Mabur.co – Seribu tahun silam, dataran Kewu atau yang kini dikenal sebagai wilayah Prambanan, dikenal sebagai ibu kota atau pusat peradaban besar di tanah Jawa.
Di wilayah yang sangat subur inilah puluhan bangunan candi megah dibangun oleh dua dinasti kerajaan besar Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra.
Dari sekian banyak candi tersebut, terdapat sebuah candi istimewa yang tak hanya memiliki arsitektur megah, namun juga menyimpan kisah cinta yang luar biasa.
Candi itu adalah Candi Plaosan yang berada di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Kompleks candi Buddha ini diyakini dibangun pada abad ke-9 oleh Raja Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya. Yakni sebagai persembahan untuk sang permaisuri tercinta, Pramodhawardhani, putri Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra.
Kisah keduanya yang kerap disebut sebagai salah satu kisah cinta paling romantis dalam sejarah Nusantara diabadikan dalam bangunan candi megah yang sangat indah ini.
Rakai Pikatan merupakan penganut Hindu, sedangkan Pramodhawardhani memeluk agama Buddha. Sehingga pernikahan keduanya menjadi simbol penyatuan dua dinasti besar yakni Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra.
Riset pustaka mabur.co, Selasa (30/6/2026), maka menurut penelitian Sahruni dan Muhammad Iqbal Birsyada dari Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta yang berjudul “Makna Akulturasi Hindu Buddha pada Arsitektur Candi Plaosan”, pembangunan Candi Plaosan diperkirakan berlangsung pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.
Pendapat tersebut mengacu pada kajian epigrafi J.G. de Casparis yang menafsirkan isi Prasasti Sri Kahulunan.
Dalam prasasti itu, Sri Kahulunan diyakini merupakan gelar Pramodhawardhani, putri Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra yang kemudian menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya.
Pernikahan dua tokoh kerajaan berbeda agama tersebut menjadi awal bersatunya dua wangsa besar di Jawa Tengah sekaligus melahirkan simbol toleransi yang masih dapat disaksikan hingga sekarang.
Hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Candi Prambanan, kompleks Candi Plaosan terbagi menjadi dua kawasan, yakni Plaosan Lor di bagian utara dan Plaosan Kidul di bagian selatan.
Perpaduan Arsitektur Hindu dan Buddha
Meski dikenal sebagai candi Buddha, arsitektur Candi Plaosan justru memperlihatkan perpaduan yang harmonis antara unsur Hindu dan Buddha.
Penelitian tersebut menjelaskan, ciri Hindu tampak pada bentuk candi-candi perwara yang menggunakan model ratha, sementara ciri Buddha terlihat dari stupa yang menghiasi bagian atap bangunan utama.
Perpaduan dua gaya arsitektur itu menjadi simbol penyatuan dua keyakinan yang hidup berdampingan.
Pamong Budaya Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Wiwing Wimbo Widyanti, dalam penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa unsur Buddha terlihat jelas pada bentuk stupa serta keberadaan arca dan ornamen yang memiliki kemiripan dengan Candi Borobudur.
Sementara itu, unsur Hindu tampak dari struktur bangunan yang menjulang tinggi serta bentuk candi perwara yang menyerupai kompleks percandian Hindu.
Tak hanya melalui bentuk bangunan, kisah cinta Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani juga diabadikan melalui relief-relief yang menghiasi candi Plaosan.
Berdasarkan penelitian Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah Tahun 2011, di ruang utama Candi Plaosan Lor terdapat 12 panel relief tokoh, terdiri atas empat panel di bilik utara dan delapan panel di bilik selatan.
Relief laki-laki dipercaya sebagai simbol penghormatan Pramodhawardhani kepada suaminya, sedangkan relief perempuan menggambarkan ungkapan kasih sayang Rakai Pikatan kepada sang permaisuri.
Di beberapa bagian candi juga ditemukan relief burung nuri. Dalam tradisi Hindu, burung nuri dikenal sebagai burung Dewa Kama atau dewa asmara. Burung yang selalu hidup berpasangan itu dianggap melambangkan kesetiaan dan cinta yang abadi.
Selain itu terdapat pula relief Kala Makara di pintu masuk candi yang dipercaya berfungsi sebagai penolak roh jahat sekaligus pengingat akan kehidupan dan kematian.
Kompleks Candi Plaosan juga dilengkapi arca Dwarapala sebagai penjaga kawasan suci, bangunan mandapa, arca Bodhisattwa, serta ratusan stupa dan candi pendamping yang semakin memperkuat nilai spiritual kompleks percandian tersebut.
Pernah Runtuh Akibat Bencana Alam
Dalam sejarahnya kompleks percandian ini pernah ditemukan dalam kondisi runtuh akibat bencana alam yang diduga terjadi pada abad ke-10, ketika letusan Gunung Merapi dan gempa bumi mengguncang wilayah Mataram Kuno.
Kerusakan kembali terjadi akibat gempa Yogyakarta tahun 2006 yang merobohkan sejumlah bagian bangunan.
Setelah itu dilakukan pemugaran secara bertahap dengan tetap mempertahankan keaslian bentuk, material, tata letak, hingga teknologi pembangunannya.
Batu-batu yang masih asli dipasang kembali, sementara bagian yang hilang hanya dilengkapi menggunakan material serupa sesuai kaidah konservasi cagar budaya.
Kini Candi Plaosan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah favorit di kawasan Prambanan. Selain memiliki desain arsitektur yang mempesona tak sedikit wisatawan berkunjung ke candi ini karena tertarik dengan kisah-kisah luar biasa di balik pembangunannya. ***

