Dinas Kebudayaan Sleman Ajak Komunitas Sejarah Telusuri Kawasan Cagar Budaya Kaliurang

5 Min Read
Small public building with yellow-framed windows and a tiled red roof; several people in peach uniforms stand nearby on a sunny day.
Sejumlah peserta saat mengikuti kegiatan internalisasi nilai-nilai sejarah yang digelar Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman di kawasan cagar budaya Kaliurang. (Foto: JH Kusmargana)

Sleman – Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman mengajak sejumlah komunitas sejarah untuk menelusuri bangunan bersejarah di Kawasan Cagar Budaya Kaliurang, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan bertajuk “Menelusuri Kawasan Cagar Budaya Kaliurang: Jejak Pariwisata Kolonial dan Warisan Arsitektur” itu menjadi bagian dari program Internalisasi Nilai-Nilai Sejarah bagi Komunitas yang digagas Disbud Sleman.

Dalam kegiatan ini peserta diajak untuk mengunjungi sejumlah bangunan yang memiliki keterkaitan dengan perkembangan Kaliurang sebagai kawasan peristirahatan serta peristiwa bersejarah Komisi Tiga Negara (KTN).

Sebagaimana diketahui KTN sendiri merupakan sebuah upaya perundingan yang dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB pada 26 Agustus 1947 untuk menengahi konflik antara Indonesia dan Belanda.

Lokasi Cagar Budaya

Kelima lokasi yang menjadi tujuan kunjungan tersebut antara lain adalah Wisma Gadjah Mada, Wisma Merapi Indah, Pesanggrahan Hargopeni, Hotel Vogels, hingga Wisma Kaliurang.

Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman, Dinas Kebudayaan Sleman, Joko Dwi Haryadi, didampingi Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Sleman, Mei Hartini mengatakan, kegiatan ini dibuat untuk mengenalkan potensi sejarah Sleman secara langsung kepada komunitas.

Tour group in matching peach shirts listens to a guide near a historical site with a signboard and small tiled-roof buildings.
Peserta aktif mengamati situs yang menjadi bagian dari kegiatan internalisasi nilai-nilai sejarah yang digelar Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman di kawasan cagar budaya Kaliurang. (Foto: JH Kusmargana)

“Kegiatan ini itu kegiatan internalisasi nilai-nilai sejarah. Jadi kita mencoba untuk mendekatkan diri kepada komunitas untuk mengajak komunitas itu mengenal potensi sejarah yang ada di Kabupaten Sleman,” katanya 

Di sejumlah lokasi inilah, peserta diajak untuk mempelajari sejarah perkembangan bangunan-bangunan kuno cagar budaya di Kaliurang. Mulai dari pemanfaatannya sebagai vila atau rumah peristirahatan orang-orang Belanda dan Eropa maupun bangsawan keraton. 

Hingga jejak pemanfaatan vila-vila tersebut sebagai tempat berlangsungnya KTN yang menjadi salah satu tonggak sejarah diplomasi di Indonesia.

Kunjungan ke Museum Ullen Sentalu

Setelah menyusuri kawasan Kaliurang, peserta melanjutkan kegiatan ke Museum Ullen Sentalu. Di museum ini peserta diajak untuk mengenali sejarah Mataram Islam, baik itu terkait Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Kadipaten Pakualaman, maupun Kadipaten Mangkunegaran.

Materi juga membahas perkembangan seni, sastra dan tradisi Jawa serta hubungan keluarga kerajaan dengan perkembangan Kaliurang sebagai tempat peristirahatan dan rekreasi.

Mei mengatakan, selain mengajak berbagai komunitas sejarah, kegiatan kali ini juga melibatkan para pendidik atau guru yang tergabung dalam MGMP IPS dan forum guru sejarah di Kabupaten Sleman. 

Harapannya, pengetahuan yang diperoleh peserta salama kegiatan ini dapat diteruskan kepada siswa di sekolah masing-masing.

Dengan begitu para siswa akan bisa lebih mengenal sejarah kawasan cagar budaya Kaliurang. Tidak hanya dengan mempelajarinya melalui buku-buku sejarah saja, namun juga lewat pengalaman secara langsung.

Group of people in pink shirts gathered around a TV in a wood-paneled room with large windows and orange curtains.
Pengenalan lapangan melihat secara langsung objek kajian. Bagian dari kegiatan internalisasi nilai-nilai sejarah yang digelar Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman di kawasan cagar budaya Kaliurang. (Foto: JH Kusmargana)

“Kita berharap para peserta yang mayoritas merupakan warga Sleman ini menjadi lebih tahu sejarah dari yang ada di Kabupaten Sleman. Dengan berkunjung langsung mereka jadi bisa mempelajari sejarah dengan lebih mengena,” ujarnya. 

Sementara itu salah seorang peserta, yang merupakan Ketua MGMP Sejarah Kabupaten Sleman, Eko Puji Raharjo, mengaku antusias mengikuti kegiatan ini.

Guru Memperoleh Informasi Lengkap

Ia mengatakan kunjungan langsung ke lokasi bersejarah semacam ini akan memberikan informasi yang lebih lengkap bagi para guru.

“Kami selaku guru sejarah bisa mendapatkan informasi secara langsung tentang tempat-tempat bersejarah terutama di Kabupaten Sleman. Ketika kami kembali ke sekolah nanti bisa menyampaikan ke siswa-siswa tentang fakta-fakta sejarah yang mungkin dilupakan atau mungkin jarang siswa itu tahu. Padahal di Sleman sendiri kaya akan peninggalan sejarah,” katanya.

Menurut Eko, Kaliurang selama ini lebih banyak dikenal siswa sebagai kawasan wisata. Padahal, kawasan ini sebenarnya menyimpan banyak cerita sejarah yang menarik untuk diketahui. 

“Kalau siswa sendiri secara umum mengenal, cuma secara lebih mendalam mungkin mereka belum tahu. Di Kaliurang ini mungkin lebih mereka tahu tempat wisatanya. Tapi sejarahnya sendiri mungkin belum paham padahal ada cerita yang menarik di sini,” ujarnya.

Dinas Kebudayaan Sleman sendiri rutin menyelenggarakan kegiatan program internalisasi nilai-nilai sejarah setiap tahunnya.

Ke depan kegiatan serupa juga akan kembali digelar dengan melibatkan siswa sekolah agar mereka dapat lebih mengenal sejarah daerah melalui kunjungan langsung ke situs dan bangunan bersejarah di Kabupaten Sleman. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar