Panas Landa Eropa, Pakar UGM: Berlangsung Beberapa Hari hingga Minggu

5 Min Read
Two women in summer clothes stand near a street sprinkler, misting around them on a hot day.
Dua wanita menyejukkan diri di bawah semprotan air saat cuaca panas terik, dengan suhu yang terus mendekati 40 derajat Celsius, di Wina, Austria. (Foto: Istimewa)

Mabur.co– Gelombang panas mematikan yang melanda Eropa hingga membuat rumah sakit kewalahan diperkirakan bergeser ke wilayah timur pada 26 Juni. Otoritas setempat memperingatkan cuaca ekstrem masih akan terus membawa dampak buruk di benua yang tidak terbiasa menghadapi suhu tinggi dalam waktu lama.

Sedikitnya 101 juta warga Eropa telah beberapa hari terpapar suhu di atas 35 derajat Celsius. Ratusan orang, termasuk anak-anak, diperkirakan meninggal dunia akibat gelombang panas tersebut. Sebagian korban dilaporkan tenggelam saat berusaha mendinginkan diri dari cuaca yang sangat terik.

Pakar Klimatologi dan Hidrometerorologi, Fakultas Geografi UGM, Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si menjelaskan, gelombang panas (heat wave) adalah periode suhu permukaan yang berkepanjangan dan berada jauh di atas kondisi normal yang biasanya terjadi di suatu wilayah.

Gelombang Panas Penyebab Utama Kematian

Gelombang panas dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu dan merupakan salah satu penyebab utama kematian yang berkaitan dengan cuaca, baik di negara maju maupun negara berkembang.

“Secara global, peningkatan frekuensi dan intensitas gelombang panas yang diamati sejak tahun 1950-an telah dikaitkan dengan perubahan iklim,” katanya via telepon, Rabu (1/7/2026).

Portrait of a woman wearing a gray hijab and black-rimmed glasses, looking at the camera with a slight smile.
Pakar Klimatologi dan Hidrometeorologi, Fakultas Geografi UGM, Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si. (Foto: Dok. Pribadi)

Emilya mengatakan, fenomena cuaca ini dapat ditandai dengan kelembapan udara yang rendah, yang dapat memperparah kondisi kekeringan, atau kelembapan udara yang tinggi, yang dapat meningkatkan dampak kesehatan akibat stres panas.

“Dampak tersebut meliputi kelelahan akibat panas (heat exhaustion), dehidrasi, dan sengatan panas (heat stroke),” katanya.

Emilya mengatakan pula, hingga saat ini belum ada definisi formal dan baku yang berlaku secara universal mengenai gelombang panas.

World Meteorological Organization (WMO) mendefinisikan gelombang panas sebagai periode lima hari berturut-turut atau lebih ketika suhu maksimum harian melebihi suhu maksimum rata-rata sebesar 5 °C (9 °F) atau lebih.

“Beberapa negara juga menetapkan standar masing-masing. Sebagai contoh, India Meteorological Department (IMD) menetapkan bahwa gelombang panas terjadi apabila suhu meningkat sebesar 5–6 °C (9–10,8 °F) atau lebih di atas suhu normal. Sementara itu, U.S. National Weather Service (NWS) mendefinisikan gelombang panas sebagai periode cuaca yang ‘sangat panas dan tidak nyaman disertai kelembapan yang luar biasa tinggi’ yang berlangsung selama dua hari atau lebih,” tuturnya.

Emilya menuturkan, di wilayah lintang menengah, gelombang panas disebabkan oleh massa udara hangat yang berasosiasi dengan sistem antisiklon.

Sistem bertekanan tinggi ini menciptakan efek kubah (heat dome) pada massa udara hangat di bawahnya dengan menghambat terjadinya ketidakstabilan atmosfer, yaitu kondisi yang ditandai oleh gerakan udara ke atas, pembentukan awan, dan presipitasi, pada wilayah yang luas.

“Di dalam kubah panas, sering terjadi gerakan udara turun (subsidence) karena udara di lapisan atas lebih rapat dibandingkan udara di bawahnya. Penurunan massa udara ini menyebabkan pemanasan lebih lanjut, karena udara dari lapisan atas menekan dan memampatkan udara di dekat permukaan sesuai dengan prinsip Hukum Gas Ideal (Ideal Gas Law). Akibatnya, suhu udara di permukaan meningkat,” katanya.

Emilya mengatakan lagi, karena pergerakan udara di dekat permukaan sangat terbatas, kondisi panas dapat bertahan selama beberapa hari.

Keadaan ini terutama terjadi apabila pusat tekanan tinggi di lapisan atas atmosfer bersifat stagnan atau tidak banyak bergerak.

“Fenomena tersebut sering disebut sebagai antisiklon penghalang (blocking anticyclone) atau tekanan tinggi penghalang (blocking high), karena mampu menghambat pergerakan sistem cuaca lain sehingga mempertahankan kondisi panas dalam waktu yang lama,” ucapnya.

Emilya mengatakan, kejadian heat wave merupakan peristiwa cuaca yang rentang waktunya beberapa hari di wilayah lintang menengah hingga tinggi.

Beberapa wilayah yang berpotensi adalah Eropa, Asia Tengah, Asia Timur Tengah. Biasanya di musim panas, Juni-Juli-Agustus merupakan musim panas di wilayah lintang menengah dan tinggi, sehingga potensi untuk kejaadian heat wave.

“Ada pun di Indonesia akan mengalami suhu yang lebih tinggi saat matahari berada di atas wilayah ekuator sekitar bulan Maret-April di wilayah Indonesia belahan bumi utara. Sekitar bulan Oktober untuk wilayah Indonesia belahan bumi selatan. Dikenal dengan nama Equinok. Kejadian heat wave akan berulang, ditengarai sebagai dampak dari perubahan iklim,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar