Mabur.co – Kawasan mangrove di muara Sungai Progo, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulon Progo, menyimpan potensi besar sebagai destinasi ekowisata sekaligus benteng alami menghadapi ancaman bencana pesisir.
Potensi itu coba didorong dan dimaksimalkan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui program pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan dosen lintas fakultas bersama warga setempat.
Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026 tersebut tidak hanya berfokus pada pengembangan wisata, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam konservasi mangrove dan mitigasi bencana.
Ketua Tim Pengabdian UNY, Kuntum Febriyantiningrum, menjelaskan bahwa Banaran dipilih karena memiliki karakter wilayah yang unik.
Potensi Ekosistem Mangrove
Selain berada di kawasan pesisir yang rentan terhadap bencana, wilayah ini juga memiliki ekosistem mangrove yang masih berkembang dan berpotensi menjadi daya tarik wisata berbasis edukasi.
“Muara Sungai Progo memiliki ekosistem mangrove yang berperan penting sebagai pelindung alami kawasan pesisir. Potensi ini sangat layak dikembangkan menjadi ekowisata sekaligus sarana edukasi mitigasi bencana,” ujarnya, Senin (13/7/2026).
Dalam program tersebut, tim dosen dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Pertanian, dan Fakultas Teknik UNY memberikan pelatihan serta pendampingan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Banaran, Kelompok Tani Hutan Tirto Manunggal, serta para pemuda Dusun Bleberan.
Pendampingan meliputi penyusunan konsep pengelolaan ekowisata, penguatan kelembagaan, hingga edukasi mengenai konservasi mangrove sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko bencana di wilayah pesisir.
“Kami berharap masyarakat mampu mengelola potensi wisata secara mandiri. Konservasi mangrove bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mitigasi bencana sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga,” kata Kuntum.
Sementara itu, dosen Fakultas Teknik UNY, Galih Nur Indriatno Putra Pratama, menilai kawasan Banaran memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai destinasi ekowisata unggulan di Kulon Progo.
Menurutnya, pengembangan kawasan harus dilakukan melalui perencanaan yang matang agar tetap memperhatikan aspek keselamatan dan keberlanjutan lingkungan.
Ia menjelaskan, konsep yang disiapkan mencakup penyusunan masterplan kawasan, pemetaan potensi wisata, hingga penataan zona-zona yang aman dari ancaman banjir rob maupun kenaikan muka air laut.
Selain wisata mangrove, kawasan tersebut dinilai memiliki banyak potensi lain yang dapat dikembangkan, seperti wisata susur sungai, pembibitan mangrove, edukasi konservasi pesisir, hingga wisata pengamatan satwa, termasuk kepiting yang banyak ditemukan di kawasan mangrove.
“Kami ingin potensi-potensi yang selama ini belum tergarap bisa dikembangkan menjadi paket wisata yang menarik. Tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memberikan edukasi kepada pengunjung mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir,” ujarnya.
Perbaikan Infrastruktur
Menurut Galih, salah satu pekerjaan rumah yang masih harus dibenahi adalah akses menuju kawasan wisata. Perbaikan infrastruktur menjadi faktor penting agar pengembangan ekowisata dapat berjalan optimal dan menarik lebih banyak wisatawan.
Selain itu, kawasan juga memerlukan penataan lingkungan, termasuk pengendalian gulma seperti eceng gondok yang mulai memenuhi sejumlah titik perairan. Penataan tersebut akan dibarengi dengan penanaman mangrove di lokasi-lokasi yang telah dipetakan bersama masyarakat.
Di sisi lain, antusiasme masyarakat terhadap program pendampingan ini cukup tinggi.
Tahap Perintisan
Wakil Ketua Pokdarwis Banaran, Wakil Ketua Kelompok Tani Hutan Tirto Manunggal Bleberan, sekaligus pengurus Pokdarwis Banaran, Surono, mengatakan, pelatihan seperti ini sangat dibutuhkan karena pengelolaan kawasan wisata mangrove masih berada pada tahap perintisan.
Menurutnya, selain pembangunan sarana fisik, peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi kebutuhan utama agar masyarakat mampu mengelola sekaligus memasarkan destinasi wisata secara mandiri.
“Kami masih merintis, sehingga hampir semua hal masih dibutuhkan. Tidak hanya pembangunan fasilitas, tetapi juga pelatihan pengelolaan wisata, promosi digital, hingga pemasaran melalui media sosial,” katanya.
Surono berharap, ke depan semakin banyak kolaborasi dengan perguruan tinggi maupun pemerintah untuk mendukung pengembangan kawasan.
Bantuan berupa perahu kecil untuk perawatan mangrove, jalur susur mangrove, hingga pelatihan mengolah hasil mangrove dan eceng gondok, menjadi produk bernilai ekonomi yang dinilai akan semakin memperkuat keberlanjutan ekowisata Banaran. ***

