Terkadang Lebih Baik Tidak Tahu, Daripada Tahu Segalanya

5 Min Read
Ilustrasi. Seseorang yang cemas setelah melihat banyaknya informasi yang muncul di ponselnya (Foto: Kev Costello via Unsplash)

Mabur.co – Di tengah perkembangan zaman yang penuh dengan informasi (tsunami informasi) seperti sekarang, manusia seolah dituntut untuk tahu segala hal yang terjadi di dunia ini dalam waktu singkat.

Baik itu informasi yang viral di media sosial terkait politik, ekonomi, kriminal, sosial, budaya, olahraga, pendidikan, termasuk informasi tentang keluarga, teman-teman sekolah/kerja, kabar artis terbaru, dan seterusnya, semua itu harus dikonsumsi oleh manusia secara instan, sekaligus dipahami konteksnya secara menyeluruh, dengan durasi yang sesingkat mungkin.

Padahal, manusia punya banyak hal lain yang harus dilakukan dalam hidup, tidak hanya tentang mengkonsumsi “tsunami informasi” tersebut setiap harinya.

Terlebih, tidak semua informasi tersebut juga penting untuk dikonsumsi, lantaran tidak semuanya memiliki kaitan langsung dengan hidup kita, serta berpotensi membawa pemikiran yang kurang baik (overthinking dan sejenisnya) ketika menjalankan aktivitas lain.

Misalnya ketika sedang menyetir di jalan raya, Anda justru berpikir keras tentang situasi perang yang terjadi di Timur Tengah, akibatnya Anda malah kehilangan fokus saat menyetir, sehingga ujung-ujungnya malah membahayakan Anda sendiri maupun pengendara lain di sekitarnya. Padahal, situasi yang terjadi di TImur Tengah tidak secara langsung berpengaruh terhadap kehidupan Anda.

Pentingnya “Diet Informasi

Disitulah pentingnya melakukan semacam “diet informasi”, atau mem-filter setiap informasi yang ingin diakses atau dikonsumsi setiap harinya. Karena nyatanya, tidak semua informasi yang beredar di dunia maya atau digital itu layak untuk Anda ketahui, lantaran setiap informasi juga punya segmentasinya (target audiens) sendiri-sendiri.

Meskipun tahu segala hal juga sama sekali tidaklah buruk, namun manusia tetaplah memiliki batasan dalam menerima informasi setiap harinya. Karena terlalu banyak menerima informasi akan memicu apa yang disebut sebagai information overload, di mana otak akan mengalami kelelahan kognitif saat menerima atau memproses terlalu banyak data.

Dilansir dari jurnal Universitas Medan Area, Senin (29/6/2026), kondisi ini jika dibiarkan terus-menerus akan berpotensi menurunkan kemampuan konsentrasi, memicu kecemasan berlebihan, dan membuat seseorang sulit mengambil keputusan dengan tepat.

Selain itu, mengkonsumsi banyak informasi sekaligus juga dapat memicu kelelahan mental, mempengaruhi kesehatan emosional, sekaligus menghambat fokus ketika menjalankan aktivitas lainnya, seperti contoh yang telah dijelaskan di atas.

Itu semua masih belum termasuk dengan kemungkinan disinformasi atau penyebaran hoaks, yang juga marak terjadi sekarang ini.

Langkah Filter Arus Informasi

Berikut adalah beberapa langkah yang bisa Anda lakukan, untuk bisa melakukan “diet informasi”, alias mem-filter setiap informasi yang masuk ke ponsel Anda setiap harinya.

Anda bisa membatasi atau meng-unfollow akun-akun yang dianggap lebih sering menyebarkan sensasi atau hoaks. Pilihlah akun yang terpercaya dan mampu menyajikan fakta secara objektif dan berimbang.

Dalam konteks informasi lain (di luar berita), Anda juga perlu membatasi penggunaan media sosial, scrolling TikTok/Instagram (melihat kabar atau story teman-teman), serta kurangi membuat postingan dan status yang tidak perlu.

Diet informasi juga bisa dilakukan dengan memberlakukan jadwal dan durasi mengkonsumsi berita setiap harinya (misalnya 30 menit sehari). Di luar waktu tersebut, usahakan untuk menjauhkan diri dari gangguan ponsel, dan fokus dengan hal-hal produktif lainnya, sebisa mungkin dalam aktivitas offline (interaksi di dunia nyata).

Masih terkait dengan poin kedua, Anda juga perlu melakukan semacam “digital detox”, yakni membatasi penggunaan perangkat elektronik seperti ponsel, komputer, media sosial, dan sejenisnya selama beberapa waktu secara berkala.

Hal ini bertujuan untuk mengurangi stres, memperbaiki kualitas tidur, dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan dunia nyata, yang menjadi tempat kita hidup dan tumbuh sejak kecil.

***

Menjadi seseorang yang mengetahui segala hal di dunia ini (sering disebut sebagai Mr. know it all) memang baik adanya, dan sama sekali tidaklah buruk.

Namun, otak manusia memang tidak pernah dirancang untuk memproses dan menampung seluruh informasi di dunia ini dalam sekejap. Karena hakikatnya otak manusia bekerja dengan cara menyerap, menyaring, dan mengorganisasi informasi secara bertahap. Dan semua itu jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Karena langsung menyimpulkan setiap butir informasi secara membabi buta (termasuk dengan membagikannya ke media sosial) juga akan berdampak buruk bagi diri sendiri, ketika konteks utamanya belum dipahami secara utuh, dan seterusnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar