Mabur.co – Sejumlah warga masyarakat antusias menyaksikan prosesi Jamasan Pusaka Agung yang digelar Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.
Bertempat di kawasan Alun-alun Wates Kulon Progo, tradisi tersebut rutin dilaksanakan setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa.
Selain menjadi tontonan menarik bagi warga, tradisi ini juga menjadi simbol introspeksi diri sekaligus penghormatan terhadap nilai sejarah dan budaya di Kulon Progo.
Prosesi jamasan sendiri diawali dengan Kirab Pusaka Agung dari kompleks Pemerintah Kabupaten Kulon Progo menuju Alun-alun Wates.
Pusaka Diarak
Sejumlah pusaka nampak diarak dengan dikawal iring-iringan pasukan Bregodo serta sejumlah pegawai di lingkungan Pemkab Kulon Progo yang memakai pakaian tradisional Jawa.
Pusaka utama yang menjalani ritual jamasan adalah dua tombak, yakni Kanjeng Kyai Bantar Angin dan Kanjeng Kyai Amiluhur. Kedua tombak tersebut merupakan lambang kehormatan bagi Kabupaten Kulon Progo.
Kanjeng Kyai Amiluhur merupakan anugerah dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, sedangkan Kanjeng Kyai Bantar Angin merupakan anugerah dari Kadipaten Pakualaman.
Selain dua pusaka utama itu, sejumlah pusaka lainnya yang juga turut dijamas adalah pusaka yang berasal dari 12 kapanewon di Kulon Progo.

Setelah kirab selesai dilakukan, prosesi jamasan pun langsung dimulai di depan kompleks Rumah Dinas Bupati Kulon Progo.
Prosesi jamasan dilakukan menyiram pusaka dengan air kembang setaman, lalu diolesi minyak cendana.
Dalam tradisi Jawa, jamasan tidak hanya sekadar membersihkan dan merawat pusaka. Namun juga simbol membersihkan diri, hati, dan pikiran, sekaligus bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.
Kentongan Raksasa
Berbeda dengan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, dalam prosesi jamasan kali ini terdapat satu benda pusaka tambahan yang turut dijamas. Yakni sebuah kentongan raksasa berukuran sekitar 3 meter.
Kentongan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya di Kulon Progo ini nampak turut dibersihkan dalam ritual prosesi adat jamasan tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Kulon Progo, Joko Mursito, menjelaskan, kentongan itu sendiri merupakan kentongan bersejarah yang diperkirakan dibuat sebelum tahun 1951.
“Kentongan ini adalah kentongan yang dulu berada di Kabupaten Kulon Progo. Ini kentongan yang bersejarah dan terbesar, yang konon kabarnya kalau dipukul di pusat kota kabupaten itu suaranya terdengar sampai seluruh pelosok Kulon Progo. Cerita legenda ini sudah membaur di masyarakat,” ungkap Joko kepada mabur.co, Sabtu (11/7/2026).
Saat ini kentongan itu sendiri menjadi salah satu koleksi benda bersejarah yang disimpan di rintisan museum eks Pengepul Nila Bulurejo.
Selain untuk menjaga kondisi fisik benda pusaka, ritual jamasan pusaka ini juga dilakukan untuk melestarikan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Sehingga semakin dikenal kalangan generasi muda.
“Disamping itu ke depan kita juga ingin bagaimana agar tradisi ini bisa kita kemas menjadi sesuatu yang memiliki daya jual atau daya tarik. Sehingga, selain sebagai peristiwa budaya, agenda ini juga menjadi bagian dari atraksi wisata budaya unggulan di Kulon Progo,” ujarnya. ***

