Gerhana matahari adalah peristiwa alam yang sebenarnya lumrah atau biasa saja. Pada waktu berkala matahari akan seolah-olah tertutup oleh bulan sehingga pancaran sinarnya untuk sementara berhenti. Setelah ketertutupan itu usai, maka tak ada lagi halangan bagi matahari untuk kembali memancarkan cahayanya.
Tetapi, dasar manusia, makhluk homo sapiens yang mirip kera dan mirip gorila itu, bisa saja mempunyai tafsir dan imajinasi yang hiperbolis serta dramatis terhadap peristiwa gerhana matahari. Tafsir dan imajinasinya juga bisa macam-macam.
Pada saat saya masih berusia seukuran celana merah putih, begitu mendengar akan ada gerhana matahari maka yang terjadi di kampung justru kepanikan. Sebelum gerhana matahari tiba, ayah saya sibuk mengganti genteng rumah kaca dengan yang bukan kaca. Takut jika sampai buta karena efek gerhana matahari.
Seiring perkembangan zaman, para homo sapiens termasuk ayah saya semakin tahu bahwa gerhana matahari tidak membahayakan. Informasi pun lebih akurat sampai karena bantuan ponsel. Kini, banyak orang justru merindukan bisa menikmati gerhana matahari dengan perangkat tertentu yang penting aman untuk menyaksikan peristiwa alam yang maha hebat itu.
Banyak orang pun berbondong-bondong membeli kamera agar bisa mengabadikan peristiwa gerhana matahari. Karena kemajuan teknologi pula para homo sapiens itu tidak lagi menafsirkan peristiwa gerhana matahari menjadi bernilai mitos atau klenik. Saat gerhana matahari terjadi juga tidak perlu lagi ketakutan.
Imajinasi para homo sapiens menjadi lega dalam menerima fakta gerhana matahari sebagai peristiwa alam yang ilmiah. Apalagi, kini, ilmu astronomi juga sudah dapat diterima secara populer, berita tentang astronot yang terbang ke luar angkasa dan pulang ke bumi pun sudah dianggap biasa saja.
Bahkan rotasi imajinasi para homo sapiens juga justru menjadi lebih kreatif dengan dijumpainya peristiwa gerhana matahari. Musisi Ebiet G Ade, misalnya, mengembangkan imajinasi tentang matahari menjadi lagu berjudul Menjaring Matahari yang tenar pada 1987. Begitu pula dengan grup band rock God Bless yang meluncurkan album Menjilat Matahari pada 1989. Tak keteteran musisi Iwan Fals merilis album Mata Dewa juga pada 1989.
Saya sangat terhibur dengan lagu-lagu yang berangkat dari rotasi imajinasi para homo sapiens tentang matahari itu. Saat lagu-lagu itu meledak, terlebih lagi saat lagu Mata Dewa meledak, saya mengakui bahwa Setiawan Djody dan Iwan Fals memang musisi yang andal hingga mampu menemukan diksi estetik yang sangat membius publik, yaitu mata dewa.
Pola dan gaya hidup para homo sapiens dari zaman ke zaman semakin kreatif dan menunjukkan pencapaian kreativitas serta intelektualitas yang semakin cemerlang. Dunia sinema kita juga pernah diperkaya dengan adanya film Matahari-matahari karya Arifin C. Noer yang berkibar pada 1985. Dunia sastra kita juga pernah dikejutkan dengan novel Namaku Matahari karya Remy Sylado pada 2011 dan novel Matahari karya Tere Liye pada 2016. Kumpulan cerpen harian Bernas Yogyakarta berjudul Lukisan Matahari juga pernah fenomenal pada 1993.
Matahari memang dipilih sebagai diksi spesial yang ketika digunakan dalam karya seni menjadi terpersepsikan gagah, selalu menang, istimewa, tak terkalahkan, superior, jantan, dan sejenisnya. Bersyukurlah kejadian di alam semesta ini sebenarnya semuanya saling menginspirasi dan semuanya gratis. Oleh sebab itu, jika kemudian manusia menjadi serakah membisniskan semua yang ada di dunia padahal sebenarnya hanyalah tinggal dikelola dan dibagi rata, itu sudah tindakan yang melampaui imajinasi.
Boleh jadi, tindakan membisniskan alam semesta itu memang merupakan tindakan jahat karena hakikatnya seluruh yang ada di alam semesta hanya untuk dinikmati bersama-sama. Disyukuri bersama-sama. Tanpa ada pungutan liar, entah atas nama pajak atau apa pun. Terlebih lagi pajak itu dikelola oleh para homo sapiens yang di dalam imajinasi paling biadab sesungguhnya tidak layak untuk muncul. ***
Penulis adalah pemimpin redaksi mabur.co



