Mabur.co – Di kaki Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sebuah bangunan sederhana pernah menjadi saksi bisu salah satu peristiwa penting dalam perjalanan Republik Indonesia di masa awal kemerdekaan.
Di tempat itulah sebuah perjanjian penting yang menjadi tonggak perjuangan diplomasi Indonesia dalam mempertahankan keberadaan republik setelah Proklamasi Kemerdekaan pernah dibuat.
Bangunan itu adalah Museum Perundingan Linggarjati yang menjadi lokasi disepakatinya Perundingan Linggarjati yang terjadi pada 11–13 November 1946 silam.
Di Desa Linggarjati yang sangat sejuk inilah kala itu perundingan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Belanda dilaksanakan.
Saat itu delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir, sementara delegasi Belanda dipimpin Willem Schermerhorn, dengan Inggris bertindak sebagai mediator.
Lahirnya Naskah Linggarjati
Perundingan tersebut menghasilkan Naskah Linggarjati yang kemudian dikenal sebagai Perjanjian Linggarjati.
Dilansir laman Kementerian Luar Negeri, Sabtu (15/8/2026), sebelum digunakan sebagai lokasi Perjanjian Linggarjati, bangunan museum ini sendiri memiliki sejarah panjang.
Riwayat bangunan ini bermula pada 1918. Saat itu, bangunan ini masih berupa sebuah gubuk milik Ibu Jasitem.
Lalu pada 1921, gubuk tersebut berpindah tangan kepada seorang berkebangsaan Belanda bernama Tersana. Bangunan kemudian dirombak menjadi bangunan permanen.
Sembilan tahun kemudian, tepatnya pada 1930, bangunan tersebut kembali berganti pemilik. Mr. Jacobus atau Koos Van Johannes, seorang berkebangsaan Belanda, menjadikannya sebagai rumah tinggal.
Pada 1935, rumah tersebut dikontrak Theo Huitker untuk dijadikan sebuah hotel bernama Rustoord.
Fungsinya kembali berubah ketika Jepang menguasai Hindia Belanda pada 1942. Setelah Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang, Hotel Rustoord berganti nama menjadi Hotel Hokayryokan.
Pasca-Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, hotel tersebut lalu berganti nama menjadi Hotel Merdeka.
Pada 1946, Indonesia dan Belanda sepakat melakukan perundingan untuk mencari jalan keluar atas konflik pascakemerdekaan. Hotel ini pun akhirnya dipilih sebagai tempat perundingan atas usulan Maria Ulfah, Menteri Sosial pertama Republik Indonesia.
Lokasinya dinilai cukup strategis karena tidak terlalu jauh dari Jakarta, tetapi masih berada di wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Kondisi Kuningan yang sejuk dan nyaman juga menjadi pertimbangan.
Perundingan berlangsung selama tiga hari, 11–13 November 1946. Pertemuan tersebut kemudian menghasilkan Naskah Linggarjati. Karena menjadi tempat berlangsungnya peristiwa bersejarah itu, bangunan ini kemudian dikenal sebagai Gedung Perundingan Linggarjati.
Sempat digunakan sebagai Sekolah Dasar Negeri Linggarjati pada era 1950 hingga 1975, Gedung Linggarjati akhirnya dijadikan museum memorial sekitar tahun 1976.
Destinasi untuk Mengenang Perjuangan Indonesia
Kini, Museum Perundingan Linggarjati menjadi tempat untuk mengenang salah satu fase penting perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan melalui jalur diplomasi.
Dilansir laman resmi Pemda Jabar, museum ini memiliki ruang-ruang yang ditata sedemikian rupa untuk menggambarkan suasana ketika perundingan berlangsung.
Ketika mengunjungi museum ini pengunjung dapat melihat berbagai dokumentasi foto, replika ruang perundingan, serta berbagai benda pendukung yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Bangunan ini juga menjadi bagian dari kawasan sejarah Linggarjati yang menyimpan jejak aktivitas para tokoh yang terlibat dalam perundingan.
Tidak jauh dari gedung utama juga terdapat Gedung Sjahrir, tempat Sutan Sjahrir beristirahat selama rangkaian perundingan.
Nampak replika sejumlah tempat tidur dipajang di ruang ini. Di mana lokasi ini juga menjadi tempat beristirahat Presiden Soekarno yang sempat berkunjung untuk memantau jalannya perundingan.
Di kawasan kompleks bangunan bergaya indis inilah jejak panjang perjalanan bangsa Indonesia yang baru saja merdeka dan sedang berusaha mempertahankan keberadaannya pernah terpatri.
Meski terlihat tua dan sederhana, Museum Perundingan Linggarjati ini pun harus terus dijaga dan dilestarikan agar dapat menjadi pembelajaran bagai generasi mendatang.
