Mabur.co – Jejak pelayaran Laksamana Cheng Ho yang telah menghubungkan Nusantara dan Tiongkok lebih dari enam abad lalu kembali dihidupkan lewat peluncuran program pertukaran budaya bertajuk Perjalanan Cheng Ho: Utusan Persahabatan Global.
Program yang berlangsung selama dua hari di Jakarta tersebut mempertemukan lebih dari 160 perwakilan dari kalangan pemerintah, dunia usaha, akademisi, budayawan, hingga komunitas Tionghoa perantauan, yang beradal dari Indonesia dan Cina.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan diplomatik kedua negara melalui jalur budaya sekaligus menghormati warisan sejarah Laksamana Cheng Ho yang dikenal sebagai simbol perdamaian dan persahabatan antarbangsa.
Berbagai agenda rencananya akan digelar dalam rangkaian kegiatan ini, mulai dari penyerahan model kapal Cheng Ho, bazar budaya, pameran poster kreatif, seminar, hingga upacara persahabatan yang mempertemukan generasi muda Indonesia dan Cina.
Hubungan Diplomatik Indonesia dan Cina 76 Tahun
Konselor Bidang Pendidikan, Kedutaan Besar Cina di Indonesia, Chen Wu, mengatakan hubungan diplomatik Indonesia dan Cina yang telah berlangsung selama 76 tahun, diharapkan dapat terus berkembang secara positif melalui lima pilar kerja sama, yakni politik, ekonomi, pertukaran budaya dan masyarakat, urusan maritim, serta keamanan.
Melalui kegiatan ini Chen pun berharap semangat pelayaran Cheng Ho dapat terus diwariskan kepada generasi sekarang sebagai simbol perdamaian dan kerja sama internasional.
“Kami berharap kedua belah pihak dapat mengambil hikmah dari pelayaran bersejarah Cheng Ho dan menjadi pewaris semangat perdamaian, pendorong kerja sama praktis, serta pembina persahabatan yang langgeng,” ujarnya sebagaimana dilansir Antara, Rabu (1/7/2026).
Sementara itu, Wakil Direktur Kantor Peradaban Spiritual, Komite Provinsi Yunnan, Partai Komunis Cina, Wen Liao, mengatakan Provinsi Yunnan yang dikenal sebagai kampung halaman Cheng Ho telah lama memiliki hubungan erat dengan Indonesia.
Hubungan tersebut kini tidak hanya terbatas pada perdagangan dan kebudayaan, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas di berbagai sektor, mulai dari pertanian modern, biomedis, energi bersih, pendidikan hingga konservasi ekologi.
Menurutnya, semangat Cheng Ho menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan kedua negara di era modern.
“Kami berharap kedua belah pihak terus mewariskan semangat Cheng Ho dan menulis babak baru persahabatan di era baru,” ungkapnya.
Banyak Jejak Cheng Ho di Indonesia
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan, Kementerian Pariwisata RI, Vinsensius Jemadu, mengatakan, hingga saat ini jejak sejarah Cheng Ho masih dapat ditemukan di berbagai wilayah Indonesia.
Salah satu yang paling dikenal adalah kawasan Klenteng Sam Poo Kong di Semarang, yang menjadi simbol kuat hubungan sejarah Indonesia dan Cina sekaligus destinasi wisata budaya.
Menurutnya, berbagai situs peninggalan tersebut merupakan aset penting yang dapat terus dilestarikan dan dikembangkan.
“Cheng Ho meninggalkan banyak situs bersejarah dan warisan budaya di seluruh kepulauan Indonesia, termasuk yang ada di Semarang, yang kini menjadi aset budaya dan pariwisata berharga,” katanya.
Ia berharap pengembangan destinasi wisata bertema Rute Cheng Ho dapat memperkuat hubungan antarmasyarakat sekaligus meningkatkan kerja sama kedua negara di sektor pariwisata.
“Kami berharap merek-merek pariwisata seperti ‘Rute Cheng Ho’ dapat semakin mendorong pertukaran antar-masyarakat guna meningkatkan kerja sama bilateral di bidang pariwisata dan pertukaran budaya ke jenjang yang lebih tinggi,” imbuhnya.
Dalam kegiatan ini, Pemerintah Provinsi Yunnan sendiri menyerahkan sebuah replika kapal Cheng Ho berukuran 71 cm dan tinggi 60 cm kepada Yayasan Sam Poo Kong di Semarang.
Kapal replika yang dibuat oleh Fu Kunxiang dan Wang Li merupakan dua pewaris warisan budaya takbenda pembuatan model kapal tradisional di Kunming. Replika kapal ini dibuat berdasarkan desain armada Dinasti Ming yang digunakan Cheng Ho dalam pelayarannya pada abad ke-15.
Keunikan kapal ini adalah bentuk lambungnya yang memiliki ciri khas Fujian yakni dengan sembilan sekat kedap air serta struktur lunas kapal, menggambarkan kemegahan armada Cheng Ho yang pernah mengarungi Samudra Hindia hingga Nusantara. ***

