‘Sense of Crisis’, Hilangnya Kepekaan Pemimpin Membaca Ancaman Zaman

1 Min Read
Cartoon of a Trump look-alike sitting on a large brown wrecking ball, swinging toward a globe hanging by a chain, implying a threat to the world.
Sense of crisis adalah kepekaan kolektif para pemimpin untuk membaca ancaman secara dini, merasakan dampaknya bagi warga. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co – Dunia sedang tidak baik-baik saja. Apalagi setelah Presiden Donald Trump dilantik untuk kedua kalinya, memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di Amerika Serikat (AS). Geopolitik dan geoekonomi semakin dihadapkan pada ketidakpastian.

Pakar Kebijakan Publik dan Organisasi Pemerintahan, Prof. Dr. Ulung Pribadi, M.Si, menuturkan, sense of crisis adalah kepekaan kolektif para pemimpin untuk membaca ancaman secara dini. Merasakan dampaknya bagi warga, lalu bertindak cepat, terkoordinasi, dan bertanggung jawab.

Kelemahan di Kalangan Elit

Kelemahan sense of crisis di kalangan elit muncul karena struktur pemerintahan sering menyaring kabar buruk, sementara para pengambil keputusan terlalu jauh dari pengalaman sehari-hari masyarakat.

“Padahal, pada September 2025 masih terdapat 23,36 juta penduduk miskin, sedangkan pengangguran terbuka pada Februari 2026 mencapai 4,68 persen, dan rata-rata upah buruh hanya Rp3,29 juta per bulan,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).

Menurut Ulung Pribadi, krisis bukan hanya persoalan data, tetapi juga kegagalan empati institusional.

“Elit harus membangun sistem yang mendengarkan warga, memberi ruang kritik, dan menghubungkan evaluasi dengan koreksi kebijakan. Ukuran kepemimpinan bukan ketenangan citra, melainkan kecepatan dalam melindungi kelompok paling rentan terlebih dahulu dalam setiap keputusan publik nasional,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar