Pengamat: Benarkah Pemecatan STY Awal dari Kehancuran Timnas Indonesia?

5 Min Read
Salah satu momen paling berkesan Coach Shin Tae-Yong saat melatih timnas Indonesia, yakni ketika mampu mengalahkan negaranya sendiri (Korea Selatan) dalam pertandingan Perempat Final AFC Cup U-23 di Qatar pada 2024 lalu. (Foto: Bolasport.com)

Mabur.co – PSSI era kepemimpinan Erick Thohir sempat membuat keputusan yang mengejutkan, ketika memberhentikan pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong (STY), dari kursi pelatih timnas Indonesia pada awal Januari 2025 lalu.

Padahal saat itu, Indonesia sedang berada dalam optimisme tinggi untuk bisa melangkah ke putaran final Piala Dunia 2026, usai mengalahkan Arab Saudi pada bulan November 2024, dan berhasil memangkas jarak dari Australia dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026 ronde ketiga.

Keputusan itu pun langsung mengejutkan semua pihak, termasuk juga dunia internasional. Erick Thohir dan PSSI yang mondar-mandir di berbagai media saat itu juga tidak benar-benar mampu mengungkapkan alasan sebenarnya di balik pemecatan STY.

Dalam banyak kesempatan, Erick lebih banyak berputar-putar menjelaskan alasan pemecatan STY dengan konteks-konteks lainnya, tanpa menjelaskan secara pasti alasan yang sebenarnya.

Prestasi Makin Merosot

Sejak saat itu, prestasi timnas Indonesia bisa dibilang terus merosot. Bahkan dalam ajang Piala AFF yang saat ini masih berlangsung, Indonesia kembali gagal lolos dari fase grup dalam dua edisi berturut-turut (2024 dan 2026). Di mana dua edisi AFF tersebut dilaksanakan saat PSSI berada di bawah kepemimpinan Erick Thohir.

Padahal di awal masa kepemimpinannya sebagai Ketum PSSI, Erick Thohir bisa dibilang mengawalinya dengan cukup menjanjikan. Terutama ketika berhasil membawa Indonesia merebut medali emas SEA Games di cabang sepak bola pada Mei 2023 lalu, setelah absen selama 32 tahun lamanya.

Menurut pengamat sepak bola nasional, Haris Pardede, atau yang biasa disapa Bung Harpa, kiprah mantan Presiden Inter Milan itu sebagai Ketum PSSI awalnya memang cukup menjanjikan.

Namun sejak pemecatan STY secara tiba-tiba tersebut, nama besar Erick Thohir perlahan-lahan mulai surut. Hal itu semakin diperparah dengan kegagalan timnas Indonesia menembus putaran final Piala Dunia 2026 lalu.

Selain itu, Indonesia juga terus mengalami serangkaian kegagalan lainnya, mulai dari gagal lolos ke putaran final Piala Asia U-23 tahun 2026, padahal di edisi sebelumnya (2024) masuk posisi 4 saat dilatih STY, gagal menjuarai Piala AFF U-23 di kandang sendiri, gagal lolos dari fase grup SEA Games 2025 di Thailand, dan yang terbaru yaitu gagal di Piala AFF 2026 bersama pelatih John Herdman.

“Sebenarnya pemecatan pelatih dalam timnas atau klub itu sesuatu yang biasa, tapi caranya (serta momentumnya) itu lho. (PSSI) pakai menggiring opini segala, terus bikin fitnah juga. Terus yang gantiin (Patrick Kluivert) juga enggak bagus, dan akhirnya kan jadi runtuh semua ini fondasinya. Padahal gue dulu dukung habis-habisan nih Pak Erick di PSSI, tapi sejak mecat STY semuanya langsung buyar,” ucap Bung Harpa, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Peluit Akhir, beberapa waktu lalu.

Faktor Orang-orang di Sekitarnya

Bung Harpa bahkan ikut menyentil jabatan lainnya dari Erick Thohir, yang dulunya menjabat sebagai Menteri BUMN, dan kini beralih jadi Menpora (Menteri Pemuda dan Olahraga). Di mana dua jabatan politik itu memungkinkan Erick untuk tidak transparan dalam setiap keputusan yang dibuat.

Terlebih ia juga salah satu Menteri dalam jajaran Kabinet Merah Putih milik Presiden Prabowo Subianto, yang dikenal kerap bermasalah dalam hal komunikasi publik.

“Mungkin orang-orang di sekitarnya juga nih. Komunikasinya menurut gue cukup buruk. Gue nggak ngerti kenapa orang-orang lama ini masih dipertahankan. Padahal kan kalau hasilnya udah jelek, PR (public relation) harusnya meredam, dong. Meredam yang jelek, lalu mengamplifikasi yang bagus. Nah ini malah kebalik, mengamplifikasi yang jelek, tapi malah meredam yang bagus, gitu,” tambah Bung Harpa.

Dengan penurunan citra Erick sebagai Ketum PSSI sejak memecat STY, tidak mengherankan bagi Bung Harpa ketika jumlah penonton timnas Indonesia terus berkurang dari waktu ke waktu. Sekalipun telah berganti nakhoda ke John Herdman untuk saat ini.

Padahal ketika Kualifikasi Piala Dunia 2026 lalu, stadion Gelora Bung Karno (GBK) yang menjadi kandang timnas Indonesia, selalu dipenuhi oleh lautan suporter berwarna merah dan putih, yang ingin menjadi saksi kelolosan skuad Garuda ke putaran final Piala Dunia.

Sayangnya, keinginan itu harus kembali tertunda, akibat ulah PSSI memberhentikan STY di tengah jalan. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar