Hari Penjaga Hutan Sedunia, Jaga Alam dari Kerusakan

4 Min Read
Hari Penjaga Hutan Sedunia dirayakan di seluruh dunia pada tanggal 31 Juli untuk memperingati para penjaga hutan yang gugur atau terluka saat menjalankan tugas dan untuk merayakan pekerjaan yang dilakukan para penjaga hutan dalam melindungi kekayaan alam. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co – Hari Penjaga Hutan Sedunia dirayakan di seluruh dunia pada 31 Juli untuk memperingati para penjaga hutan yang gugur atau terluka saat menjalankan tugas dan untuk merayakan pekerjaan yang dilakukan para penjaga hutan dalam melindungi kekayaan alam dan warisan budaya planet ini.

Peringatan ini sebagai bentuk penghormatan kepada para penjaga hutan (ranger) yang gugur atau terluka saat menjalankan tugas, sekaligus sebagai apresiasi atas dedikasi mereka dalam melindungi hutan, satwa liar, kawasan konservasi, dan warisan alam maupun budaya dunia.

Melalui Hari Penjaga Hutan Sedunia, masyarakat diajak meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran penjaga hutan sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sejarah Hari Penjaga Hutan Sedunia bermula dari gagasan International Ranger Federation (IRF) dan The Thin Green Line Foundation.

Peringatan ini pertama kali diselenggarakan pada 2007, bertepatan dengan 15 tahun berdirinya IRF, organisasi internasional yang didirikan pada 31 Juli 1992 di Peak District National Park, Inggris.

Tanggal 31 Juli kemudian dipilih sebagai hari peringatan tahunan untuk mengenang sejarah berdirinya organisasi tersebut sekaligus menghormati para ranger di seluruh dunia.

Tanggung Jawab yang Berat

Di berbagai negara, penjaga hutan memiliki tanggung jawab yang sangat luas, mulai dari melindungi keanekaragaman hayati, mencegah perburuan liar dan pembalakan ilegal, memantau kawasan konservasi, mengelola kebakaran hutan, memberikan edukasi kepada masyarakat, hingga mendukung penelitian dan pariwisata berkelanjutan.

Dalam menjalankan tugasnya, mereka kerap menghadapi risiko tinggi, seperti konflik dengan pelaku kejahatan lingkungan, satwa liar, hingga kondisi alam yang ekstrem.

Melalui Hari Penjaga Hutan Sedunia, masyarakat internasional diajak untuk memberikan penghargaan atas pengorbanan para ranger sekaligus mendukung peningkatan keselamatan, kesejahteraan, serta kapasitas mereka.

Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan upaya konservasi alam sangat bergantung pada kerja keras para penjaga hutan yang setiap hari berada di garis depan melindungi bumi untuk generasi sekarang dan mendatang.

Ketua Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMN), Altingia Arie, menilai bahwa masyarakat adat dan komunitas yang hidup di sekitar hutan merupakan garda terdepan dalam menjaga kelestarian alam. Namun ironisnya, mereka justru kerap menjadi pihak yang paling rentan kehilangan ruang hidupnya.

“Banyak komunitas adat menjaga hutan bukan karena ada proyek, penghargaan, atau insentif. Mereka menjaganya karena hutan adalah rumah, sumber kehidupan, sekaligus bagian dari identitas mereka. Ketika hutan rusak, yang pertama merasakan dampaknya adalah mereka,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).

Masyarakat Adat Mitra Penjaga Ekologi

Menurutnya, pembangunan tidak semestinya menempatkan masyarakat adat sebagai hambatan, melainkan sebagai mitra yang memiliki pengetahuan ekologis yang telah teruji selama ratusan tahun.

“Kita sering berbicara tentang konservasi dengan bahasa yang sangat modern. Padahal, jauh sebelum istilah konservasi dikenal, banyak komunitas adat sudah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menjaga, bukan karena diwajibkan, tetapi karena memahami bahwa alam yang rusak berarti masa depan yang hilang,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan AMN, Aidil Sihombing, menilai bahwa perlindungan terhadap hutan harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap masyarakat yang telah menjaganya.

“Kadang kita lebih cepat memberi status kawasan daripada memastikan mereka yang hidup di dalam dan di sekitarnya mendapatkan pengakuan serta perlindungan. Padahal, menjaga hutan tidak cukup dengan papan larangan atau patroli. Hutan akan tetap lestari jika masyarakat yang menjadi penjaganya juga merasa dihargai,” katanya.

Aidil menambahkan bahwa generasi muda perlu melihat masyarakat adat sebagai sumber pembelajaran, bukan sekadar objek pembangunan.

“Mungkin sudah saatnya kita lebih banyak belajar kepada mereka. Sebab, di saat banyak orang masih sibuk mencari cara menjaga hutan, ada komunitas yang sudah melakukannya secara konsisten selama bergenerasi,” katanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar