Bersejarah, 29 Juni 1949 Penanda Kembalinya Republik Indonesia ke Yogyakarta

5 Min Read
Cone-shaped silver dome atop a tiled, low-slung building with an open entrance and blue sky
Hari bersejarah kembalinya Yogyakarta ke pangkuan Republik Indonesia diperingati setiap 29 Juni. Tanggal tersebut menandai ditariknya pasukan Belanda dari Yogyakarta pada 29 Juni 1949 setelah sebelumnya menduduki Ibu Kota Republik Indonesia dalam Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Mabur.co–  Hari bersejarah kembalinya Republik Indonesia ke Yogyakarta sebagai ibu kota negara diperingati setiap 29 Juni.

Pada masa itu pula, Belanda menduduki Yogyakarta, sempat menangkap Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, serta melancarkan propaganda bahwa Indonesia telah runtuh.

Sebelumnya, atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Jenderal Sudirman, dengan komando operasi lapangan Letkol Soeharto, pasukan Indonesia telah melancarkan Serangan Umum 1 Maret 1949.

Manajer Operasional Monumen Jogja Kembali (Monjali), Nanang Dwinanto, mengatakan, penarikan tentara pendudukan Belanda dari ibu kota RI ke Yogyakarta hingga Soeharto membuat Museum Monuman Jogja Kembali (Monjali) ceritanya diawali dari peristiwa itu sangat penting.

Artinya peristiwa itu bukan peristiwa yang hanya di Yogyakarta tapi peristiwa itu menyangkut nasional karena ibu kota yang direbut oleh Belanda di agresi yang kedua 1948.

Kemudian direbut lagi dengan perjuangan yang luar biasa yang diawali dari serangan umum 1 Maret, karena serangan umum 1 Maret itu roh peristiwa Jogja Kembali,

Setelah Perjanjian Roem-Royen

Setelah Perjanjian Roem-Royen yang mana kesepakatan damai penting antara Indonesia dan Belanda ditandatangani pada 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta.

“Perjanjian ini bertujuan menyelesaikan konflik pasca-Agresi Militer Belanda dan membuka jalan bagi pengakuan kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar,” ucapnya, Senin (29/6/2026).

Nanang mengatakan, dengan serangan umum itu timbul Perjanjian Roem-Royen yang intinya bahwa pemimpin yang ditawan dikembalikan ke Yogyakarta, kemudian tentara Belanda yang ada di Yogyakarta harus disingkirkan dari wilayah Yogyakarta.

Diawali dengan tanggal 6 Juli 1949, kembalinya Presiden, Wakil Presiden, para menteri, kemudian tanggal 10 Juli 1949 Jenderal Sudirman kembali ke Yogyakarta, berarti Yogyakarta menjadi kota Republik Indonesia lagi.

Peristiwa yang sangat luar biasa, di mana perjuangan serangan umum 1 Maret itu sesuatu yang sangat menarik. Agresi Belanda kedua itu merebut Yogyakarta sebagai ibu kota hanya dalam waktu 1 jam.

Karena TNI agak malu dengan masyarakat, semangat masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan agak luntur.

“Kemudian dengan adanya serangan 1 Maret yang bisa merebut Yogyakarta kembali walaupun dalam 6 jam, peristiwa itu luar biasa diketahui oleh dunia internasional,” katanya.

Nanang mengatakan juga, peristiwa 1 Maret sangat penting sehingga di Yogyakarta selalu diperingati. Tapi belum ada monumen yang mempelopori peringatan itu.

Kolonel Sugiarto adalah mantan Wali Kota Yogyakarta (dahulu disebut Walikotamadya) yang menjabat pada era saat tahun 1982 sampai 1986.

Karena peristiwa  itu sangat penting, maka Kolonel Sugiarto menggagas sebuah monumen dan Museum Monuman Jogja Kembali (Monjali) sebagai titik mundur tentara Belanda.

Museum Monuman Jogja Kembali (Monjali) juga menyimpan koleksi-koleksi bukti perjuangan.

Kolonel Sugiarto waktu itu menyampaikan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan disetujui untuk membangun Museum Jogja Kembali.

“Lokasi letak yang menentukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Ringroad Utara. Karena pertimbangannya di satu garis imajiner Gunung Merapi sampai Laut Selatan. Yang kedua karena di pinggir Ringroad Utara letaknya sangat strategis.

Waktu itu, tempat wisata paling terkenal Borobudur, Prambanan dan Monjali berada di tengah-tengah jadi sangat strategis. Hal itu juga sebagai tanda titik terakhir mundurnya tentara Belanda, maka kemudian dibangun pada 29 Juni 1985. Kurang lebih 3 tahun lalu diresmikan oleh Presiden Soeharto karena bangunan ini bangunan nasional. Tentu yang meresmikan adalah Presiden. Bangunan Monjali terdiri dari tiga lantai dan alhamdulillah sampai sekarang masih menjadi ikon Yogyakarta,” katanya.

Nanang menuturkan, sampai sekarang bangunan ini tidak ada perubahan karena mengandung filosofi. Di museum Monjali pembangunannya luar biasa. Baik dari filosofi maupun kekokohan bangunan.

Bangunan ini memiliki filosofi dalam budaya Jawa melambangkan rasa syukur. Rasa syukur ini terwujud atas kemenangan bangsa Indonesia dalam peristiwa kembalinya Yogyakarta sebagai ibu kota negara yang sempat diduduki Belanda.

Bangunan berbentuk kerucut ini dikelilingi kolam yang tidak hanya berfungsi sebagai estetika saja tetapi secara filosofi juga sebagai pengaman atau penolak segala sesuatu yang bersifat jahat.

“Selain itu air kolam juga memiliki arti lambang kesucian,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar