Pameran Kain Tradisional Nusantara 2026, Selembar Kain Tak Hanya sebagai Sandang

8 Min Read
Indoor hallway with colorful patterned fabric banners suspended from a metal framework ceiling.
Puluhan kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia kini terkumpul dalam satu ruang di Gedung Saraswati Museum Sonobudoyo dalam Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Mabur.co- Puluhan kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia kini terkumpul dalam satu ruang di Gedung Saraswati Museum Sonobudoyo dalam Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk “Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara”.

Pengunjung diajak melihat bagaimana selembar kain tidak hanya berfungsi sebagai sandang, tetapi juga menjadi penanda identitas, sejarah, dan perjalanan budaya masyarakat Nusantara. 

Sebanyak 85 koleksi utama dan 22 benda penunjang ditampilkan sebagai hasil kolaborasi 40 partisipan dari berbagai daerah dipamerkan.

Di tengah deretan koleksi tersebut tersimpan kisah tentang keberagaman Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dan ratusan kelompok etnis.

Setiap motif, warna, dan teknik pembuatan kain mencerminkan identitas serta kearifan lokal yang berkembang di daerah masing-masing.

Wastra Nusantara

Gallery Sitter atau pemandu galeri, Dinasya mengatakan, pameran yang berlangsung hingga 29 Juli 2026 tersebut menampilkan kekayaan wastra Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia sebagai representasi identitas budaya, nilai filosofis, dan kearifan lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

”Pameran ini bukan pameran tunggal dari Museum Sonobudoyo tetapi pameran nasional. Kami bekerja sama dengan 32 museum kurang lebih di Indonesia. Dari Museum Aceh sampai Museum Papua,” katanya saat ditemui, Selasa (30/6/2026).

Close-up of a woman wearing a black hijab and striped top, smiling slightly, standing indoors beside a wall with white text.
Gallery Sitter (Pemandu Galeri), Dinasya. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Dinasya mengatakan pula, pameran ini bertujuan  untuk melestarikan, mempromosikan, dan mengedukasi masyarakat tentang kekayaan budaya wastra Indonesia.

Melalui penyelenggaraan Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026, Museum Negeri Sonobudoyo berupaya membangkitkan kembali apresiasi budaya masyarakat terhadap kekayaan kain-kain tradisional Nusantara di tengah masuknya arus globalisasi yang masif.

“Sejalan dengan visinya sebagai museum partisipatif yang menjadi pusat pengembangan peradaban berakar budaya setempat namun berwawasan global. Museum Negeri Sonobudoyo merancang pameran ini dengan pendekatan yang lebih intim dan relevan bagi pengunjung.

Artinya, seluruh pengalaman pameran dikembangkan dari kebutuhan dan perspektif pengunjung (visitor-centered), memanfaatkan teknologi untuk menciptakan interaksi yang menarik, serta secara aktif melibatkan berbagai pihak dalam proses perencanaan hingga pelaksanaannya,” katanya.

Dimly lit auditorium or theater with decorative patterned chairs and a standing crowd, blue stage lighting casting shadows on the floor.
Pengunjung sedang melihat Imersive Video Mapping di Gedung Saraswati, Museum Sonobudoyo. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Dinasya menuturkan, untuk memberikan pengalaman visual yang terstruktur, alur cerita pameran ini dibagi ke dalam beberapa ruang dengan sub-tema khusus di antaranya Benang-benang yang Berjejalin, Wastra dan Penanda, Dari Untaian Benang Menjadi Mahakarya, Kain-Kain Magis. Wastra Wasesa, Wastra Bercerita, Wastra Nusantara Warisan untuk Masa Depan.

Tema pola hidup sendiri dimaknai secara luas. Pola tidak hanya berarti motif atau ragam hias, melainkan mencakup warna, komposisi, dan tekstur yang merekam sistem kosmologi, religi, kepercayaan, serta tatanan sosial peradaban Indonesia,” katanya.

Mahakarya Ikonik

Dinasya menjelaskan, di antara puluhan koleksi yang dipamerkan, terdapat beberapa mahakarya ikonik yang mencuri perhatian pengunjung, antara lain: Kain Kulit Kayu (Bark Cloth) yakni kain purba yang diproduksi melalui proses spesifik seperti serat kayu dimasak, difermentasi, lalu dipukul-pukul menggunakan alat batu atau kayu hingga melebar membentuk lembaran tebal menyerupai kertas.

Pewarnaannya menggunakan pigmen alami dari tanah atau getah tanaman.

“Lalu ada juga Kain Terfo yakni Wastra khas Suku Sobey di Papua yang dibuat menggunakan alat tenun kayu yang sangat sederhana. Berbahan baku daun pohon nibun (pe’a atau kara), kain ini didominasi warna-warna berani seperti merah, putih, hitam, hingga kuning. Biasa digunakan sebagai pakaian upacara adat wanita atau selendang,” katanya.

Dimly lit museum exhibit with a large twisted tree sculpture surrounding a glowing yellow pool; visitors stand nearby to observe.
Kain tenun sakral warisan kebudayaan masyarakat Suku Sasak. Kain osap merupakan tenun sakral dalam tradisi dan sistem kepercayaan masyarakat Sasak untuk penghormatan terhadap leluhur serta ritual kematian. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Dinasya memaparkan, kain tenun sakral warisan kebudayaan masyarakat Suku Sasak dihadirkan di Museum Sonobudoyo Yogyakarta.

Kain osap merupakan tenun sakral dalam tradisi dan sistem kepercayaan masyarakat Sasak untuk penghormatan terhadap leluhur serta ritual kematian.

“Kain osap bukan sekadar pakaian, melainkan benda magis yang menjadi penanda transisi kehidupan manusia menuju alam baka dalam kepercayaan adat Sasak,” ujarnya.

Dinasya mengatakan, kain osap memiliki warna sebagai simbol kekuatan magis, seperti warna dasar putih yang dipadukan dengan warna merah dan biru.

“Warna putih melambangkan kesucian, keikhlasan dan kepasrahan atau husnul khotimah, sedangkan warna merah dan biru sering dikaitkan dengan kekuatan spiritual atau perlindungan,” katanya.

Batik Yogyakarta

Dinasya mengatakan pula, Yogyakarta menampilkan kain Motif Parang Rusak yang merupakan salah satu variasi dari kelompok motif parang. Termasuk dalam golongan motif geometris.

Parang Rusak tersusun atas ornamen parang yang dikenal sebagai lidah api dan mlinjon. Ornamen lidah api pada Parang Rusak dimaknai sebagai simbol kekuatan untuk menumpas musuh dan dikaitkan dengan sifat dewa api Batara Brahma dalam kosmologi Jawa.

Api dipahami sebagai unsur kehidupan yang juga merepresentasikan ambisi atau amarah dalam diri manusia, sehingga pengendalian diri menjadi nilai moral yang melekat dalam simbolisme motif ini.

Dim gallery or museum space with a large black-and-white patterned textile on the left wall and two people in white coats standing near a dark doorway on the right.
Kain motif Parang Rusak merupakan salah satu variasi dari kelompok motif Parang yang termasuk dalam golongan motif geometris. Parang Rusak tersusun atas ornamen parang yang dikenal sebagai lidah api dan mlinjon. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Sementara itu, mlinjon yang juga disebut blumbangan merujuk pada makna blumbang atau tempat air.

“Ornamen blumbangan dimaknai sebagai simbol air suci yang menopang kehidupan dan dikaitkan dengan sifat dewa laut yang melambangkan kelapangan hati serta keseimbangan batin. Konsep kekuasaan Jawa tradisional meyakini pengendalian amarah dan kelapangan hati merupakan kualitas moral yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin,” katanya.

Menurut Dinasya pula, selain kain batik parang, Yogyakarta memamerkan batik tambal yang merupakan salah satu motif cukup berbeda dengan motif batik lainnya.

Pasalnya batik tambal ini memiliki makna yang cukup mendalam terkait dengan kehidupan manusia sejak zaman dahulu hingga sekarang.

Motif dari batik tambal memiliki arti tambal yang artinya menambal atau memperbaiki hal-hal yang rusak. Dalam perjalanan hidupnya, manusia harus memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik lagi secara lahir maupun batin.

Patchwork quilt with geometric and floral triangle patches hangs on a dark gallery wall under a spotlight.
Batik tambal merupakan salah satu batik klasik yang berkembang di lingkungan keraton Yogyakarta sehingga dalam pembuatannya selalu dibubuhi doa dan harapan kepada Tuhan. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Batik tambal juga merupakan salah satu batik klasik yang berkembang di lingkungan keraton Yogyakarta sehingga dalam pembuatannya selalu dibubuhi doa dan harapan kepada Tuhan.

Selain itu, batik ini memiliki pola khas sehingga mudah dikenali, seperti batik tambal yang terdiri dari berbagai motif yang disusun ke dalam satu kain.

“Motif batik tambal memiliki keunikan tersendiri yaitu dipercaya mampu membantu kesembuhan orang yang sakit. Dengan cara menyelimuti orang sakit tersebut menggunakan kain batik bermotif tambal, konon kain ini dapat membuka jalan kesembuhan bagi yang sedang melakukan pengobatan,” katanya.

Salah satu pengunjung, Naura Ganisha, mengatakan,  Indonesia memiliki kekayaan kain yang sangat beragam.

Di Pulau Jawa contohnya, kain batik sudah sangat dikenal hingga mancanegara. Bahkan, diakui sebagai Intangible Cultural Heritage (Warisan Budaya Takbenda) oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) sejak 2009. 

Selain batik, tentunya masih banyak ragam kain yang perlu diperhatikan dan dilestarikan.

“Syukur-syukur kalau bisa mendapat hak paten sebagai milik negara kita,” harapnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar