Mabur.co– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, mulai menyiapkan langkah mitigasi menghadapi potensi kemarau panjang yang diprediksi berlangsung lebih panjang dan lebih kering di tahun 2026.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, A.P. M.Si, menjelaskan, dalam mengantisipasi musim kemarau, BPBD Kabupaten Sleman ada dua langkah.
Yakni, pertama akan mengundang teman-teman dari kapanewon yang dulu terdampak cuaca ekstrem pada tahun 2023 karena hampir sama dengan tahun 2026. Ada musim kemarau tetapi ada juga El nino. Khususnya selain yang ada di Kecamatan Turi, Gamping, Godean, Moyudan, Minggir, Seyegan, dan Pakem. Yang diundang, akan diskusi bersama, guna antisipasi sejak dini.
Kedua, ada mitigasi struktural dan non-struktural. Untuk mitigasi struktural yakni upaya pengurangan risiko bencana alam yang berfokus pada pembangunan prasarana fisik dan rekayasa teknologi untuk meminimalkan dampak kerusakan.
“Pendekatan ini bertujuan memperkuat struktur bangunan dan lingkungan agar lebih tahan terhadap ancaman bencana. Untuk mitigasi non-struktural adalah upaya pengurangan risiko bencana melalui pendekatan non-fisik, seperti pembuatan kebijakan, regulasi tata ruang, edukasi masyarakat, dan pelatihan penanggulangan bencana. Fokus utamanya adalah mengatur perilaku manusia dan meningkatkan kesadaran untuk menghindari risiko yang merusak,” katanya, saat diwawancarai via telepon, Selasa (7/7/2026).

Bambang mengatakan, BPBD Sleman meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kekeringan Sleman 2026.
Pakem, Tempel, dan Minggir menjadi tiga kapanewon yang paling sering menerima distribusi air bersih dalam empat tahun terakhir sehingga masuk prioritas pemantauan.
Data distribusi air bersih sepanjang 2022–2025 menunjukkan ketiga wilayah tersebut berulang kali mengalami kesulitan memperoleh pasokan air saat musim kemarau.
Langkah Antisipasi Krisis Air Bersih
“Riwayat tersebut menjadi dasar BPBD Sleman menyusun langkah antisipasi apabila krisis air bersih kembali terjadi pada musim kemarau tahun ini,” katanya.
Bambang mengatakan, Kapanewon Pakem, Tempel, dan Minggir menjadi wilayah dengan volume distribusi air bersih terbesar selama periode 2022–2025.
Pada 2023, Kapanewon Tempel menerima lebih dari 1 juta liter air bersih, disusul Minggir sebanyak 1.071.600 liter dan Pakem sekitar 953.000 liter yang didistribusikan ke sejumlah kalurahan.
BPBD Sleman tetap mewaspadai potensi kekeringan Sleman 2026 meskipun distribusi air bersih pada tahun lalu menurun.
Pengalaman penanganan kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya menjadi acuan untuk memantau wilayah yang berulang kali mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
“BPBD Sleman juga terus melakukan pemantauan kondisi di lapangan. Bantuan air bersih akan segera disalurkan apabila terdapat laporan maupun permohonan dari pemerintah kalurahan atau kapanewon yang terdampak krisis air bersih,” katanya.
Bambang mengatakan, akan mengedukasi kepada masyarakat untuk dampak dari kemarau yang banyak terjadi kebakaran hutan dan lahan di permukiman.
“Kita sudah sampaikan kepada masyarakat melalui pemangku wilayah untuk tidak membakar sampah sembarangan. Kalaupun terpaksa membakar sampah harus ditunggui karena angin kering bisa menyebar dan bisa mengakibatkan kebakaran.
Beberapa waktu lalu di Gamping ada dua kebakaran yakni kebakaran kandang babi dan kandang kambing, penyebabnya karena masyarakat membakar sampah ditinggal dan merambat ke kandang. Kemudian 2 minggu yang lalu karena mati listrik, pemadaman listrik bergilir, masyarakat menyalakan lilin ditinggal pergi, lilinnya ke mana-mana dan membakar rumah. Untuk wilayah atas, kita punya potensi adanya kebakaran hutan dan lahan.
Teman-teman Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), selalu berpatroli wilayah untuk mengamankan wilayahnya. Bila ada titik-titik api yang mungkin akan memicu kebakaran hutan dan lahan. Teman-teman Damkar juga selalu ready terkait dengan kebakaran di wilayah Sleman,” ucapnya.
Sementara itu, Kasi Pelayanan PDAM Sleman, Sri Wahyuni, S.E, mengatakan, memasuki musim kemarau, PDAM Tirta Sembada melakukan pemetaan wilayah rawan penurunan tekanan dan gangguan pasokan.
“Pemetaan wilayah rawan gangguan pasokan berdasarkan beberapa indikator utama, antara lain jarak dari sumber air, elevasi wilayah, kepadatan pelanggan, serta karakteristik jaringan distribusi,” ujarnya.
Wilayah Paling Rentan
Yuni, mengatakan, wilayah yang diperkirakan paling rentan mengalami penurunan tekanan pada musim kemarau tahun 2026 meliputi wilayah Sleman Barat seperti Kapanewon Godean, Moyudan, dan Seyegan karena relatif jauh dari sebagian sumber air utama serta jaringan distribusi yang masih terus dikembangkan.
“Wilayah dengan elevasi lebih tinggi di bagian utara Sleman seperti Pakem, Turi, dan Cangkringan, yang memerlukan tekanan distribusi lebih besar. Dalam praktik operasional, wilayah yang berada pada posisi ‘ujung pipa’ menjadi prioritas pemantauan tekanan selama musim kemarau,” terangnya.
Yuni menjelaskan, selain itu, prediksi BMKG mengenai potensi kemarau yang lebih panjang dan lebih kering pada tahun 2026 menjadi dasar penting bagi PDAM Sleman dalam penyusunan langkah antisipasi distribusi air.
“Secara umum, kondisi cadangan air tanah di Kabupaten Sleman masih relatif baik karena berada di kawasan lereng Merapi yang memiliki akuifer vulkanik produktif,” katanya.
Yuni mengatakan, terdapat beberapa tren yang mulai menjadi perhatian, antara lain penurunan muka air tanah di kawasan urban, lalu meningkatnya kompetisi penggunaan air tanah dengan sumur bor swasta.
Terkait penurunan debit produksi pada puncak musim kemarau, PDAM Sleman sampai saat ini belum terdapat laporan publik yang menunjukkan terjadinya krisis signifikan pada seluruh sumur milik PDAM Sleman.
“Akan tetapi, secara teknis mulai terindikasi adanya/peningkatan drawdown atau penurunan muka air saat pompa beroperasi, kenaikan konsumsi energi pompa, dan kebutuhan recovery time sumur yang lebih lama pada beberapa titik,” katanya.
Yuni menuturkan, wilayah urban seperti Depok dan Ngaglik dinilai lebih rentan terhadap tekanan akuifer akibat pertumbuhan hotel, apartemen, kawasan pendidikan, dan permukiman.
“Untuk menjaga stabilitas layanan pada wilayah ujung jaringan distribusi, PDAM Sleman menyiapkan beberapa langkah teknis, antara lain pemasangan booster pump, pembangunan reservoir zonasi, pengaturan distribusi berdasarkan pola konsumsi pelanggan. Selain itu, dilakukan pula langkah operasional seperti flushing jaringan, pengurangan tingkat kebocoran, dan pengaturan valve distribusi ketika debit produksi menurun,” bebernya.
Yuni menjelaskan, khusus wilayah Sleman barat, optimalisasi suplai dari sistem regional dipandang lebih efektif dibandingkan eksploitasi sumur baru secara terus-menerus.
Namun secara umum, pasokan air curah melalui SPAM Regional Kartamantul masih berfungsi sebagai sumber pelengkap dan belum menjadi sumber dominan.
“PDAM Sleman telah menyiagakan armada tangki air untuk membantu pelanggan yang mengalami gangguan distribusi selama musim kemarau. Prioritas bantuan biasanya diberikan kepada wilayah tekanan rendah, daerah ujung jaringan, fasilitas umum, dan kawasan padat penduduk,” katanya.

