sedikit masyarakat datang untuk mengikuti ritual rayahan gunungan sebagai simbol mencari berkah.

Prosesi labuhan sendiri diawali dengan prosesi kirab sejauh sekitar satu kilometer. Dimulai dari Pesanggrahan Pakualaman di kawasan utara perempatan Glagah menuju Pendopo Labuhan yang berada di kawasan Pantai Glagah sisi barat.
Dalam kirab ini puluhan prajurit bregada nampak mengawal dua gunungan berisi hasil bumi, jajanan pasar, serta berbagai uba rampe yang menjadi bagian dari upacara adat tersebut.

Satu rombongan pasukan bregada yakni Bregada Lombok Abang yang mengenakan seragam berwarna merah dan bersenjata tombak, berada di barisan paling depan.
Sementara satu rombongan pasukan bregada lainnya yakni Bregada Plangkir yang menggunakan seragam bernuansa hitam dan bersenjatakan senapan nampak berada di barisan belakang.

Sesampainya di lokasi, para abdi dalem bersama tim SAR lantas mempersiapkan prosesi labuhan. Sejumlah barang pribadi milik Sri Paku Alam X dibungkus menggunakan kain hingga menyerupai boneka manusia. Bersama dua gunungan, benda-benda tersebut didoakan sebelum akhirnya dilarung ke laut selatan.
Prosesi labuhan ini dimaknai sebagai simbol membuang segala keburukan dan hal-hal negatif, sekaligus memanjatkan doa agar masyarakat diberikan keselamatan, ketenteraman, dan kelancaran menjalani kehidupan selama setahun ke depan.

Usai prosesi labuhan, suasana berubah menjadi semarak ketika masyarakat mengikuti rayahan gunungan. Warga dari berbagai daerah tampak antusias berebut hasil bumi yang diyakini membawa berkah untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing.
Salah seorang warga, Sukaryanti, asal Kulon Progo, mengaku rutin datang setiap tahun untuk mengikuti tradisi tersebut.
Menurutnya, selain menjadi warisan budaya yang harus dijaga, hasil gunungan dipercaya membawa keberkahan bagi keluarga.

“Tahun kemarin tidak datang. Tapi alhamdulillah tahun ini bisa datang bersama keluarga. Alhamdulillah bisa ikut ngrayah biar dapat berkah. Nanti uba rampe ini mau dimasak untuk satu keluarga,” katanya.
Sementara itu, pengunjung lainnya, Firli, asal Magelang mengaku antusias mengikuti tradisi ini. Ia menilai tradisi Labuhan menjadi daya tarik tersendiri karena memadukan nilai budaya, spiritual, dan kebersamaan masyarakat dalam satu rangkaian acara.
“Kebetulan pas liburan di sini. Jadi sekalian lihat tradisi labuhan. Menarik sekali karena hanya digelar setahun sekali,” katanya.

Panitia penyelenggara, KRMT Sestro Diprojo bersama Raden Riyo Budyo Kartiyoso, menjelaskan Hajad Dalem Labuhan merupakan tradisi turun-temurun yang telah dilaksanakan sejak masa Paku Alam II.
Dahulu prosesi ini hanya dilakukan secara internal di lingkungan Kadipaten Pakualaman, namun kini dibuka untuk masyarakat sebagai bagian dari pelestarian budaya sekaligus pengembangan pariwisata.
Selain dimaknai sebagai ritual adat, tradisi ini juga digelar sebagai wujud rasa syukur serta doa agar masyarakat dan pemimpin senantiasa diberikan keselamatan dan keberkahan.

“Secara umum tidak ada yang berbeda dengan penyelenggaraan tahun lalu. Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja memang tahun ini tanggal penyelenggaraan berdasarkan hitungan Jawa berbeda dengan kalender nasional. Sehingga tidak seramai biasanya,” katanya.
Dihadiri sejumlah pejabat FORKOPIMDA Kabupaten Kulon Progo termasuk perwakilan Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata, tradisi labuhan ini diharapkan dapat terus dilestarikan agar tidak punah dan mampu memperkuat daya tarik wisata budaya di Kabupaten Kulon Progo.


