Masihkah Keluarga Jadi Tempat yang Aman bagi Anak untuk Bercerita?

5 Min Read
Four preschoolers sit on a beige carpet in a bright classroom, listening to a teacher offscreen.
Ilustrasi. Anak-anak saat curhat kepada orang tua, sesuatu yang mulai terasa asing di era modern saat ini. (Foto: Getty Images)

Mabur.co – Tanggal 29 Juni diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas). Peringatan ini telah ditetapkan sejak 1993, yang dilatarbelakangi oleh peristiwa bersejarah pada 29 Juni 1949, di mana para pejuang kemerdekaan Indonesia berhasil kembali berkumpul dengan keluarga mereka, setelah Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan bangsa secara penuh kepada Indonesia.

Di masa kini, eksistensi keluarga bisa dibilang sedang menghadapi ujian yang cukup berat, akibat dinamika kehidupan yang begitu kompleks dan menuntut kesempurnaan dalam segala aspek.

Adapun salah satu aspek yang cukup sulit ditemui dalam keluarga masa ini adalah keberanian untuk bercerita atau mengungkapkan keluh kesahnya masing-masing, khususnya dari sisi anak.

Ya, anak seringkali menghadapi dilema sulit mengungkapkan isi hati kepada orang tuanya di rumah. Karena setiap kali bercerita, anak kerap mendapat penghakiman, selalu dibanding-bandingkan (dengan saudara atau tetangga dan lain-lain), disalahkan, diungkit-ungkit masa lalunya (yang buruk), serta direndahkan.

Padahal, hakikatnya anak bercerita adalah untuk menumpahkan perasaan yang selama ini terpendam, terhadap suatu masalah atau hal yang belum pernah dibereskan, atau sulit ditanggulangi seorang diri, dan seterusnya.

Ketika mendapat perlakuan dari orang tuanya seperti yang telah dijelaskan di atas, anak kemudian mulai merasa trauma, dan menjauhi orang tuanya sendiri, serta lebih memilih untuk bercerita kepada teman, guru, orang lain (yang tidak dikenal), atau bahkan di media sosial.

Jika ditarik dalam konteks Harganas sebelumnya, tentunya hal semacam ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Karena selama ini keluarga kerap dikonotasikan sebagai tempat paling aman dari semua lingkungan yang dimiliki oleh seorang manusia, apalagi bagi seorang anak.

Namun di zaman modern seperti saat ini, hal itu justru bisa berlaku sebaliknya. Rumah atau keluarga malah bisa jadi tempat paling berbahaya bagi tumbuh kembang seorang anak, yang merasa tidak didukung perkembangannya, dan tidak pernah didengarkan keluh kesahnya.

Perlunya Intervensi Pihak Profesional (Tapi Bayar)

Jika sudah mengalami kondisi semacam itu, tentunya akan sulit untuk memperbaikinya secara internal, termasuk di kalangan keluarga besar sekalipun. Karena keluarga besar umumnya hanya akan membela pihak-pihak tertentu, khususnya yang menjadi bagian dari keluarganya sendiri.

Di situlah peran pihak profesional (psikolog/psikiater) sangatlah dibutuhkan, untuk melakukan intervensi terhadap masalah yang dialami oleh keluarga tersebut, termasuk bagi sang anak yang membutuhkan tempat untuk bercerita.

Sebagai pihak yang netral (bukan bagian dari keluarga salah satu pihak), para profesional biasanya akan mampu memetakan masalah yang dialami oleh keluarga tersebut, dan apa yang membuat mereka sering menghakimi sang anak ketika bercerita, dan sebagainya.

Dan tentu saja, mereka juga mampu menjadi pendengar yang jauh lebih baik bagi si anak, ketimbang kedua orang tuanya sendiri.

Namun sayangnya, menyewa bantuan profesional tentunya tidaklah gratis. Bahkan biayanya juga cenderung tidak murah, khususnya bagi keluarga kalangan menengah ke bawah.

Padahal masalah anak yang jarang didengarkan keluh kesahnya adalah masalah semua jenis keluarga, bukan hanya keluarga orang kaya semata.

Kembali pada Esensi Utama Harganas

Dilansir dari laman Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Senin (29/6/2026), dalam perayaan Harganas, keluarga dijadikan sebagai fondasi dan sumber kekuatan utama dalam membangun bangsa dan negara, karena keluarga merupakan lembaga terkecil dalam sebuah tatanan bernegara.

Untuk itu, keluarga (yang sesuai dengan prinsip Harganas) haruslah mampu memperkuat ketahanan (eksistensi, misalnya dengan tidak bercerai), keharmonisan, dan memastikan peran aktif dari setiap anggota keluarga di dalamnya, sekaligus mau mendengarkan keluh kesah anak, sebagai “buah” dalam setiap hubungan keluarga, sekaligus sebagai generasi penerus bangsa di masa depan.

Karena anak yang sehat dan berkualitas sudah pasti berasal dari bagaimana pengasuhan di dalam rumah, dalam hal ini adalah pola asuh yang diterapkan oleh orang tua tersebut.

Orang tua juga harus belajar bagaimana cara menurunkan ego masing-masing, dan tidak memaksakan seluruh kehendaknya kepada anak, sekalipun berlindung atas nama “demi kebaikan anak”, dan seterusnya.

Bagaimanapun, anak tetaplah manusia biasa, yang memiliki perasaan, luka, dan metodenya sendiri dalam mengungkapkan isi hatinya kepada orang lain.

Oleh karena itu, sebelum dia beranjak dewasa dan dilepas ke dunia luar (bekerja, menikah, dan sebagainya), Anda harus mampu memastikan kebutuhan psikologisnya telah terpenuhi dengan baik sejak dini, sehingga dia tidak akan tumbuh dengan luka-luka masa lalu yang tak kunjung beres, meskipun sudah beranjak dewasa.

Jangan sampai anak tidak lagi menganggap rumah atau lingkungan keluarga sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk bercerita, karena itu artinya Anda sudah dianggap gagal (sebagai orang tua) oleh buah hati Anda sendiri. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar