Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, hadir sebagai pembicara kunci dalam Seminar Nasional “Sutan Takdir Alisjahbana, Bahasa Indonesia, dan Cita-Cita Kebangsaan: Meneguhkan Warisan Pemikiran bagi Indonesia Masa Depan” yang diselenggarakan di Auditorium Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta.
Menbud juga menyoroti pentingnya menjadikan pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana (STA) sebagai kompas bagi masa depan peradaban Indonesia yang berdaya saing global.

Dalam pidatonya, Menteri Kebudayaan mengapresiasi ikhtiar UHAMKA dan komunitas intelektual yang terus mendiskusikan pemikiran STA, sekaligus secara terbuka mendukung usulan agar tokoh besar tersebut dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasa dan pengabdiannya yang luar biasa bagi pembentukan Indonesia modern.
“Tanpa sejarah, sebuah bangsa kehilangan arah. Tanpa budaya, bangsa kehilangan jati diri, dan tanpa bahasa, bangsa kehilangan kemampuan membangun masa depan bersamanya. Sutan Takdir Alisjahbana adalah tokoh visioner yang memahami betul bagaimana merajut ketiga elemen ini,” tegas Menbud Fadli Zon di hadapan para akademisi, sejarawan, budayawan, dan mahasiswa yang hadir, dalam rilis yang diterima mabur.co, Senin (29/6/2026).
Menteri Kebudayaan mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang dari Eropa Sentris menjadi “Nusantara Sentris”.
Simpul Strategis Peradaban Dunia
Sebagaimana gagasan yang dicetuskan STA pada dekade 1970-an, Nusantara bukanlah pinggiran dunia (Far East), melainkan simpul strategis peradaban dunia.
Indonesia saat ini berdiri di atas mega diversitas budaya (cultural megadiversity) dengan lebih dari 1.340 etnis dan 718 bahasa daerah.
Menbud Fadli Zon juga menyoroti peran sentral STA dalam mengangkat derajat bahasa Melayu rendah menjadi bahasa Indonesia yang modern dan saintifik.
Pada tahun 1929, di usianya yang baru 21 tahun, STA telah menulis novel Tak Putus Dirundung Malang, membuktikan bahwa bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa sastra kelas tinggi.
Kini, perjuangan tersebut membuahkan hasil monumental, Bahasa Indonesia telah resmi menjadi bahasa ke-10 di UNESCO pada 2024, dengan jumlah penutur melampaui 300 juta jiwa di kawasan Asia Tenggara.
“Di tengah derasnya arus globalisasi dan transformasi digital seperti Kecerdasan Artifisial, pesan STA melalui Polemik Kebudayaan di era 1930-an tetap sangat relevan. Kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter bangsa. Modernitas memberikan daya saing, sementara kebudayaan memberi arah dan identitas. Keduanya tidak untuk dipertentangkan, melainkan harus bersinergi,” ungkap Menbud Fadli Zon.
Kegiatan seminar ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan rektorat, di antaranya Wakil Rektor III UHAMKA, Prof. Dr. Nani Solehati M.Pd.; Wakil Rektor II UHAMKA, Dr. Desvian Bandarsyah M.Pd.; Dekan FKIP UHAMKA, Purnama Syaepurohman M.Pd., Ph.D.; Wakil Dekan I FKIP UHAMKA, Dr. Ika Yatri M.Pd.; Wakil Dekan III FKIP UHAMKA, Dr. Harinaredi M.Pd.; para akademisi, dan keluarga besar Sutan Takdir Alisjahbana. ***

